Kliksumatera.com Lahat, 4 November 2025 — Komunitas Anak Padi bersama petani, masyarakat, dan mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Lahat menggelar aksi bentang spanduk di Jembatan Gantung Desa Telatang, Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat. Lokasi aksi ini berdekatan langsung dengan kawasan PLTU Keban Agung.
Aksi yang mengusung tema “Racun PLTU Membunuh Sungai Pendian, Pule, dan Lematang” tersebut dilakukan dengan membentangkan spanduk berukuran 4 x 8 meter. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari peluncuran kampanye nasional “20 PLTU Berbahaya di Indonesia”, yang menyoroti dampak serius aktivitas PLTU terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat di berbagai daerah.
Para peserta aksi menyuarakan keresahan atas kondisi lingkungan yang semakin rusak akibat aktivitas PLTU, terutama pencemaran yang telah merambah ke sungai-sungai yang selama ini menjadi sumber air dan penghidupan warga.
Reza Yuliana, koordinator aksi, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan mengingatkan publik dan pemerintah tentang ancaman serius dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara terhadap lingkungan serta kesehatan masyarakat.
Di PLTU Keban Agung, kami menyaksikan langsung bagaimana sungai-sungai yang dulunya menjadi sumber air bersih dan penghidupan warga kini berubah menjadi tempat pembuangan limbah,” ujar Reza.
Berdasarkan hasil uji laboratorium Kimia Analisis dan Instrumentasi FMIPA Universitas Sriwijaya, diketahui bahwa Sungai Pule memiliki pH 4,3 dengan status tercemar berat. Hasil tersebut telah dilaporkan oleh Anak Padi kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Kabupaten Lahat pada Agustus 2025, namun hingga kini belum ada tanggapan maupun tindakan nyata dari pihak berwenang.
Reza menegaskan bahwa kondisi tersebut merupakan bukti nyata kelalaian dan ketidakbertanggungjawaban korporasi dalam mengelola limbah batu bara, termasuk Fly Ash dan Bottom Ash (FABA). Limbah beracun tersebut, katanya, terus mencemari tanah dan air tanpa pengawasan ketat dari pemerintah maupun pihak perusahaan.
Aksi ini adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan ekologis. Alam bukanlah korban, dan masyarakat tidak seharusnya menjadi pihak yang menanggung akibat dari kelalaian industri ekstraktif,” tegas Reza.
Dalam kesempatan itu, Anak Padi bersama peserta aksi juga menyerukan kepada Presiden Prabowo Subianto agar mempertimbangkan pemensiunan segera 20 PLTU berbahaya di Indonesia, termasuk PLTU Keban Agung yang dinilai telah lama meresahkan masyarakat sekitar.
Sementara itu, Eko, mahasiswa Universitas Terbuka Lahat sekaligus demisioner Duta Inisiatif Indonesia, menyampaikan harapannya agar kawasan sekitar Muara Maung dapat kembali menjadi lingkungan yang hijau, asri, dan bebas dari pencemaran limbah batu bara.
Harapan kami sederhana: lingkungan kembali pulih seperti dulu — udara bersih, sungai tidak tercemar, dan masyarakat dapat hidup sehat tanpa rasa khawatir terhadap dampak limbah batu bara. Aksi bentang spanduk hari ini adalah bentuk kepedulian agar suara masyarakat tidak lagi diabaikan,” ujar Eko.
Ia menambahkan, ke depan masyarakat berharap tidak ada lagi pencemaran di sekitar lingkungan PLTU serta warga dapat terhindar dari berbagai penyakit dan dampak buruk akibat aktivitas batu bara, demi terwujudnya lingkungan yang aman, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

