Menelaah Paham Radikal

0
6

Oleh : Lindawati (Aktivis Komunitas Muslimah Peduli Generasi)

Menteri Agama Fachrul Razi mengungkap cara penyebaran paham radikalisme di lingkungan Kementerian dan BUMN. Fachrul menuturkan, salah satu polanya melalui orang berpenampilan menarik. Beradaptasi hingga menjadi pengurus masjid.

“Cara masuk mereka gampang, pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan bahasa Arab bagus, hafiz, mulai masuk, ikut-ikut jadi imam, lama-orang orang situ bersimpati, diangkat jadi pengurus masjid. Kemudian mulai masuk temannya dan lain sebagainya, mulai masuk ide-ide yang tadi kita takutkan,” kata Fachrul dilihat dari YouTube Kemen PAN-RB, Jumat (4/9).
“Sehingga memang kami, dan saya kira kami sepakat dengan Bapak Menteri juga untuk mewaspadai sekali, bahwa semua rumah-rumah ibadah di institusi pemerintah, pengurusnya harus pegawai tidak boleh ada masyarakat yang ikut jadi pengurus,” katanya.

Fachrul menyebut, banyak tempat yang harus diwaspadai untuk mencegah terpapar paham radikal. Dia minta di lingkungan ASN menyeleksi dengan baik saat seseorang mendaftar menjadi abdi negara.

Pernyataan kontroversial Menag tersebut sontak mendapat tanggapan dari berbagai pihak. Wakil Ketua Partai Gelora, Fahri Hamzah menuliskan sindirannya tentang Menteri Agama Fachrul Razi yang menyatakan radikalisme anak good looking. Usai pernyataan kontroversial Menag itu, Fahri terpantau seharian menyentil soal istilah ‘good looking’ yang ia tulis sebagai tagar cuitannya per hari Jumat (4/9/2020).

Menteri Agama ini pernyataan-pernyataannya sering menimbulkan kecurigaan, salah paham, perselisihan atau malah Islamophobia. Sebaiknya menteri ini diganti saja Pak @jokowi,” cuit Fadli Zon (4/9/2020).

Hal senada juga datang dari Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Tengku Zulkarnain. Dia mengejar bukti adanya orang yang hafidz Alquran dan radikal. Tengku Zul meminta ditunjukkan sudah ada berapa Hafizh Alquran yang radikal, apalagi jadi teroris…?

Menurutnya bicara sebagai pejabat harus pakai data. Dan bandingkan dengan berapa banyak manusia yang tidak mendalami agama jadi penjual diri, rampok, maling, koruptor, homo, pengkhianat bangsa, penjual negara…?” kata Tengku melalui akun Twitter.

Tengku mengangkat contoh kasus pesta seks yang dilakukan kaum gay di sebuah apartamen Jakarta yang digerebek polisi baru-baru ini, juga koruptor yang kabur ke luar negeri. Dia yakin sekali, di antara mereka tak ada satupun yang Hafidz Alquran atau menjadi imam masjid (suara.com, 4/9/2020

Mata setiap manusia akan memandang segala sesuatu yang cantik-cantik dan indah-indah. Begitu pun memandang pada manusia, jika di antara kerumunan manusia ada beragam rupa maka mata manusia pasti lebih senang memandang yang rupawan dan cendayam ketimbang yang buruk rupa dan tak menawan. Setiap manusia akan menilai manusia lainnya pertama kali adalah rupanya, fisiknya. Dan kebanyakan manusia memang silau dengan penampakan luar,sesuatu hal sering terjadi.

Good Looking sebuah tampilan awal dalam berinteraksi di saat orang-orang ingin apa yang akan disampaikan menarik bahkan apa yang didagangkan. Terutama saat manusia menginginkan sesuatu pada manusia lainnya, apakah itu ketika berinteraksi bisnis, interaksi belajar mengajar, bergaul di komunitas bahkan berdakwah. Itulah kenapa di dunia Kapitalisme ketika hendak merekrut pekerja yang hendakmelariskan produk-produknya bisa dipastikan ketampanan dan kecantikan adalah nomor satu.

Tentang fisik, apakah itu cantik atau tampan sejatinya qadha dari Allah swt, siapapun tidak bisa merubahnya, namun soal merawat fisik, menjaga kesehatan, kebersihan, kerapihan rambut, pakaian yang bersih dll, sesuatu yang sangat menentukan seseorang tampak good looking. Tapi pada tahapan goodlooking seperti ini bisa dimiliki oleh orang yang taat dan juga orang yang bermaksiat.

