JKDN Mengungkap Fakta Sejarah Islam

0
8

Oleh: Hj. Nilawati Wahab

Pada tanggal satu Muharram lalu film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN) menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat, hingga terjadi pro dan kontra baik dari warganet maupun dari kalangan sejarawan itu sendiri.
Film ini fokus menyusuri jejak keberadaan kepemimpinan umum bagi kaum muslimin di nusantara, untuk membersihkan debu-debu keraguan selama ini tentang awal masuknya Islam di negeri khatulistiwa.

JKDN ini mengangkat tema sejarah keislaman di nusantara serta hubungan antara kekhilafahan Islam yang ada di Timur Tengah dengan kawasan nusantara, mulai dari nisan makam para sultan hingga hubungan antara Samudera Pasai di Sumatera dengan kekhilafahan di Timur Tengah. Dengan didasarkan pada sebuah riset ilmiah yang cukup panjang.

Adanya jejak Khilafah di nusantara antara lain terungkap dalam sambutan Sri Sultan Hamengkubuwono X pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VI 9 Februari 2015 di Jogjakarta. Bahwasannya Raden Fatah dikukuhkan oleh utusan Sultan Turki sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawi (Perwakilan Khilafah Turki di Tanah Jawa).
Disertasi Dr. Kasori di UIN Sunan Kalijaga yang berjudul Di Bawah Panji Estergon: Hubungan Kekhalifahan Turki Utsmani dengan kesultanan Demak Pada Abad XV-XVI M.
Makin menguatkan pernyataan Sri Sultan HB X tersebut. Dalam penelitiannya Kasori antara lain menyatakan, para raja atau sultan di Demak memerlukan gelar sultan X I dari Turki untuk menguatkan kedudukannya.

Adanya hubungan Khilafah dengan Nusantara, khususnya kesultanan-kesultanan Islam di nusantara, juga ditegaskan sejarawan UIN Bandung, Drs. Moeflich Hasbullah MA. Ia mengatakan bahwa Khilafah pada saat itu adalah negeri adidaya yang sangat besar. Jadi sangat logis jika nusantara mempunyai hubungan dengan Khilafah (Mediaumat.news, 24/8/20).

Pengaruh Khilafah Turki Utsmani juga telah diungkap Ermy Azziaty Rozali dalam disertasinya di Universitas Malaya Malaysia dan diterbitkan dengan judul Turki Uthmaniah: Persepsi dan Pengaruh Dalam Masyarakat Melayu 2016 (Hidayatullah.com, 23/8/20).

Berdasarkan data data di atas, sangat jelas keberadaan Khilafah Islam adalah bukti sejarah yang tak bisa dibantah. Khilafah Islam pernah eksis selama lebih kurang dari 13 abad menguasai 2/3 wilayah dunia. Jejak Khilafah tersebut begitu jelas dalam lintasan sejarah didunia termasuk di nusantara.

Walaupun demikian, fakta sejarah Khilafah bukanlah dalil atas kewajiban menegakkan kembali Khilafah. Fakta sejarah Khilafah hanya mengungkap satu hal yaitu bahwa menegakkan kembali khilafah adalah sebagai suatu kewajiban.

Sejak Khulafaur Rasyidin, Khilafah Umayah, Khilafah Abbasiyah hingga Khilafah Utsmaniyah yang diruntuhkan oleh Mustafa Kemal Attaturk, seorang keturunan Yahudi pada tahun 1924 yang didukung penuh oleh Inggris sebagai negara penjajah nomor satu saat itu, Inggris tentu berkepentingan besar untuk meruntuhkan Khilafah Turki Utsmani yang dipandang salah satu penghalang bagi ambisi imperialisme di dunia Islam .

JKDN membuka mata umat Islam yang tak kenal sejarah Islam, yang sengaja dikaburkan oleh para pembenci Islam. Mereka menganggap bahwa keberadaan khilafah merupakan sebuah ancaman bagi negara. Padahal justru khilafah akan membawa kesejahteraan bagi seluruh umat didunia. Terbukti khilafah pernah berdiri selama beberapa abad lamanya.
JKDN ini juga turut membangun kesadaran umat, bahwa hanya dgn membela keyakinan mereka kepada Allah SWT sajalah yang menjadikan hidup lebih bermakna di bawah naungan sistem Islam yaitu khilafah.

Karena itulah semua ulama kaum Muslim sepanjang zaman sepakat, bahwa adanya Khilafah adalah wajib. Kewajiban ini antara lain berdasarkan dalil Alquran, Sunah, dan Ijmak Sahabat. Khilafah adalah ajaran Islam, Khilafah adalah Daulah Islam tentang kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here