Oleh : Ummu Tiara
Covid-19 atau yang lebih dikenal dengan Virus Corona saat ini telah menjadi ancaman global dan sudah cukup terlambat untuk diantisipasi karena penyebarannya yang sudah semakin masif. Bertambahnya orang yang terjangkit Covid-19 setiap harinya, sudah tentu membuat sebagian besar orang merasa cemas dan gelisah. Bagaimana tidak, di tengah kasus virus yang belum menunjukkan tanda-tanda penurunan ini, saat jelang tahun baru 2021 kemarin, dunia kembali dikejutkan dengan adanya temuan varian baru Virus Corona. Varian baru ini pertama kali dilaporkan di Inggris dan disebut 70 persen lebih mudah menular. Bahkan telah menyebar dengan cepat ke berbagai negara. Jenis varian baru Corona ini dinamakan VUI-202012/01 karena varian pertama yang diselidiki pada bulan Desember (detik.com,31/12/2020).
Di samping itu, seorang ahli Covid-19 dari WHO, telah memperingatkan bahwa varian baru virus yang muncul di Inggris itu, tampaknya mudah ditularkan di antara anak muda. Peringatan ini muncul disertai kekhawatiran pembukaan kembali sekolah-sekolah pada Januari tahun ini. Yang karenanya, penyebaran varian baru ini mungkin dapat dicegah mulai dari aspek ini (sindonews.com, 23/12/2020).
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, Pandemi Covid-19 tidak akan menjadi pandemi terakhir. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, sejarah telah memberitahu manusia bahwa Covid-19 bukan pandemi terakhir dan epidemi adalah fakta kehidupan. Pandemi telah menyoroti hubungan erat antara kesehatan manusia, hewan dan planet. Ia pun mengatakan ,sudah waktunya belajar dari pandemi Covid-19. (sindonews.com, 27/12/2020).
Kegagalan Sistem Sekuler
Saat ini umat sudah mulai merasakan bahwa kesejahteraan dalam kepemimpinan demokrasi cuma mimpi. Manfaat justru yang dijadikan sebagai alasan utama, sehingga setiap kebijakan yang dilkeluarkan penguasa lebih banyak didasarkan pada manfaat bukan pada ketentuan syara. Sistem demokrasi yang diterapkan di negeri ini masih jauh dari harapan. Bahkan anggaran negara saat ini banyak disalahgunakan untuk membiayai kegiatan partai politik.
Dari sini kita dapat menilai bahwa pemerintah tampak masih belum memiliki peta jalan yang jelas dan tegas dalam penanganan Covid-19. Nyawa rakyat dan kesehatan ibarat perkara nomor dua, ketika di tengah pandemi pemerintah lebih menomorsatukan sektor ekonomi.
Varian baru muncul karena tidak segera ada karantina virus penyebaran. WHO adalah pengakuan kegagalan sistem sekuler menghentikan sebaran virus.
Kembali pada Sistem Islam
Islam adalah agama yang menjunjung tinggi keselamatan sesama manusia dan social distancing adalah pilihan yang tepat bagi kita dalam mengahadapi masa pandemi ini.
Pandemi seperti ini bukanlah hal yang baru lagi. Di zaman Rasulullah SAW, pernah juga terjadi pandemi seperti sekarang ini. Penanganan pandemi di negeri ini sejatinya harus dikoreksi total. Urgen untuk adanya transformasi layanan pandemi. Inilah sebabnya negeri kita memerlukan sistem baru yang sesuai fitrah penciptaan manusia, termasuk dalam hal penanganan pandemi. Agar penanganannya pasti tepat sasaran, tak mudah ditarik ulur.
Salah satu perintah Rasulullah SAW dalam sabdanya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).
Rasulullah SAW juga memerintahkan para penguasa untuk mengurusi urusan rakyatnya. “Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad).
Dan tentu saja, para penguasa diharapkan tidak mengambil kebijakan secara coba-coba tanpa terkonfirmasi pasti penanganan pandemi memang benar-benar telah tuntas.
Sudah saatnya kaum muslimin dan manusia seluruhnya beralih pada satu-satunya sistem alternatif untuk mengelola kehidupan ini, agar senantiasa sesuai fitrah. Itulah Khilafah, sistem pemerintahan yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunah, yaitu syari’ah Islam. Sudah tiba masa syariat Allah disambut untuk diterapkan. Syariat Islam hanya bisa diformalkan melalui tegaknya Khilafah Islamiah. Bukan dengan sistem yang lain, alih-alih demokrasi. ***
Wallahu ‘alam bishowwab.

