Penghinaan Terhadap Islam Buah Sistem Demokrasi

0
8

Oleh : Anggi

Kembali terjadi aksi pelecehan terhadap Al Quran dengan pembakaran, perobekan, peludahan serta ujaran-ujaran kebencian terhadap Islam. Aksi ini dipelopori oleh seorang politikus rasis, pemimpin garis keras anti imigran islam Denmark, Rasmus Paludan, Dikutip dari BBC, (29/8/2020) aksi serupa sudah beberapa kali ia lakukan, dan hanya dijatuhi hukuman percobaan. Tak pelak, aksi ini memicu demonstrasi disertai kekerasan di wilayah Malmo, Swedia. Aksi Radikal ini juga menuai kecamatan dari negeri-negeri muslim. Salah satunya Turki.

Dilansir dari kantor berita Turki, Anadolu Agency, senin (31/8/2020), pemerintah Turki menilai aksi tersebut tidak menghormati kitab suci muslim, Al Quran. Dalam sebuah pernyataan, Kementrian Luar Negeri Turki menyatakan mereka mengharapkan tindakan seperti ini dapat dicegah.

Mengapa Hal Tersebut Terjadi di Negara yang berdemokrasi ?
Ironis memang, barat sebagai pengekspor Demokrasi, persamaan hak, HAM dan kebebasan justru ibaratnya memiliki dua mata pisau yang saling bertolak belakang. Di satu sisi slogan-slogan kebebasan tersebut hanya berlaku untuk mereka saja, namun tidak bagi Islam dan kaum muslimin.

Mereka mengekspor pemikiran dan slogan-slogan mereka ke negeri-negeri muslim, mencangkokkannya ke benak kaum muslimin untuk diterapkan, sehingga kaum muslimin terlena dengan racun yang mematikan secara perlahan. Kita lihat saat ini, kelurahan dan keterpurukan yang terjadi pada umat Islam akibat meninggalkan ajarannya
ومن أعرض عن ذكرى فإن له معيشة ضحكت ونخره يوم ٱلقيمة أعمى
“Barang siapa yang berpaling dari peringatanKu (Al Quran) maka baginya rezeki yang sempit. Dan di hari kiamat dia akan didatangkan dalam keadaan buta”. [Q.S. Thaha :124]

Tak luput muslim minoritas pun mendapat diskriminasi dan kekerasan dari penguasa otoritas. Seperti yang dikutip dari La Pari sien, L’Obs Rupanya, Times of Israel, sangat jelas yang dikatakan Presiden Prancis, Emmanuel Macron bahwa di Prancis ada kebebasan untuk menghujat siapa saja.

Karena hal tersebut terikat hati nurani dan penguasa adalah pelindung kebebasan tersebut. Hipokritnya, jika berkaitan dengan mengkritisi zionis Israel atau menolak eksistensi zionis sebagai sebuah negara, maka pemerintah setempat akan mencapnya sebagai antisemitisme, rasisme dan sebagai ujaran kebencian yang memecah belah.

Bayangkan saja, betapa menjijikkan pernyataan ini. Mereka pandai memutarbalikkan fakta, padahal selama ini Islam dan kaum muslimin lah yang teraniaya.

Antisemitisme sendiri adalah paham yang menolak keberadaan bangsa semit. berasal dari kata semit yang menunjukkan (semit) adalah keturunan Syam bin Nuh yang menempati kawasan Jazirah Arab termasuk Suriah, Lebanon, Palestina dan Afrika Utara. Antisemitisme juga adalah usungan Nazisme dari Adolf Hitler, yang menyebabkan pemusnahan terhadap kaum Yahudi di Eropa. Tapi yang mengherankan kenapa kaum muslimin yang menjadi pihak tertuduh.

Jika mereka benar-benar menjunjung tinggi kebebasan dalam Demokrasi, apakah mereka bersuara tentang keadilan yang hilang di tanah Palestina? Lalu, apa kabar para pemimpin negeri-negeri muslim? Apa yang sudah mereka lakukan untuk membebaskan saudara-saudaranya yang tertindas?

