Oleh : Jumiliati
Memasuki musim hujan merupakan berkah yang tak terkira karena kita baru saja mengalami badai elnino yang menyebabkan suhu udara sangat panas disiang hari. Namun hujan dengan intensitas tinggi mengakibatkan banjir melanda sejumlah wilayah di Indonesia, ini sudah menjadi pemandangan biasa jika musim kemarau telah beralih ke musim hujan.
Salah banjir terbesar tahun ini berada di Kabupaten Demak, setelah beberapa hari banjir merendam rumah warga akhirnya banjir mulai di Kabupaten Demak telah berangsur surut. Terlihat Penjabat Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudajana, sedang berada di sana meninjau kondisi banjir di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jumat, dilansir dari laman berita Antara news Indonesia 16 Februari 2024 . Banjir yang terjadi akibat dua titik tanggul Sungai Wulan yang jebol, “Kedua tanggul yang jebol sudah bisa ditutup. Awalnya, bersifat sementara, saat ini sedang dilakukan penguatan, kurang lebih dua hari lagi tanggul ini sudah kuat,” ungkap Pj gubernur, pada saat tinjauan di Desa Ketanjung, Kecamatan Karanganyar, Demak. Guna mengatasi banjir yang merendam pemukiman warga, kata Nana telah dioperasikan sebanyak 27 pompa air. Pompa air tersebut didapat dari Kementerian PUPR, BNPB, dan BPBD. “Dalam penanganan ini, kami dibantu dari PUPR ada sekitar 22 pompa air, kemudian ditambah lima (pompa) dari BNPB dan BPBD. Kami terus melakukan langkah-langkah pemompaan air, dan penyedotan air untuk dibuang ke sungai,” ungkapnya.
Meskipun banjir yang merendam ratusan rumah warga telah berangsur surut dan warga bisa memulai aktivitas sehari-hari, tak lah membuat kita tenang. Kenyataan yang kita hadapi saat ini banjir sudah menjadi langganan dalam setiap tahunnya disaat memasuki musim penghujan dan semakin meluas ke seluruh wilayah negara kita.
Mengapa situasi ini selalu saja terjadi? dan mengapa malah semakin meluas wilayah yang terkena musibah banjir ini. Sebagai manusia kita diberi kemampuan untuk berfikir tentang semua yang terjadi pada negri kita saat ini. Secara logika mungkin memang hujan adalah salah satu penyebab utama musibah banjir ini, namun jika kita menelisik lebih dalam kita akan menemukan fakta yang lebih konkrit lagi akan penyebab utama musibah banjir ini. Diera kapitalisasi dan modernisasi yang melanda negeri kita, kita dapat melihat pembangunan begitu pesat dilakukan di seluruh wilayah negeri ini tak terkecuali di desa sekali pun. Sawah, ladang dan perkebunan disulap menjadi perumahan, mall, hotel ,apartemen dan segala infrastruktur yang megah lainnya.
Pembangunan yang dimata orang awam merupakan kemajuan bagi daerah tempat tinggalnya, sesungguhnya merupakan awal kerusakan pada lingkungan bila tata kelola yang dilakukan tidak sesuai dengan kondisi lahan tepat. Pembangunan infrastruktur seharusnya dibangun diatas tanah atau lahan yang tidak subur sehingga tidak mengurangi lahan bagi pertanian, perkebunan dan fungsi hutan sebagai penahan air dari bahaya erosi. Namun kenyataannya saat ini lahan pertanian dan perkebunan telah habis karena adanya alih fungsi lahan, yang berdalih pembangunan infrastruktur yang akan menguntungkan daerah pembangunan.
Beginilah jika negara mengadopsi sistem kapitalis sekuler yang memandang materi sebagai tolak ukurnya. Semua yang di dilakukan hanya untuk mencari keuntungan belaka, terutama keuntungan bagi pemilik modal atau oligarki dan korporasi yang ada dibalik penguasa kita saat ini.
Alih fungsi lahan yang terjadi saat ini adalah sarana para elite politik dan oligarki yang mencari keuntungan diatas derita rakyat. Tidak hanya mengambil ruang lingkup rakyat berupa lahan pertanian rakyat tetapi juga meninggalkan kerusakan yaitu bencana banjir yang selalu datang setiap tahunnya karena tata kelola yang tidak tepat karena hanya untuk mencari keuntungan tanpa melihat dampak buruk bagi lingkungan hidup disekitarnya.
Lalu masih kah kita akan terus hidup dibawah naungan kapitalis sekuler yang semakin mencekik dan menyengsarakan ini ? Beginilah realita yang terjadi pada negara kita karena telah mencampakkan hukum Allah SWT sebagai sang maha pencipta. Jalan yang terbaik untuk mengatasi permasalahan banjir yang tak berkesudahan ini hanya lah kembali kepada hukum Allah SWT sebagai sumber hukum. Karena Allah SWT adalah sang Kholiq (maha pencipta), karena sebagai maha pencipta Allah SWT pun maha tahu aturan yang tepat untuk diterapkan kepada manusia sebagai ciptaannya . Allah SWT berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia. Allah menghendaki mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan-Nya. (QS .Ar-rum : 41). ***

