Ciptakan Guru Penggerak, Pengajar yang Memiliki Kemampuan di Atas Rata-Rata

0
11

Oleh: Drs. Alpansyah, M.Pd.,Ph.D.
(Pengawas Sekolah Disdikbud Kab. Ogan Ilir)

“Guru penggerak, menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, sebagaimana dikutip Tempo (https://nasional.tempo.co, diunduh 1 Agustus 2020) adalah mereka yang tidak hanya baik di kelas melainkan memiliki hasrat untuk melakukan perubahan di luar kelas. Mereka juga harus memiliki kemauan untuk membimbing dan memimpin guru lain di sekitarnya.”

Kini kita sedang memasuki iklim dunia yang berubah. Perubahan tersebut sering dikenal dengan istilah revolusi industri 4.0 sebagai pembeda dengan perubahan-perubahan pada fase sebelumnya. Revolusi industri 4.0 ditandai dengan sistem cyber-physical. Saat ini industri mulai menyentuh dunia virtual, berbentuk konektivitas manusia, mesin dan data, semua sudah ada di mana-mana. Istilah ini dikenal dengan nama internet of things.

Revolusi Industri 4.0 seolah menemukan momentumnya saat dunia dilanda pandemi berupa Corona Virus atau dikenal dengan Covid-19. Cara-cara konvensional yang mengharuskan orang harus bertemu dan melakukan aktivitas pekerjaan dengan cara berkelompok dalam suatu tempat saat ini tidak mungkin lagi dilakukan. Protokol kesehatan mengharus semua orang menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan dengan sabun. Semua pekerjaan tidak terkecuali bidang pendidikan dan pembelajaran harus dilakukan secara online (moda dalam jaringan) melalui media zoom, google meet, google classroom, discowebex, dan lain-lain. Sampai kapan? Tidak ada yang bisa memprediksi kapan covid-19 akan berakhir. Sampai saat ini—paling tidak pada saat tulisan ini dibuat—belum ditemukan vaksin untuk Covid-19.

Revolusi Industri 4.0 lebih memberikan pencirian pada tools. Seiring dengan pesatnya kemajuan internet of things cara padang terhadap ukuran keberhasilan tidak terkecuali pada dunia pendidikan juga mengalami perubahan karena tuntutan zaman yang begitu cepat berubah. Orientasi pembelajaran yang dilakukan para guru juga mengalami perubahan. Tuntutan kemajuan zaman dalam semua dimensinya mengharuskan guru harus siap untuk menyambutnya. Cara-cara mengajar konvensional dan melaksanakan tugas hanya berorientasi pada aktivitas sekadar “gugur tugas” sudah sudah tidak sesuai lagi. Pembelajaran yang diberikan guru harus betul-betul berorientasi kepada kepentingan peserta didik. Oleh sebab itulah guru harus mendapat peran lebih yaitu tidak hanya baik di kelas melainkan memiliki hasrat untuk melakukan perubahan di luar kelas. Mereka juga harus memiliki kemauan untuk membimbing dan memimpin guru lain di sekitarnya. Ini lah selanjutnya disebut sebagai guru penggerak.

Lalu bagaimana profil guru penggerak itu? Profil guru penggerak harusnya mencerminkan figur yang dapat beradaptasi dengan tuntutan zaman. Oleh sebab itu, profil guru penggerak sebagamana disarikan dari beberapa informasi Kemendikbud dapat diindentifikasi sebagai berikut.

Beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Guru penggerak menyadari sepenuhnya bahwa menjalani profesi guru merupakan panggil hidup. Profesi guru yang ditekuni semata-mata menjadi sarana pengabdian dan penghambaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh sebab itulah, guru penggerak senantiasa mementingkan peserta didik melebihi kepentingannya sendiri. Slogan-slogan tentang profesi guru selama ini sering kita dengar memang sudah mencerminkan profil seorang guru yang menjadi profesinya sebagai panggilan hidup: guru pahlawan tanpa tanda jasa, guru mulia karena berkaya, dan guru bagaikan lilin yang menerangi di tengah kegelapan.

Guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, jangan diartikan bahwa guru dibayar dengan upah yang murah. Guru tenaga profesional, tentu harus dibayar atau tepatnya dihargai sesuai dengan profesionalitasnya oleh pihak lain dalam hal ini pemerintah dan itu sudah dilakukan dengan adanya tunjangan sertifikasi guru yang besarannya satu kali gaji pokok, tetapi guru itu sendiri harus memandang profesi menjadi guru merupakan panggilan hidup sebagai sarana pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga upah yang dia harapkan adalah amal ibadah dari Tuhan Yang Masa Esa. Oleh sebab itu guru senantiasa akan memberikan dampak positif bagi peserta didik dan melaksanakan profesinya dengan keteguhan hati. Inilah salah satu profil yang harus dimiliki guru penggerak.

Berakhlak mulia. Guru penggerak harus memiliki kematangan emosi. Sebagai pemimpin pembelajaran bagi peserta didik, guru penggerak menunjukkan sikap terbuka. Guru juga menjaga kehormatan diri dan profesinya dengan menghindari perbuatan yang merusak nama baiknya. Guru memiliki integritas yaitu satu kata dan perbuatan sehingga menjadi contoh bagi peserta didiknya, serta guru memilki spiritualitas yang diindikasikan pada konsistensi dalam melaksanakan dan menjalan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan yang dianutnya.

Kreatif. Sebagai pemimpin pembelajaran, guru penggerak harus cepat tanggap dalam mengatasi permasalahan yang muncul dalam kegiatan pembelajaran. Secara kreatif guru penggerak dapat mencari solusi dari permasalahan tersebut secara mandiri (tanpa menunggu perintah) dan terus berupaya berbuat yang terbaik untuk kepentingan peserta didik melebih dari yang disyaratkan.

Gotong-royong. Dalam upaya mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik guru penggerak mencari peluang untuk bekerja sama untuk kepentingan bersama. Di dalam kelas ditunjukkan dengan perilaku menumbuhkembangkan sikap saling membantu antarsesama peserta didik, di luar kelas ia aktif mencari peluang untuk dapat bekerja sama dan menjalin kesepakatan dengan pihak-pihak yang dirasa memilki solusi dalam menyelesaikan kepentingan peserta didik. Misalnya, agar pembelajaran sastra yang diampunya lebih menumbuhkan motivasi guru dapat berkolaborasi dengan sastrawan setempat dalam kegiatan lomba baca puisi atau menulis cerpen.

Bernalar kritis. Guru penggerak bukanlah guru yang statis, tetapi guru yang menjadi katalistor bagi sebuah perubahan. Mungkin terlalu muluk untuk mengatakan perubahan sebab perubahan seolah berdimensi luas. Perubahan yang arti sempit adalah perubahan dalam konteks pembelajaran. Guru penggerak harus dapat mengidentifikasi masalah dan peluang dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan untuk kepentingan peserta didik. Guru penggerak terus berupaya memahami informasi dan mengevaluasi alternatif sehingga pada akhirnya dapat membuat sebuah tindakan yang palik efektif. Misalnya saat pembelajaran puisi peserta didik masih belum dapat menulis puisi. Guru harus mengidentifikasi masalahnya. Mungkin metode pembelajaran yang diberikan tidak menarik. Guru penggerak akan mencari berbagai rujukan dan referensi tentang metode pembelajaran puisi, selanjutya ia mengevauasi dari berbagai alternatif metode yang ada lalu memutus sebuah metode yang dianggap efektif untuk mengatasi masalah yang dihadapi peserta didik dalam menulis puisi.

Mandiri. Terhadap upaya untuk memimpin pembelajaran yang berpusat pada peserta didik tentu upaya yang dilakukan adalah upaya yang berkelanjutan. Terus menerus. Guru tetap fokus pada upayanya dalam membantu peserta didik. Tentu saja dalam melaksanakan tugas mulianya pasti mendapatkan saran dan kritik dari pihak lain. Namun demikian, guru penggerak harus tetap fokus dan terus berpikir postif semata-mata untuk kepentingan peserta didiknya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pesatnya perubahan zaman menuntut perubahan pula dalam orientasi pembelajaran yang dilakukan para guru. Cara-cara mengajar konvensional dan melaksanakan tugas hanya berorientasi pada aktivitas sekadar “gugur tugas” sudah sudah tidak sesuai lagi. Guru harus menjadi pemimpin pembelajaran bagi peserta didiknya. Inilah yang selanjutnya disebut dengan guru penggerak. Profil guru penggerak yang dapat beradaptasi dengan tuntutan zaman dapat diidentifikasi sebagai berikut: beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, kreatif, kritis, gotong-royong, dan mandiri. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here