Site icon

Alutsista Mahal, Islam Solusinya

WhatsApp Image 2021-05-05 at 02.35.26

Oleh: Diana Wijayanti

Duka mendalam terus menyelimuti negeri ini. Banjir bandang di NTT, Gempa bumi di Malang dan Sukabumi serta tanah longsor terus mendera. Kini tragedi di laut pun tak luput memakan korban.

KRI Nanggala-402 mengalami subsunk (tenggelam) dan seluruh awak kapal dinyatakan gugur. Hal itu disampaikan panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto di Base Ops Lanud I Gusti Ngurah Rai, Ahad petang (25/4/2021) setelah sebelumnya hilang kontak pada Rabu (21/4/2021) dini hari.

Kapal yang semestinya akan melakukan latihan tembak torpedo pada Rabu dini hari, di laut Utara Bali itu, tidak respon sejak menyelam.
Pencarian pun dilakukan terhadap kapal buatan Jerman tahun 1978 itu, namun hingga Sabtu, 24/4/2021 kapal tidak bisa ditemukan dan esok harinya dinyatakan subsunk.

Sementara Asrena Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksda Muhammad Ali menyatakan kemungkinan tenggelamnya Nanggala 402 adalah karena faktor alam.

“Faktor alam ini juga ada yang dinamakan internal solitary wave. Yang berdasarkan informasi dari beberapa pakar dan ahli oseanografi, itu ada arus bawah laut yang cukup kuat yang bisa menarik secara vertikal. Jadi jatuhnya kapal ke bawah lebih cepat dari umumnya dan ini yang harus diwaspadai,” ujar Ali dalam keterangannya, Rabu (28/4/2021).

Hal senada juga disampaikan Danseskoal Iwan Isnurwanto. Dia mengatakan, di perairan utara Bali menurut satelit Himawari-8 milik Jepang dan Satelit Sentinel milik Eropa, pada tanggal 21 April atau tanggal 20 UTC terjadi internal wave. Arahnya bergerak dari bawah ke utara.

Apapun dugaannya, alat utama sistem pertahanan (alutsista) harus menjadi perhatian pemerintah ke depannya. Mengingat Indonesia adalah negeri maritim yang 62 persen wilayahnya adalah perairan dengan panjang garis pantai 99.000 km.

Pada tiga tahun terakhir, ini adalah kecelakaan ketiga yang melibatkan kapal TNI yang sudah tua. Saat ini Indonesia hanya memiliki lima kapal selam, dua di antaranya sudah tua, jika dikurangi nanggala 402 menjadi empat kapal selam. Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, menyebut idealnya Indonesia memiliki 12 kapal selam, mengingat luasnya laut Indonesia, (BBC Indonesia, 22/4/2021).

Di kesempatan berbeda, Menhan Prabowo Subianto menyatakan bahwa alutsista bukan barang murah. Bahkan tergolong sangat mahal jika dilihat dari kebutuhan belanja negara.

“Alutsista di bidang pertahanan memang cukup mahal. Bahkan bisa saya katakan ya sangat mahal. Sangat mahal,” kata Prabowo saat menggelar konferensi pers di Bali, Kamis (22/4).

Di satu sisi, alutsista modern memang dibutuhkan. Di sisi yang lain, butuh biaya yang mahal untuk pengadaan. Terlebih, pemerintah Indonesia juga tetap ingin meningkatkan kesejahteraan prajurit di samping modernisasi alutsista.

“Dilema harus mengutamakan pembangunan kesejahteraan, tapi menjaga kemampuan pertahanan supaya kedaulatan kita tidak diganggu,” katanya.

Minimnya anggaran, membuat pemerintah kerap kali membeli alutsista bekas dari negara-negara maju. Memang dari sisi harga seolah lebih murah namun, biaya perawatannya menguras anggaran lebih banyak lagi dengan mesin-mesin yang kualitasnya rendah. Belum lagi masalah korupsi, mafia alutsista dan proses pembelian yang harus dilakukan pihak ke tiga (swasta).