Ataukah mereka telah menjadi pengkhianat dengan nyata bergandengan tangan dengan zionis laknatullah dalam Perjanjian normalisasi antara zionis dan Uni Emirat Arab (UEA) yang sejatinya hal tersebut telah berlangsung lama.

Kembali ke topik awal, setelah melihat serangkaian peristiwa penghinaan dan pelecehan terhadap Islam serta kezoliman yang menimpa kaum muslimin di berbagai belahan dunia, apakah kita masih bisa berpikir bahwa Demokrasi mampu menjamin kebebasan dan keadilan khususnya bagi kaum muslimin?

Hal ini sangat jelas mengindikasikan bahwa Demokrasi hanya alat penjajahan gaya baru barat untuk mencengkeram negeri-negeri muslim agar mereka leluasa merampok potensj alamnya serta membelokkan arah pandang kaum muslimin terhadap ajarannya. Seperti firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
ولن ترضى عنك ٱليهود وال ٱلنصرى حتى تتبع ملتهم
“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu(Muhammad) sebelum Engkau mengikuti agama mereka,.. [Q.S al-Baqarah :120]

قد برت ٱلبغضآء من أفواههم وما تخف صورهم أكبر ..
“..Mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu.
Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat,.. [Q.S ali-Imron :118]

Bagaimana Kebebasan dalam Islam Serta Sanksi Pelanggaran Hukum

Secara umum Islam adalah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassallam untuk mengatur hubungan manusia dengan Khaliq nya, manusia dengan dirinya, dan manusia dengan sesamanya. Islam juga memiliki batasan-batasan yang jelas sebagai pemisah dari agama lainnya yang tidak diturunkn Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dengan sangat detil Islam mengatur segala urusan manusia, dari perkara yang dianggap sepele sampai pengurusan negara.

Dalam hal kebebasan, Islam telah menjamin sejak manusia lahir ia terbebas dari dosa. Islam juga diturunkan untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada makhluk menuju penghambaan kepada Allah semata dengan menyembah dan menerapkan seluruh aturan-Nya.
Islam menjaga akal agar selalu sesuai dengan fitrahnya manusia. Melenyapkan segala praktik menyimpang dari penghambaan yang benar. Sanksi islam juga tegas terhadap pelanggar hukum dan para Penista. Sanksi ini berlaku untuk semua warga baik muslim maupun kafir mu’ahid.
“Barangsiapa yang membunuh seorang (kafir) mu’ahid tanpa haq, maka ia tidak akan mencium wangi surga. Dan wangi surga itu dapat tercium sejauh perjalanan lima ratus tahun” , [Musnad Ahmad]. Aturan ini hanya bisa ditegakkan dalam sebuah institusi khas islam yaitu Khilafah, yang akan menerapkan seluruh aturan islam. Dimana Khalifah lah yang akan me legislasi hukum-hukum dari kitabullah dan sunnah dan sebagai perisai yang akan melindungi seluruh kaum muslimin. Seperti
yang pernah dikisahkan ada seorang muslimah dari bani Hasyim yang dilecehkan orang-orang Romawi. Yang kemudian Khalifah al- Mu’tashim Billah menjawab seruan muslimah tersebut dengan mendatangkan pasukan yang mengepung kota Amuria(Turki, sekarang) pada tahun 883 M.

Dimanakah kini sosok seorang Khalifah yang akan melindungi kaum muslimin? Semenjak
keruntuhannya hampir seratus tahun lalu, sejak itulah kaum muslimin di berbagai belahan dunia terlantar, bak hewan yang sedang meregang nyawa. Para pemimpin negeri-negeri muslim kini seolah hanya menjadi macan yang mampu mengaum tapi tak bisa menerkam kecuali untuk sekerat daging kekuasaan. Ia tak sadar bahkan tak tahu bahwa kehormatan dan kemuliaannya telah dirampas. Wahai singa singa Allah ! Kembalilah dan jemputlah kemuliaan mu! , bangkit dan teruslah berjuang untuk menegakkan agama ini. ***
Wallahu alam bishawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here