Islam Akhiri Konflik Palestina-Israel

0
7

Oleh: Desi Anggraini (Pendidik Palembang)

Warga Palestina menyambut keruntuhan pemerintahan Benjamin Netanyahu, tetapi meyakini itu tidak akan mengubah nasib mereka. Oposisi Israel telah membentuk koalisi baru untuk pemerintahan baru, yang akan menggulingkan Benjamin Netanyahu dari kekuasaan selama 12 tahun.

“Ini akhir era kelam Netanyahu,” kata Kareem Hassanian (44 tahun), seorang psikolog Palestina yang tinggal di Jalur Gaza, lokasi yang menjadi medan pertempuran Israel dan Hamas, seperti yang dilansir dari The Guardian pada Jumat (4/6/2021).

Namun, di lain sisi ia terpikir, “Dan ini adalah awal dari era kegelapan baru. Koalisi baru tidak akan berbeda dari (pemimpin) yang sebelumnya. Israel masih menduduki Palestina. Kami belum melihat akhir dari pendudukan di tahun mendatang.” Warga Palestina saat ini masih membersihkan kehancuran tanahnya yang diserang bom dalam pertempuran 11 hari melawan Israel.

Warga Palestina yang berada di wilayah yang diduduki Israel tidak memiliki hak dalam pemungutan suara pemilihan umum, meski pemimpin itu nantinya akan menentukan nasib warga Palestina di wilayah yang diduduki Israel tersebut. (Kompas.com, Sabtu,05/06/2021)

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, penyelesaian konflik Palestina-Israel ibarat mengurai benang kusut. Upaya perdamaian Palestina-Israel telah melemah. Kecaman negara-negara Arab ditanggapi Benjamin Netanyahu sebagai keharusan diplomatik regional untuk menghibur.

Negara-negara seperti Mesir dan Qatar dilaporkan berusaha menengahi gencatan senjata minggu ini, tetapi pada dasarnya satu-satunya kekuatan eksternal yang mampu membentuk pemikiran Israel adalah AS. Kini, masyarakat global hanya bisa menunggu AS menyelesaikan konflik.

Harus dipahami, Biden akan menyelesaikan konflik Palestina-Israel tetap dalam batas-batas kebijakan luar negeri dan keamanan AS, dengan mempertimbangkan hubungan diplomatik sebagai sekutu Israel.

Secara teknis, Biden telah mengeluarkan panduan strategi keamanan nasional AS 2021, bahwa AS akan menjaga komitmen kuat terhadap keamanan Israel, sambil berusaha untuk melanjutkan integrasinya dengan tetangganya dan melanjutkan peran AS sebagai promotor solusi dua negara yang layak.

Maka bisa diprediksi, AS akan membawa Palestina dan Israel ke meja perundingan, menekankan gencatan senjata, atau bahkan memulai pembicaraan kuat solusi dua negara. Namun, gencatan senjata maupun solusi dua negara sebenarnya tidak benar-benar menyelesaikan konflik. AS maupun Israel akan tarik ulur agar tujuan politik masing-masing tetap terjaga.

Solusi dua negara yang diaruskan baik PBB dan AS memang populer. Namun, warga Israel maupun rakyat Palestina merasa skeptis. Rand Corporation mengeluarkan hasil penelitian berjudul Alternatives in Israeli-Palestinian Conflict yang menyebutkan bahwa meski solusi dua negara adalah alternatif yang paling memungkinkan secara politis, tapi keempat populasi (Yahudi Israel, Orang Arab Israel, Warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat) menyuarakan skeptis terhadap alternatif ini.

Narasi solusi dua negara ternyata hanya kuat di tataran pemerintahan global. Lantas, mengapa solusi tersebut yang dipromosikan bahkan menjadi satu-satunya solusi yang ditawarkan?

Tentu saja, itu untuk kepentingan AS maupun Israel. Solusi dua negara adalah solusi realistis yang bisa menyenangkan Israel maupun negara-negara Arab mitra AS. Penyelesaian konflik Palestina-Israel akan menjadi putaran yang melelahkan di sekitar kepentingan AS dan Israel, menyisakan akar persoalan konflik, yang membuat rakyat Palestina menderita tiada akhir.

Nyatalah, organisasi dan komunitas internasional telah gagal menyelesaikan konflik panjang Palestina-Israel. Ini berarti dunia tidak berdaya untuk menghapuskan penjajahan manusia atas manusia. Rakyat Palestina harus berjuang sendirian di tengah serangan mematikan tentara Israel.

Palestina sesungguhnya adalah milik kaum muslimin. Namun, dalam perjalanan sejarah yang panjang dan dukungan berbagai perjanjian, Barat membantu Yahudi untuk menguasai Palestina dan mengusir penduduk Palestina hingga kini.

Berbagai solusi tawaran Barat untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel bukanlah solusi hakiki yang mampu mengembalikan Palestina ke dalam pangkuan kaum muslimin. Pembebasan tanah Palestina jelas tak mungkin bergantung pada Barat, yang sudah pasti berpihak pada Israel. Begitu juga, tidak mungkin berharap pada negeri Islam yang tunduk pada kepentingan Barat.

Satu hal yang pasti, untuk membebaskan tanah mulia ini tentu dibutuhkan kekuatan militer yang hebat yang mampu mengalahkan tentara Israel dan sekutunya. Tentu saja, kekuatan militer itu harus datang dari luar Palestina.

Namun, berharap pada negeri muslim sekarang ibarat menggantungkan harapan kosong. Satu-satunya negara yang mampu menghadirkan kekuatan militer adalah Khilafah Islamiah. Ikatan akidah Islam akan mempertemukan cita-cita kaum muslimin di Palestina dan semangat jihad tentara kaum muslimin dari Khilafah, dalam satu perjuangan mulia membebaskan tanah yang diberkati ini dari penjajahan Barat.

Hanya Khilafah Islamiahlah yang pantas menjadi harapan untuk mengakhiri konflik tiada akhir Palestina-Israel, melindungi kemuliaan rakyat Palestina, serta menghadirkan kesejahteraan dan keamanan.Wallaahu a’lam bi ash shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here