Semua ini menunjukkan bahwa sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini hanya berorientasi pada murah atau mahal alutsista bukan pada ketahanan negara yang harus jadi prioritas. Al hasil tata aturan ini telah menciptakan kelemahan sistemik dalam masalah pertahanan negeri-negeri muslim saat ini.

Maka mustahil berharap memiliki pertahanan dengan alutsista mumpuni sebagai penjaga kedaulatan negara jika masih menerapkan sistem kapitalisme. Sistem ini hanya menilai untung dan rugi bukan bertumpu pada keharusan pemenuhan kebutuhan pokok negara.

Alutsista Mahal, Islam Solusi

Di sinilah umat butuh sebuah sistem alternatif yang mampu menjaga kedaulatan dan menjaga nyawa umat dari segala bentuk ancaman. Hingga kebutuhan alutsista pun harus dipenuhi untuk menunjangnya.

Hanya ada satu sistem hidup yang shohih dan telah terbukti mampu menjaga martabat manusia dan memiliki sistem pertahanan, dengan alutsista yang handal baik darat, laut maupun udara. Sistem itu adalah sistem Islam yang diterapkan aturannya dalam seluruh aspek kehidupan secara kaffah. Berlangsung sejak masa Rasulullah di Madinah dan dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin hingga Kekhilafah Islam Utsmaniyah.

Dalam Islam, Allah SWT telah mengharamkan kelemahan negara dalam menghadapi musuh, seraya mewajibkan negara memiliki sistem pertahanan, dengan alutsista yang tak terkalahkan, dalam rangka menyampaikan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.

Oleh karena itu Militer akan masuk dalam departemen Perang, sehingga memiliki ‘barganing position’ yang tinggi di hadapan negara manapun di seluruh dunia. Tanggung jawab menebar rahmat bagi seluruh alam inilah yang membuat Khalifah bekerja keras untuk memenuhi tuntutan Islam.

Kewajiban ini tertuang dalam firman Allah SWT yang artinya : “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)” (QS al Anfal : 60).”

Berdasarkan Nash tersebut Rasulullah SAW telah memberi contoh praktis bagaimana negara wajib memiliki sistem pertahanan yang tangguh termasuk alutsista termutakhir hingga mampu menjaga kedaulatan negara dan menyebarkan dakwah ke seluruh penjuru dunia.

Adapun salah satu, alutsista yang dipakai Rasulullah saat melakukan penaklukkan di Thaif adalah manjanik (alat pelontar batu atau benda keras saat perang) dan dababah (alat pendobrak benteng musuh). Alat ini merupakan senjata mutakhir pada saat itu, sebagaimana yang dipakai oleh Kekaisaran Persia.

Sementara untuk menghadapi Imperium Romawi yang memiliki armada angkatan laut yang hebat dan kuat di Laut Tengah. Mereka menjadi salah satu kekuatan militer terkuat di dunia pada zamannya. Maka, umat Muslim berpikir bagaimana cara melawan angkatan laut yang tak terkalahkan itu. Sejak saat itulah dibentuk armada angkatan laut Muslim. Di sini navigasi diperlukan untuk menuntun arah hingga ke tempat-tempat yang mereka tuju.

Kaum Muslim berkeyakinan, makin teliti seorang navigator dalam menentukan posisinya di tengah laut, berdasarkan peredaran matahari, bulan, atau bintang, makin tinggi pula akurasi perhitungan waktu dan tempat yang dituju. Dengan demikian, persiapan logistik selama perjalanan pun dapat dilakukan secara lebih matang.

Ada kaidah yang berbunyi : “Ma laa yatimmul waajib illaa bihi, fahuwa wajib” (apa yang mutlak diperlukan untuk menyempurnakan sesuatu kewajiban, hukumnya wajib pula). Kaidah ini menjadi pedoman bagi kaum Muslimin dalam menyiapkan peperangan melawan Kaisar Romawi ketika itu.

