Site icon

Ancaman Virus Corona Varian Baru B117 terus Menghantui, Negara Diam?

WhatsApp Image 2021-03-10 at 18.28.48

Oleh : Desi Anggraini (Pendidik Palembang)

Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil mengumumkan dua warga Kabupaten Karawang positif virus Corona varian baru B117. Epidemiolog Griffith University, Australia, Dicky Budiman, menyebut ancaman virus Corona B117 ini cukup serius.

Diketahui, dua warga Karawang terpapar virus Corona B117. Dinkes Karawang mengungkapkan dua perempuan itu adalah tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Arab Saudi.

Menurut Dicky, virus Corona B117 lebih cepat menular ketimbang Covid-19 yang sudah lama menyebar di Indonesia. Tingkat kematiannya pun cukup tinggi. Dicky meminta pemerintah dan warga berfokus memperketat 5 M, yakni memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. (Detiknews, Kamis (04/03/2021).

Sangat disayangkan memang, di tengah Pandemi Covid-19 yang sampai saat ini kurvanya belum melandai. Bahkan justru ditemukan Virus Corona yang bermutasi seperti di Inggris yakni B117 yang efeknya lebih berbahaya dan penularannya lebih cepat serta telah menyebar ke berbagai negara di dunia. Pemerintah Indonesia malah membuka pintu yang selebar-lebarnya bagi WNA. Bahkan diberi karpet merah alias masuk melalui pintu resmi sebaga TKA. Sungguh miris kebijakan yang diberlakukan di negeri ini. Semestinya perlindungan terhadap rakyat menjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan. Yaitu dengan melarang total masuknya orang asing ke wilayah Indonesia.

Seharusnya perhatian pemerintah saat ini fokus kepada penanganan wabah Covid-19. Karena sebetulnya tugas negaralah untuk melindungi keselamatan rakyatnya di tengah pandemi yang mengancam nyawa.

Tampak jelas bahwa kebijakan yang dikeluarkan oleh negara senantiasa didasarkan pada azas manfaat yang bersifat materi. Sehingga setiap keputusan dilihat dari untung dan rugi. Dampaknya keuntungan materi selalu nomor satu tanpa mempertimbangkan nyawa rakyat.

Inilah buah diterapkannya sistem kapitalis sekuler. Sistem ini telah gagal melindungi nyawa manusia dari pandemi. Sehingga banyak memakan korban.

Sistem kapitalis sekuler tidak hanya gagal melindungi nyawa manusia, bahkan juga tidak mampu menyelesaikan seluruh permasalahan umat. Pada dasarnya sistem kapitalis adalah sistem buatan manusia. Semua tahu bahwa manusia mempunyai fitrah yang lemah dan serba kurang, sehingga tidak pantas membuat aturan. Hasilnya jika manusia dipaksa membuat aturan, maka akan terjadi kerusakan dan kesengsaraan. Terbukti sistem ini tidak tuntas dalam mengatasi Pandemi Covid-19, ditambah lagi muncul virus varian baru.

Untuk itu apabila manusia ingin menyelesaikan seluruh permasalahan secara tuntas, maka haruslah mengganti sistem ini dengan sistem Islam. Yaitu sistem yang bersumber dari Sang Pencipta. Dialah Allah yang Maha Pengatur.

Siapa pun paham, wabah tak akan mengglobal jika sejak awal si sakit segera diisolasi. Begitu pun dengan pintu-pintu penyebarannya, baik di negara atau wilayah asal maupun di wilayah penularan, semuanya juga harus segera dikunci.

Strategi mengunci ini dalam Islam justru merupakan tuntunan syar’i. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, yang artinya, “Apabila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat, maka janganlah memasukinya, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu ada di tempat itu, maka janganlah keluar darinya.” (HR Imam Muslim).

Hanya saja, bersamaan dengan proses ini, negara tentu wajib men-support segala hal yang dibutuhkan agar wabah segera dieliminasi. Mulai dari dukungan logistik, fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, obat-obatan, alat test, vaksin, dan lain-lain. Bahkan negara wajib memastikan kebutuhan masyarakat selama wabah tetap tercukupi. Negara atau penguasa tak boleh membiarkan masyarakat menantang bahaya hanya karena alasan ekonomi.

Di sinilah negara akan mengelola sumber-sumber keuangan yang ada, termasuk harta milik umum di kas negara untuk memenuhi hajat hidup masyarakat, khususnya mereka yang terdampak agar kesehatan mereka terjaga dan imunitasnya tinggi. Tentu tanpa iming-iming syarat atau prosedural yang memberatkan.

Dan ini semua, lagi-lagi niscaya. Karena negara global Islam ini merangkum seluruh sumber daya yang ada di berbagai wilayah dunia, termasuk kekayaan alam yang jumlahnya sangat luar biasa.

Edukasi dan riset pun akan di-support penuh oleh negara sebagai manifestasi tanggung jawab kepemimpinan mengurus dan menjaga umat. Keduanya berjalan secara simultan dengan penerapan aturan lain yang semuanya ada dalam kontrol negara.

Terkait edukasi misalnya, negara wajib memastikan tak boleh ada satu pun masyarakat yang tak paham apa yang sedang terjadi, sehingga mereka membahayakan orang lain dan dirinya sendiri. Maka, seluruh kanal media yang dimiliki akan dioptimalkan untuk membangun kesadaran umat ini dengan kesadaran berbasis akidah.

Masyarakat akan terus-menerus diajak berpartisispasi melakukan apa pun yang bisa membantu wabah segera teratasi. Seperti dengan taat menjalankan protokol kesehatan, yang dalam Islam dinilai sebagai bentuk ketaatan pada kepemimpinan.

Dengan prosedur syariat Islam, nyawa dan kesehatan rakyat tetap bisa terjaga sehingga kegiatan perekonomian tetap bisa berjalan. Kebijakan seperti itulah yang seharusnya dijalankan sehingga agama, nyawa dan harta manusia tetap bisa terpelihara dengan baik. ***
Wallahu’alam bishawab.

Exit mobile version