Site icon

Anak-Anak Gaza Kelak Akan Menuntut Tanggung Jawab Kita

WhatsApp Image 2025-04-12 at 08.20.22

Oleh : Adelusiana

Kebiadaban Zionis tiada-tara, puluhan ribu anak-anak Gaza menjadi korban, genosida ini juga meninggalkan kepedihan bagi anak-anak Gaza dimana mereka menjadi yatim karena kehilangan orang tua.

Dikutip dari Liputan6.com– lebih dari 39.000 anak di jalur Gaza telah kehilangan satu atau kedua orang tua mereka akibat serangan zionis yang terus-menerus sejak 7 Oktober 2023.

Sementara itu, sedikitnya 100 anak Palestina tewas atau terluka setiap harinya di jalur Gaza sejak Israel melanggar gencatan senjata pada 18 Maret 2025, kata kepala badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) Philippe Lazzarini, mengutip UNICEF pada Jum’at (4/4). Mirisnya semua fakta ini terjadi di tengah narasi hak asasi manusia (HAM) dan tetek bengek aturan internasional serta perangkat hukum soal perlindungan dan pemenuhan hak anak.

Nyatanya, aturan-aturan tersebut tak mampu menghentikan apalagi mencegah penderitaan anak-anak Palestina. Hingga saat ini zionis masih terus menjatuhkan bom di kamp-kamp pengungsian hingga tubuh anak-anak, perempuan, laki-laki berterbangan di udara, itu pemandangan yang sangat mengerikan. Tak hanya itu gedung-gedung terus dihancurkan sarana vital seperti rumah sakit, sekolah, toko roti dll, menjadi sasaran, bantuan kemanusiaan seperti makanan, obat-obatan, dan bahan bakar diblokade oleh Zionis, ini semua adalah pemandangan yang mengerikan.

Tetapi sayangnya dunia tetap diam, lembaga internasional hanya sibuk melakukan kecaman dan diplomasi. Penguasa Negeri muslim saat ini seakan buta dan tuli seolah dunia sedang baik-baik saja, bahkan diantara mereka menormalisasi hubungan diplomatik dengan Zionis. Realita ini semestinya menyadarkan umat bahwa tidak ada yang bisa mereka harapkan dari lembaga-lembaga  internasional dan semua aturan yang dilahirkannya.

Masa depan Gaza/Palestina ada pada tangan mereka sendiri yakni pada kepemimpinan politik Islam atau khilafah kepemimpinan inilah yang semestinya sungguh-sungguh mereka perjuangkan. kehadiran khilafah adalah sebagai raa’in atau pengurus. Rasulullah SAW bersabda : “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan Ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. al-Bukhari).

Khilafah juga merupakan junnah atau perisai.

Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Dia akan dijadikan perisai yang orang akan berperang. Dibelakangnya dan digunakan sebagai tameng. Jika ia memerintahkan takwa kepada Allah  ‘Azza wa Jalla, dan adil, ia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika ia memerintahkan yang lain, ia juga akan mendapatkan dosa/azab karenanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Peran ini akan membuat rakyat terbebas dari bentuk kezaliman, penghinaan, perampasan hak, sebagaimana yang di alami oleh anak-anak Gaza. Hal ini dibuktikan selama belasan abad khilafah berhasil menjadi benteng pelindung yang aman dan memberikan support system terbaik bagi tumbuh kembang anak.

Sebab Islam memandang anak adalah generasi penerus yang harus terpenuhi dan terjamin kebutuhannya. Negara akan memenuhi kebutuhan asasi anak, seperti makanan bergizi, tempat tinggal, pakaian layak, pendidikan, kesehatan, dan keamanan.

Islam tidak akan membiarkan bencana generasi terjadi, karena itu jika ada khilafah penjajahan Zionis terhadap Gaza atau Palestina tidak akan berlarut-larut, karena jihad akan segera diperintahkan untuk mengakhiri penjajahan bahkan sebelum penjajahan itu terjadilah khilafah akan memastikan wilayah tersebut tetap aman.

Faktanya tercatat dalam sejarah, sebelum khilafah Utsmaniyah runtuh, khilafah Utsmaniyah memerintahkan kopral Hasan Al-aghdarli dan timnya untuk menjaga Yerusalem, perintah dari perwira seniornya itu ia patuhi selama 65 tahun, Kopral Hasan Al-aghdarli adalah prajurit terakhir dari khilafah Utsmaniyah yang menjaga Masjidil Aqsa hingga meninggal pada tahun 1982.

Sultan Abdul Hamid 2, juga melindungi Palestina dari permintaan dan tawaran kotor Theodore Herzl. Sultan Salahuddin Al Ayyubi mengarahkan semua kemampuannya untuk membebaskan kembali Al-Quds dari tentara salib, penjagaan yang luar biasa yang diberikan oleh khilafah agar tanah kaum muslimin tetap menjadi milik kaum muslimin, perlindungan diberikan semaksimal mungkin agar anak-anak yang hidup di wilayah daulah khilafah terbebas dari penjajahan dan perampasan lahan, sehingga mereka bisa fokus pada potensinya untuk menjadi generasi cemerlang pembangunan peradaban Islam.

Karena itu upaya yang harus dilakukan hari ini adalah setiap muslim wajib terlibat dalam memperjuangkan kembalinya khilafah, upaya ini harus diambil agar mereka memiliki hujjah bahwa mereka tidak diam berpangku tangan melihat anak-anak Gaza dan orang tua mereka dibantai oleh Zionis dan sekutu-sekutunya.

Perjuangan mengembalikan khilafah tentu tidak bisa sendiri, Rasulullah Saw telah mencontohkan perjuangan menegakkan negara Islam di Madinah harus dilakukan melalui dakwah pemikiran bersama partai ideologis. Dahulu Rasulullah melakukannya bersama para sahabatnya yang terhimpun dalam Hizbun Rasul.

Maka saat ini umat Islam harus bersatu dan berjuang bersama partai Islam ideologis yang mengikuti metode dakwah Rasulullah untuk menegakkan kembali perisai umat Islam yakni daulah khilafah. Wallaahu a’lam bi ash-shawaab.

 

Exit mobile version