Mereka mulai mempelajari teknik perkapalan, navigasi dengan astronomi maupun kompas, dan mesiu. “Bangsa Arab sangat cepat menanggapi kebutuhan akan angkatan laut yang kuat untuk mempertahankan dan mempersatukan daerah kekuasaannya,” jelas Ahmad Y. Al-Hassan dan Donald R Hill dalam karyanya Islamic Technology: An Illustrated History.

Selama era kekuasaan Bani Ummayah, Khalifah Mu’awiyah (602M-680M) berusaha memulihkan kembali kesatuan wilayah Islam. Setelah berhasil mengamankan situasi dalam negeri, Mu’awiyah segera mengerahkan pasukan untuk perluasan wilayah kekuasaan.

Mu’awiyah tercatat sebagai pendiri armada angkatan laut Islam. Ia pernah menjabat sebagai Gubernur Syria, ketika kekhalifahan Islam dipimpin oleh khalifah rasyidah ketiga, Ustman bin Affan. Selama itu pula Mu’awiyah telah memiliki lima puluh armada laut yang tangguh. Pasukan laut ini akhirnya berhasil menaklukkan Cyprus (649 M), Rhodes (672 M), dan kepulauan lainnya di sekitar Asia Kecil.

Armada Laut Turki Ustmani

Berselang beberapa abad kemudian, Kesultanan Ustmani (Ottoman) juga mampu mengalahkan kekuatan Kaisar Romawi. Mereka berhasil menundukkan Konstantinopel (ibu kota Kekaisaran Byzantium) pada tahun 1453. Sejak itu, pemerintahan Ustmani mulai mengembangkan Istanbul (kota Islam) menjadi pusat pelayaran.

Bahkan, Sultan Muhammad II pun menetapkan lautan dalam Golden Horn sebagai pusat industri dan gudang persenjataan maritim. Dia juga mengangkat komandan angkatan laut, Hamza Pasha, untuk membangun industri dan gudang persenjataan laut.

Kesultanan Ustmani juga membuat sebuah kapal di Gallipoli Maritime Arsenal. Dengan komando Gedik Ahmed Pasha (tahun 1480 M), Kesultanan Ustmani memperkokoh basis kekuatan lautnya di Istanbul. Maka tak heran, jika marinir Turki mendominasi Laut Hitam dan menguasai Otranto.

Kekuatan militer kaum muslimin yang begitu hebat itu, tentu sangat ditunjang dengan anggaran yang tidak sedikit. Disinilah tampak kekayaan Khilafah Islam hingga mampu memiliki alutsista tercanggih di masanya.

Adapun pendanaan seluruh kebutuhan militer, maka Islam telah memberikan petunjuk bersumber anggaran berasal dari Baitul Mal. Baitul mal yang bisa dipakai untuk membiayai kebutuhan pertahanan negara termasuk alutsista terdiri dari pos :
1. Harta kepemilikan negara seperti : fa’i, ghanimah, khazraj, jiziyahdan lain-lain.
2. Harta kepemilikan umum seperti harta hasil penjualan barang tambang yang melimpah seperti minyak bumi, batubara, emas, perak dan lain-lain.
3. Zakat, infak dan shadaqah.

Jika, dari ketiga pos tersebut belum mencukupi maka negara diizinkan untuk memungut ‘dharibah’ yaitu pajak atas kaum muslimin, laki-laki yang kaya sejumlah kebutuhan perang.

Dengan dana yang sangat besar ini industri militer yaitu industri berat untuk memproduksi alutsista niscaya harus didirikan negara secara mandiri. Mustahil berharap pada negara lain untuk mendapatkan alutsista yang tercanggih, apalagi negara itu adalah negara yang nyata memusuhi umat Islam.

Jika masa itu saja kaum muslimin memiliki kecanggihan alutsista dan pasukan yang hebat, tentu saat ini, jika negara Islam tegak kembali, kehebatan pertahanan niscaya lebih besar lagi.

Wallahu a’lam bish shawab.

Exit mobile version