Site icon

Aneh, Negeri Lumbung Padi Lumbung Energi, Tapi Krisis Pangan

WhatsApp Image 2023-10-26 at 21.24.31

Oleh : Jumiliati

Sejak beberapa bulan terakhir harga beras kian melambung tinggi, termasuk di Kota Palembang. Musim kemarau merupakan salah satu di antara penyebab naiknya harga beras dikarenakan banyak petani yang mengalami gagal panen.

Dilansir dari TRIBUNSUMSEL.COM PRABUMULIH, Masyarakat Provinsi Sumatra Selatan diimbau untuk stop boros pangan khususnya beras, dengan cara makan tidak banyak dan tidak membuang makanan serta mencari makanan alternatif.

Imbauan tersebut disampaikan Pejabat (Pj) Gubernur Sumatra Selatan Dr Drs Agus Fatoni MSi ketika menghadiri HUT ke-22 Kota Prabumulih di Gedung DPRD Prabumulih, Selasa (17/10/2023) lalu. “Jadi secara umum inflasi di Sumsel stabil sama dengan inflasi nasional bahkan di tahun-tahun sebelumnya kita lebih rendah ini suatu capaian yang sangat bagus atas kerjasama kita bersamanya,” ujarnya.

Miris sekali bila kita melihat dan mendengar himbauan dari Pejabat (Pj) Gubernur Sumsel tersebut, sudah seringkali kita mendengar para penguasa saat ini selalu memberikan solusi yang tidak tepat pada permasalahan yang terjadi di masyarakat. Betapa tidak di saat-saat sulit ini dimana harga pangan terus meroket naik, para penguasa justru mengimbau kepada masyarakat agar kita tidak makan banyak, dengan kata lain kita diimbau untuk mengurangi makan bahkan mencari makanan alternatif. Sungguh miris sekali bukan kita hidup di daerah “lumbung pangan lumbung energi” begitu slogan kota Palembang, tetapi kita harus mengalami krisis pangan.

Sudah bukan rahasia lagi dan memang sangat nyata penguasa saat ini telah abai terhadap nasib rakyat. Rakyat yang mengalami krisis pangan tidak dibantu justru diimbau untuk tidak boros pangan. Seperti yang kita ketahui beras merupakan makanan pokok yang apabila tidak dipenuhi akan mengakibatkan dampak buruk pada tubuh manusia. Bukan hanya penyakit dan gizi buruk yang terjadi bahkan bisa mengakibatkan kematian. Di mana kah hati nurani mereka tidak adakah upaya mereka untuk menstabilkan harga beras atau membantu para petani agar tidak terjadi lagi gagal panen, atau kah gagal panen hanya alasan saja untuk bisa menaikkan harga beras demi keuntungan oligarki.

Sangat berbanding terbalik dengan solusi yang diberikan penguasa saat ini, rakyat justru diimbau untuk mencari solusi pangan alternatif dan mengurangi makan, sungguh sangat ironis, rakyat hidup miskin di negeri yang kaya raya, kekayaan negri ini hanya dinikmati oleh segelintir orang yang mempunyai kantong tebal atau oligarki, dan orang asing dan aseng yang berdalih berinvestasi tetapi justru menggerogoti dan menguras kekayaan alam Indonesia.

Solusi menghadapi krisis pangan yang di berikan oleh penguasa juga acap kali terkesan main main, dan hanya solusi jangka pendek. Bagaimana tidak, beras sudah menjadi makanan pokok bagi warga Indonesia, namun dengan adanya Krisis pangan ini harus dialihkan ke umbi umbian, jagung dan gandum. Ditambah lagi dengan naik nya harga bahan pokok yang lain, seperti sayur-sayuran, lauk pauk, bahkan bumbu perdapuran. Alhasil terpenuhinya gizi 4 sehat 5 sempurna jauh dari angan-angan masyarakat.

Berbeda dengan sistem pemerintahan Islam, memperhatikan nasib rakyat adalah tugas pokoknya. Institusi kepemerintahan Islam merupakan pengurus, pelindung dan pelayan bagi rakyatnya, di dalam sistem Islam negara memiliki kekuasaan penuh dalam mengelola sumber daya alam yang ada, sehingga pada saat rakyat mengalami krisis pangan negara mengupayakan agar kebutuhan pokok rakyat tetap terpenuhi, membantu petani agar tidak mengalami gagal panen dengan mengairi sawah dengan sistem irigasi melalui pemanfaatan air sungai.

Negara mengoptimalkan hasil alam, membantu para petani dalam hal biaya dan alat pertanian sehingga negara tidak perlu mengimpor bahan pangan dari luar negeri. Dalam sistem Islam negara mengelola sendiri sumber daya alam, karena merupakan negara yang kaya raya. Rakyat tidak akan mengalami krisis pangan.

Di dalam sistem Islam kewajiban mengurus rakyat adalah kewajiban bagi Khalifah. Sebagaimana kisah Khalifah Umar bin Khattab yang memikul sendiri sekarung gandum ditengah malam untuk diberikan kepada seorang ibu yang tidak memiliki apapun untuk dimasak bagi anak-anak nya. Tentunya menyia-nyiakan nasib rakyat seperti penguasa saat ini merupakan dosa besar bagi penguasa.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah seorang hamba yang telah Allah beri wewenang untuk mengurus rakyat mati pada hari kematiannya, sementara dia dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah akan mengharamkan atas dirinya surga”.

Sudah saatnya kita kembali kepada sistem Islam, yang mengambil hukum Allah SWT untuk mengatur setiap aspek kehidupan umat manusia.
Wallahu’alam bisshowwab.

Exit mobile version