Site icon

Akankah Utang Riba Menyelamatkan Negara?

WhatsApp Image 2021-08-09 at 07.00.38

Oleh : Ummu Umar

Rektor Universitas Paramadina Didik Rachbini mengatakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memiliki masalah berat di masa pandemi ini. Ia menduga APBN dapat memicu krisis ekonomi.

“Kalau dulu lewat nilai tukar, sekarang lewat APBN. Karena APBN-nya sangat berat,” ujar Didik dalam webinar, Ahad, 1 Agustus 2021.

Setidaknya ada lima faktor di dalam APBN yang berpotensi menyebabkan krisis di kemudian hari. Faktor tersebut antara lain adalah proses politik APBN yang sakit dan bias, dan defisit primer yang semakin melebar dan tidak terkendali.

Selain itu, rasio pembayaran utang terhadap pendapatan yang naik di era Presiden Joko Widodo. Persoalan lainnya adalah dana yang mengendap dan bocor di daerah, serta pembiayaan PMN dan BMN sakit yang berpotensi menjadi masalah di masa depan.

“Saya beri judul faktor kritis APBN di masa pandemi yang berpotensi menyebabkan krisis. Pertama ada krisis pandemi. Di APBN sendiri menanggung krisis. Ini berat. Mestinya APBN dijaga, krisis disembuhkan dari institusi yang tidak krisis,” ujar Didik.

Didik mengibaratkan situasi saat ini seperti ember bocor. Pasalnya, pemerintah mau memperbaiki ekonomi dan berbagai persoalan lebih awal, padahal masalah Covid-19 saja belum diselesaikan. Imbasnya, upaya pemerintah memiliki dampak terbatas, TEMPO.CO.

APBN adalah hal yang sangat penting dimiliki oleh sebuah negara. Sumber APBN pun sangat berpengaruh terhadap kekuatan ekonomi dan politik suatu negara. Seperti halnya Indonesia yang menganut ideologi kapitalisme sekuler Demokrasi telah dikendalikan oleh AS sang adidadaya ideologi kapitalisme. Sehingga setiap kebijakan ekonomi dan politik indonesia selalu diintervensi AS. Dan menyebabkan hutang Indonesia semakin bertambah. Inilah persoalan yang aneh, secara akal sehat, orang yang berhutang pasti ingin hutangnya lunas bukan?

Namun di dalam prinsip ekonomi kapitalisme yang tegak berdasarkan ribawi, hutang Indonesia tidak akan lunas, karena hutang adalah salah satu cara atau metode ideologi kapitalisme Demokrasi untuk menjajah sekaligus mengintervensi semua kebijakan negara jajahannya.

Hal ini tidak disadari pemerintah sebagai sebuah upaya penjajahan dan intervensi. Tapi justru dianggap sebagai solusi untuk menyelamatkan APBN. Inilah mindset berpikir yang diinginkan oleh para penjajah. Yaitu aqidah sekularisme yang menjadi mindset berpikir bagi seorang muslim.

Islam mempunyai aqidah yang mampu membentuk pemikiran yang benar, sesuai fitrah manusia, mampu memuaskan akal dan menentramkan jiwa. Saat ini riba menjadi solusi bagi siapa saja yang ingin keluar dari persoalan ekonomi, bahkan ditawarkan sebagai solusi hidup dan menjadi bisnis.

Islam melarang praktek riba, dalil dalilnya adalah sbb :
وَاَحَلَّ اللّٰهُ الۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا ”
Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Al Baqarah: 275).

Kemudian Allah juga memerintahkan orang-orang beriman untuk menghentikan praktik riba. Allah berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَذَرُوۡا مَا بَقِىَ مِنَ الرِّبٰٓوا اِنۡ كُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِيۡنَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang beIum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman” (Al Baqarah 278).

Allah SWT mengancam akan memerangi orang-orang yang tidak menuruti perintah-Nya untuk meninggalkan riba. Allah berfirman
فَاِنۡ لَّمۡ تَفۡعَلُوۡا فَاۡذَنُوۡا بِحَرۡبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوۡلِهٖ‌ۚ
“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan RasulNya akan memerangimu.” (QS Al Baqarah 279).

Dalam hadits, Nabi ﷺ juga memerintahkan agar seorang muslim menjauhi riba. Riba termasuk salah satu dari tujuh dosa besar. Nabi SAW bersabda:
اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ ‏”‏‏.‏ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا هُنَّ قَالَ ‏”‏ الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِ ‏”‏‏

“Jauhi tujuh hal yang membinasakan! Para sahabat berkata, “Wahai, Rasulullah! apakah itu? Beliau bersabda, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah tanpa haq, memakan harta riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang dan menuduh wanita beriman yang Ialai berzina” (Muttafaq ‘alaih).

Dosa riba setara dengan perbuatan dosa seseorang menzinahi ibundanya. Diriwayatkan dari Baraa’ bin ‘Azib RA bersabda:

الرِّبا اثنان وسبعون بابًا أدناها مثلُ إتيانِ الرَّجلِ أمَّه “Dosa riba terdiri dari 72 pintu. Dosa riba yang paling ringan adalah bagaikan seorang Iaki-Iaki yang menzinai ibu kandungnya.” (HR Thabrani).

Salah seorang perawi hadits ini bernama Umar bin Rashid. Dia dhukumi lemah oleh mayoritas ulama hadits.

Lebih besar dari zina. Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إن الدرهم يصيبه الرجل من الربا أعظم عند اللهفي الخطيئة من ست وثلاثين زنية يزنيها الرجل

“Sesungguhnya satu dirham yang didapatkan seorang Iaki-laki dari hasil riba Iebih besar dosanya di sisi Allah daripada berzina 36 kali.”  (HR Ibnu Abi Dunya).

Namun saat ini pelaku riba itu adalah negara yang tegak berdasarkan ideologi kapitalis sekuler Demokrasi. Yang mengingkari ajaran agama di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Inilah yang menyebabkan kesengsaraan hidup berkepanjangan bagi rakyat. Sedangkan bagi para pengusaha merupakan keuntungan yang besar.

Apalagi bagi negara adidaya Amerika Serikat, Cina, utang riba adalah cara menjajah dan menguasai suatu negara, bahkan dapat menguras sumber daya alam dan mengintervensi sumber daya manusia.

Oleh karena itu, jika manusia ingin melepaskan diri dari penjajahan ekonomi dan intervensi kebijakan lainnya, tidak ada cara lain kecuali mengganti ideologi kapitalisme sekuler Demokrasi dan menerapkan ideologi Islam secara menyeluruh yang akan memberikan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan hidup seluruh umat manusia.
Inshaa Allah.
Wallahualam bishawab.

Exit mobile version