Dialog Lintas Agama Kian Kuatkan Modernisasi Islam

0
21

Oleh: Hj Padliyati Siregar ST

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Muara Enim menggelar dialog lintas agama yang berlangsung di Griya Serasan Sekundang, Rabu (2/6).

Dialog lintas agama diikuti 60 peserta perwakilan dari seluruh agama diakui negara sebagai solusi permasalahan ditengah masyarakat.

“Tujuan ini memberikan edukasi bagaimana bangsa ini yang terdiri dari beragam agama bisa hidup rukun menciptakan persatuan dan kesatuan dan memperkuat persatuan kesatuan di Republik Indonesia,” kata Sarban sebagai Ketua FKUB Muara Enim.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kabankesbangpol) Muara Enim Drs Andi Wijaya, menuturkan dialog lintas agama yang digelar FKUB menjadi wadah untuk mengakomodir aspirasi dan bisa dijadikan untuk mencari solusi terhadap apa yang terjadi di masyarakat.

“Dialog ini sangat tepat terutama untuk mencegah hoaks dan sarana terus menjaga kerukunan umat beragama hingga jangan sampai dipecah belah oleh oknum yang tidak bertanggung jawab,” tuturnya (SUMEKS.CO).

Membaca dari program yang dikembangkan oleh FKUB untuk edukasi di tengah-tengah umat saat ini sekilas tampak bagus, karena bertujuan untuk menciptakan kerukunan antarumat beragama. Tetapi jika ditelusuri lebih lanjut, ada bahaya terselubung di dalamnya yaitu penyebarluasan paham pluralisme.

Karena sesungguhnya yang demikian itu karena sistem demokrasi yang diterapkan di negeri ini telah menjadikan pluralisme sebagai bagian dari pengaturan terhadap kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Pluralisme diklaim dapat menghindarkan berbagai konflik keagamaan dan mewujudkan kerukunan. Tapi nyatanya, alih alih mewujudkan kerukunan, pluralisme dalam bingkai sistem demokrasi ini tak menghasilkan kebaikan apa pun.

Kerukunan beragama hanyalah mimpi dalam sistem demokrasi. Apalagi jika itu berkaitan dengan muslim. Indonesia yang dikenal sebagai negara yang sangat demokratis, tak cukup mampu menangani konflik agama yang melibatkan muslim mayoritas.

Kebanyakan, kasus intoleransi yang menimpa umat Islam menguap begitu saja. Sementara jika menimpa umat lainnya, tanpa banyak investigasi, langsung berbagai cap buruk ditujukan kepada umat Islam, sebagai teroris, radikal, antikeragaman, dll., dan ini terus saja berulang.

Tak jarang pemikiran sesat yang ditawarkan tersebut ”kelihatan” berdalil ataupun rasional, namun ujungnya mengajak untuk mengikuti nilai-nilai kufur. Bentuk makar para pembenci Islam akan semakin beragam.

Oleh karena itu, Barat menjadikan dialog antaragama dan lintas agama sebagai alat untuk memainkan peran katalis dan tren masa depan dalam diplomasi. Tentu sasarannya adalah perubahan Islam sebagai agama ideologis, disandingkan dengan Yahudi dan Nasrani sebagai agama besar yang menyebabkan kemunculan sekularisme dan memainkannya dalam politik dunia sejak penandatanganan Perjanjian Westphalia pada 1648 dan kemunculan negara-negara modern di seluruh dunia.

Namun yakinlah, bahwa makar Allah jauh lebih besar.

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS Al-Anfal [8]: 30).

Terakhir, umat Islam perlu mewaspadai pengarusan pluralisme atas nama apa pun. Pluralisme dalam bingkai sistem demokrasi bukan solusi bagi keragaman dan tak mampu mencegah konflik keagamaan. Terlebih, pluralisme bertentangan dengan Islam dan menjadi alat rezim untuk mendiskreditkan umat islam yang taat pada ajaran agamanya.

Hanya penerapan syariat Islamlah yang telah terbukti mampu menciptakan kerukunan yang hakiki, hingga umat manusia dengan beragam etnis, suku, bangsa, bahasa, dan agama bisa hidup berdampingan secara damai dan harmonis dalam naungan sistem Islam, yaitu Khilafah Islamiyah selama berabad abad lamanya. Tak cukup meyakininya, kita pun harus memperjuangkan tegaknya Khilafah segera. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here