Site icon

Blackout Tiba-Tiba Jadikan Masyarakat Resah

WhatsApp Image 2024-06-12 at 19.50.21 (1)

Oleh : Irohima

Blackout (pemadaman listrik besar-besaran) yang menimpa sebagian besar wilayah Sumatera dan diiringi dengan hilangnya jaringan internet serta aliran air yang turut mati, membuat jokes dan meme lucu warga kembali ke zaman purba banyak bertebaran di media sosial. Bukan tanpa alasan mereka membuat meme dan jokes yang demikian, blackout yang terjadi beberapa waktu yang lalu sempat menimbulkan keresahan warga karena pemadaman ini terjadi dengan durasi waktu yang cukup lama dan sangat berdampak pada semua sektor.

Pemadaman lisrik yang terjadi sekitar pukul 10:30 WIB pada hari selasa, tanggal 4 Juni 2024 menimpa hampir seluruh wilayah Sumatra. Durasi pemadaman yang berlangsung juga bervariasi, ada yang 10 jam sampai 24 jam. Menurut Darma Saputra, selaku Asisten Manager Komunikasi dan Management Stakeholder PLN UID, penyebab black out adalah gangguan transmisi di area perbatasan Lahat dan Lubuk Linggau yang berakibat pada terjadinya gangguan pasokan listrik di empat provinsi area Sumatra bagian selatan, yaitu Sumatra Selatan, Jambi, Bengkulu, dan Lampung ( TribunJabar, 05/06/2024 ).

Gangguan pasokan listrik ini berdampak besar pada banyak sektor seperti perbankan, industri, pemerintahan, rumah sakit, ritel, telekomunikasi dan lain sebagainya. Beberapa pengusaha mengaku menderita kerugian akibat black out di Sumatera. Ketua DPP Apindo Riau, Wijatmoko Rah Trisno mengungkap bahwa biaya listrik merupakan komponen biaya yang cukup besar dalam proses produksi barang dan jasa sehingga ketika terjadi pemadaman yang cukup lama, biaya operasional mengalami peningkatan. Beliau pun mengatakan seharusnya ada langkah antisipasi dari pihak PLN dan upaya mitigasi.

Blackout atau pemadaman listrik secara total merupakan kejadian di mana suatu daerah kehilangan daya listriknya. Blackout yang menimpa Sumatera kemarin ternyata bukanlah yang pertama terjadi. Blackout besar besaran pernah melanda wilayah Jawa-Bali pada tanggal 13 April 1997. Adanya pemadaman listrik besar-besaran menunjukkan lemahnya mitigasi dan pemeliharaan listrik di negeri ini. padahal listrik merupakan kebutuhan publik yang sangat krusial dan menjadi tanggung jawab negara.

Sementara itu, pemadaman listrik besar-besaran juga memunculkan anggapan bahwa PLN sebagai perusahaan listrik negara kurang profesional dalam mengurusi listrik rakyat, padahal ada penambahan permintaan listrik dan pembangkitnya pada transmisi Sumatra di masa yang akan datang.

Sumatra merupakan salah satu wilayah yang memiliki cadangan listrik yang berlebih, menurut data PLN per Desember 2023, cadangan daya pada sistem ketenagalistrikan terhadap beban puncak (Reserve margin) idealnya berada pada kisaran 24%-35%, sementara Sumatra memiliki reserve margin yang sangat besar yaitu 41%. Tingkat keandalan pasokan listrik di suatu sistem tercermin dari besarnya reserve margin, dan dari besarnya reserve margin di Sumatra diketahui bahwa sistem kelistrikan Sumatra mengalami kelebihan pasokan. Dan fakta ini sungguh ironis jika disandingkan dengan kejadian blackout kemarin.

