Oleh : Rismayana (Aktivis Muslimah)
Pandemi Covid-19 bukannya semakin berhenti, malah semakin menjadi. Pada Selasa 27 Juni 2021 Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Medan kembali merilis data kasus Covid. Dari hasil data BPBD Kota Medan angka yang terkonfirmasi positif covid kembali mencapai 670 kasus per hari.
Total penambahan kasus pada Selasa 27/07/2021 yakni 25.874 kasus. Sementara angka suspek di Medan meningkat 32 kasus menjadi 405 kasus suspek, angka kesembuhan meningkat menjadi 342 menjadi 19.753 kasus. Sementara angka kematian meningkat 1 kasus menjadi 666 kasus.
Walikota Medan, Bobby Nasution mengatakan angka kekritisan tempat tidur bagi pasien covid-19 di rumah sakit atau Bed Occupancy Rate (BOR) di kota Medan Meningkat.
Untuk menekan dan memutus laju mata rantai Covid-19 Bobby Nasution selaku Walikota mengajak dan menghimbau warganya untuk bersama-sama tetap mengikuti protokol kesehatan. Bobby mengatakan walaupun pelonggaran di beberapa kegiatan ekonomi itu pun hanya kegiatannya yang dilonggarkan bukan kegiatan prokesnya.
Bobby juga mengatakan pihaknya akan menindak tegas pelaku usaha ataupun perkantoran yang melanggar protokol kesehatan yang berlaku, jadi dengan memperketat protokol kesehatan kita tidak akan mengorbankan perekonomian demi memutus mata rantai Covid-19, jadi tidak ada yang dikorbankan, harus ada titik temu dan upaya kedepannya “kata Bobby Nasution (medan.tribunnews.com, 27/07/2021).
Inilah kesalahan dari sistem Kapitalis Sekuler, di mana pemerintah dalam menangani wabah ini saja tidak mampu menyelesaikan secara tuntas, contohnya dalam membuat kebijakan PPKM, dalam penerapannya, pemerintah dibarengi dengan adanya bantuan kebutuhan pokok masyarakatnya, walaupun itu sifatnya hanya sementara dan diskriminatif.
Sehingga hal ini tidak menjadi solusi untuk pemulihan ekonomi rakyat, alhasil masyarakat berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga dampaknya semakin banyak zona merah dan semakin banyak masyarakat yang terinfeksi Virus Covid-19.
Di dalam penanganan wabah pandemi, sistem Islam sangat mengedepankan keselamatan rakyatnya lebih utama daripada urusan yang lainnya.
Dalam menangani wabah pandemi kepala negara (Khalifah) akan secara serius mengendalikan wabah dengan menutup akses masuk ke dalam dan keluar daerah yang terkena wabah tanpa mementingkan lagi untung rugi dalam perekonomian.
Karena yang terpenting saat ini adalah memutus rantai penyebaran dan secara cepat melakukan lockdown, tanpa membebani kebutuhan rakyatnya. Karena negaralah yang menjadi perisai (Junnah) bagi rakyatnya. Karena fungsi pemimpin (Khalifah) bukan sekedar menjaga rakyatnya tetapi menjaga agama dan juga menegakkan hukum syariat Islam.
Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarga yang dipimpinnya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal pertanggungjawabannya, seorang pembantu rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya”. (HR Muslim).
Wallahualam bisawab.

