Site icon

Si Melon Langka, Rakyat Sengsara

WhatsApp Image 2020-10-01 at 19.15.42

Oleh: Analisa (Muslimah Peduli Generasi)

Tiada angin tiada hujan si melon favorit emak kian langka. Yang mana keberadaanya sangat dibutuhkan demi kelangsungan dalam memenuhi tuntutan kehidupan. Di zaman modern saat ini si melon bak menjadi rebutan, karena semua telah beralih pada penggunaan bio gas yang praktis dan mudah digunakan, namun walaupun harganya yang setiap waktu naik secara signifikan mahal, tetapi tetap menjadi incaran. Karena merupakan satu-satunya kebutuhan yang wajib ada di dapur para emak kolonial bahkan emak milenial.

Rasanya memang sudah tidak asing lagi bahkan menjadi hal biasa ketika suatu kelangkaan terjadi di era sekarang ini. Pasalnya pengelolaan tatanan penjualan dan pelayanan publik semakin kacau, belum lagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab menimbun barang, apabila stok menipis dan berkurang mereka menjual dengan harga yang mahal, dan ditambah abainya peran negara.

Jelas, semua telah tahu bahwa negara kita memiliki kekayaan yang berlimpah ruah, dari Sabang sampai Merauke. Bumi nusantara menyimpan segala kebutuhan manusia di negeri kita. Lautnya yang luas terbentang dengan banyaknya jenis ikan yang banyak, daratan yang dipenuhi dengan beraneka ragam tumbuhan sayur-mayur, buah dan rempah, dan bumi menyimpan mas, perak, nikel, tembaga, gas, dan sebagainya. Semua telah disediakan oleh Sang Pencipta.

Namun semua sirna, aset kekayaan negeri kita dirampas diangkut oleh penjajah berkedok investasi. Penguasa dan pengusaha berjabat tangan di bawah derita rakyat yang memilukan. Akibat dari buah kapitalis yang diterapkan di negeri ini, keberpihakan tidak lagi pada rakyat namun hanya pada keuntungan dan maslahat orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Kapitalis liberal telah menyengsarakan sampai keakar akarnya, tiadanya solusi permasalahan secara andal bahkan penyelesaiannya pun digantung tanpa kesudahan, dengan terus membiarkan rakyat dirundung sengsara yang tak kunjung selesai.

Karena sistem ini telah menjadikan orang-orang di dalamnya menjadi budak kepuasan duniawi semata. Memisahkan agama dari kehidupan, melemahkan keimanan, mengikis ketakwaan. Sehingga berangsur dengan terus menurus melepaskan hakikat kehidupan dalam agama Islam.

Watak jahat kapitalis semakin tampak kepermukaan dengan penampilan wajah zhalim yang selalu penuh pencitraan. Asas manfaat keuntungan dan kerugian selalu diprioritaskan tanpa sadar rakyat jadi tumbal keganasanan taring kapitalis liberal.

Nyatanya, kita telah melihat saat ini sungguh telah jauh dari rasa sejahtera, aman bahkan sentosa, semua hanya mimpi semu apabila kita tetap bertahan pada keadaan yang mencekam. Selalu dirundung dengan kecemasan dan ketakutan yang tidak pernah usai.

Saatnya kita beralih kepada sistem yang menerapkan aturan Ilahi yang benar. Al Quran dan As Sunnah menjadi rujukan terdepan, hawa nafsu dunia dapat tertahan karena aturan sangat praktis dan komplit yang diterapkan.

Dalam Islam penanganan ekonomi dalam hal jual beli harus diutamakan, dalam jalan Syara’ dan koridor Islam yang diterapkan.
1. Penjual harus berlaku jujur bahkan dilarang untuk menimbun bahkan menjual dengan harga yang mahal.
2. Negara harus tetap hadir dalam pengawasan ekonomi di pasaran dengan terus memantau melalui para Wali dan Qodhi di suatu tempat dan wilayah di dalam naungan daulah.
3. Ketika terjadi penyelewengan dari koridor syara’ langsung ditindak tegas dan uqubat siap dilaksanakan dengan meninjau terdahulu penyebab dan kesalahan.
4. Dorongan ketakwaan dan keimanan selalu dihadirkan dengan dengan terus berada dalam koridor syara’ yang tertancap dengan kuat, melalui pemahaman aqidah dan uqdatul kubro yang terus diberikan.

Sehingga wajar, tiadanya kecurangan apalagi kerusakan dalam roda ekonomi Islam. Karena Khalifah sangat bertanggung jawab dan rakyatnya pun patuh dan turut dalam aturan.

Islam tidaklah seperti itu halnya sistem manapun di dunia ini apabila dalam menyelesaikan persoalan. Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna dalam penyelesaian masalah, semua teratasi dengan baik dan benar. Rakyat tidak menjadi korban keganasan kepuasan kekuasaan. Diprioritaskan dan diutamakan agar sejahtera dalam naungan.

Saatnya kita membuka pemikiran kita yang telah bercokol berkarat akibat pemahaman penjajahan yang ditinggalkannya. Kita beralih kembali kepada Sistem yang diatur oleh Allah SWT melalui suatu peradaban gemilang dalam naungan Khilafah Islamiyyah yang telah Allah janjikan. ***

Wallahu a’lam bishowabb

Exit mobile version