Di saat yang sama yaitu pada tanggal 4 Mei 2024, PLN justru meluncurkan “Road to PLN Investment Day 2024” di Jakarta. Agenda ini merupakan forum diskusi dan kolaborasi bisnis dengan peserta para pejabat dari kalangan pemerintahan, bisnis, perbankan, akademisi dan juga para investor lokal serta asing. Agenda ini juga merupakan upaya membangun kolaborasi mengakselerasi transisi energi bersih. Blackout yang terjadi secara tiba-tiba padahal pasokan listrik berlebih ditambah agenda “ Road to PLN Investment Day 2024” adalah hal yang mengherankan dan bisa saja membawa kita pada suatu kesimpulan bahwa Sumatra seolah sedang digambarkan sebagai wilayah yang membutuhkan investasi di sektor sumber daya listrik karena ketidakmampuan anak bangsa mengelola potensi sumber daya listrik yang berlebih, dan hal ini diperkuat dengan adanya Blackout Sumatra.

Tiap-tiap wilayah di Sumatra memiliki potensi SDA yang luar biasa dan menjanjikan keuntungan besar. Seperti Riau yang dikenal sebagai produsen CPO terbesar di negara ini, menghadirkan peluang menjanjikan dalam bidang pengolahan sawit dan turunannya. Riau juga memiliki lahan pertambangan yang menggiurkan. Potensi sumber daya alam Riau yang glamour, di tambah dengan potensi wilayah lain yang tak kalah berkilau, menciptakan daya tarik tersendiri bagi para pencari keuntungan, tidak mengherankan jika para investor akan berlomba-lomba menanamkan investasi di negeri ini.

Selama ini investasi dianggap solusi untuk mendongkrak pembangunan ekonomi suatu bangsa dan menciptakan banyak lapangan kerja yang membantu meningkatkan taraf perekonomian masyarakat. Padahal pada faktanya membuka investasi pada sektor vital semisal listrik, tambang dan yang lainnya akan meniscayakan segala hal terkait pengelolaan mulai dari produksi, distribusi hingga kebijakan rentan diintervensi oleh pihak investor. Dan yang terjadi kemudian adalah kapitalisasi sumber daya alam dan pengelolaan akan disesuaikan dengan kepentingan.

“Kaum muslim berserikat dalam tiga hal : air, padang rumput dan api: dan harganya adalah haram.” ( HR Ibnu Majah ).

Listrik, dalam hal ini api adalah salah satu dari tiga hal yang disebutkan dalam hadits tersebut. Dan karena termasuk dalam harta kepemilikan umat (umum) maka seyogyanya segala hal yang terkait kelistrikan, mulai dari produksi dan distribusi dikelola oleh negara sebagai penguasa dan pengurus urusan rakyat. Begitu juga dengan SDA yang lain, karena sumber daya alam merupakan barang yang dibutuhkan publik maka berstatus sebagai harta milik umat hingga tidak boleh diprivatisasi oleh swasta maupun asing.

Pengelolaan SDA yang kerap diserahkan pada investor merupakan dampak dari diterapkannya sistem kapitalisme saat ini. Sistem ini menerapkan kebebasan dalam kepemilikan segala hal termasuk dalam kepemilikan harta umat. Berbeda jauh dengan sistem Islam yang melarang kepemilikan pribadi atas harta milik umum. Dalam Islam, seluruh barang yang termasuk dalam harta kepemilikan umum harus dikelola oleh negara untuk kepentingan publik. Seluruh pemasukan dan pengeluaran yang bersumber dari harta kepemilikan umum akan diatur oleh Baitulmal, penggunaan anggaran juga akan dimaksimalkan untuk kepentingan rakyat.

Pengelolaan SDA yang dilakukan secara mandiri oleh negara akan menghasilkan keuntungan yang optimal, dan negara akan bisa mendistribusikannya secara adil dan merata kepada rakyat dengan murah bahkan gratis. Kekayaan alam yang melimpah akan membutuhkan pengelolaan oleh banyak sektor industri dan ini membuat banyak industri akan bermunculan dan dengan sendirinya lahan pekerjaan akan terbuka luas bagi rakyat.

Hanya dengan Islam, kapitalisasi sumber daya alam bisa dihentikan. Dan hanya dengan Islam juga kelebihan pasokan sumber daya alam seperti listrik bisa diatasi, tidak seperti saat ini, di mana sumber daya alam dijadikan komoditi dan membuat masyarakat semakin tersakiti.

Wallahualam bis shawab.

Exit mobile version