Maka ketika Bapak menteri mengatakan para dai yang hafidz itu adalah goodlooking dan menstigmanisasi para penghafal Alquran sebagai radikalisme maka good looking juga bisa terjadi di komunitas LGBT, narkoba, seks bebas dll. Salahnya Pak menteri terhadap remaja yang pacaran yang kebablasan tidak dijadikan persoalan, tapi kepada para hafidz sangat sentimen, seakan-akan para hafidz itu hendak menghancurkan seluruh negeri.

Stigmanisasi merupakan pola rezim untuk memecah-belah umat untuk menakut nakuti. Pola ini setelah mereka gagal dg isu terorisme maka diambillah isu radikalisme yg bisa membuat umat takut. Tidak ada cara lain selain kita semakin gencar menyerang polarisasi yang dibuat rezim saat ini.

Sebagai muslimah kepada siapa pun kita harus menjelaskan di balik stigmanisasi kepada para hafidz dan para anak yang memperjuangkan khilafah. Lisan-lisan2 kita harus terus berkicau mendudukkan perkara yang sebenarnya. Jari-jemari kita harus terus bergerak membasmi racun-racun yang terus dipaksakan untuk dimakan oleh umat termasuk mungkin orang tua kita.

Kepada umat kita harus menjadi penta’bir yang benar untuk mengungkapka kebenaran ajaran Islam dan menyentuh akidah umat agar mereka mau menerima Islam kaffah dan menyadari upaya kebencian para penguasa terhadap tegaknya syariah dan khilafah.

Dengan gencarnya dakwah kita maka ayah bunda kita, keluarga kita semakin terang benderang antara yang haq dan yang batil dan akan ikut berjuang bersama berada di barisan yang sama untuk menjadi orang2 yg tidak biasa berhadapan dengan kezaliman.

Good Looking dalam level ini bagaimanapun sangat diperlukan termasuk dalam pendidikan. Setiap orang tua harus memastikan dirinya bahwa anak-anaknya terurus, rapih, tidak jorok dan berantakan. Selalu memakai pakaian yang bersih dan kelihatan sedap dipandang mata, dan tidak bosan orang-orang memandangnya, kelihatan keren abis. Ini nggak saya banget, tapi sedang berusaha.

Tapi ada good looking level berikutnya tidak hanya tampilan rupa dan fisik tapi lebih dari itu memiliki keilmuan dan kecerdasan serta skill yang membedakannya dengan anak-anak rupawan lainnya. Dialah anak penghafal Alquran, anak-anak penghafal hadist, anak-anak yang memiliki skill yang bermanfaat untuk umat. Tentu tidaklah sama dengan anak-anak goodlooking yang ahli maksiat.

Anak-anak penghafal Alquran maupun hadist di wajahnya akan diberikan cahaya oleh Allah swt di dunia dan di akhiratpun mereka dimuliakan. Walau mereka tak tampan dan geulis fisiknya jika penghafal Alquran tetap ganteng dan cantik bersinar.

Imam at-Tirmidzi dan selain beliau meriwayatkan sebuah hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا…

“Semoga Allah memberikan nudhrah (cahaya di wajah) kepada orang yang mendengarkan sabdaku lalu ia memahaminya, menghafalnya, dan menyampaikan-nya……”

Sungguh ayah bunda akan melihat wajah-wajah para penghafal Alquran dan hadist adalah wajah-wajah teduh bercahaya. Anak-anak seperti inilah yang kita inginkan. Walau dicap radikalis pilihan kita untuk memperoleh anak-anak penghafal adalah harga mati.

Good looking versi Allah dan RasulNya yang hendak kita raih. Tidak harus cantik tidak harus ganteng terlihat fisik, bagi kita yang cantik dan ganteng itu yang cinta Allah dan Rasul-Nya, cinta Alquran dan Hadist Rasulullah SAW.

Lebih dari itu para penghafal Alquran dan Hadist akan menyampaikan kembali apa yang dia hafal dan akan memperjuangkan segala hukum-hukum Allah yang dia hafal, mengemban misi dakwah tegaknya syariah dan khilafah. Maka akan semakin tampak good looking. ***

Wallaahu a’lam bishshowab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here