Oleh : Widya (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)
CNN Indonesia Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyebut pelaku bom bunuh diri di depan Katedral Makassar, Minggu (28/3) terkait dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).
“Pelaku merupakan bagian dari kelompok JAD yang pernah melakukan pengeboman di Jolo Filipina,” ungkap Sigit saat meninjau lokasi kejadian bersama Panglima TNI Hadi Tjahjanto.
Kapolri menyebut pelaku bom bunuh diri yang tewas sebanyak dua orang terdiri dari satu laki-laki dan satu perempuan.”Pelaku yang meninggal dunia ada 2 orang laki-laki dan perempuan,” Kapolri meminta pada masyarakat agar tenang dan tidak panik pascateror bom bunuh diri. Masyarakat, menurutnya, diminta tetap melaksanakan aktivitas seperti biasa.
TNI-Polri akan berjanji memberikan keamanan dan kenyamanan kepada masyarakat, Kapolri dalam kesempatan itu juga menyampaikan terima kasih atas keberanian seorang satpam Gereja yang menahan pelaku agar tak masuk ke dalam gereja. Dalam kesempatan itu, Kapolri dan Panglima menyempatkan diri menengok korban ledakan bom di RS Polri Makassar. Kapolri menyampaikan bahwa ada dua orang yang sudah selesai menjalani operasi. “Kondisi korban sudah sadar dan bisa diajak bicara,”
Sebelumnya, nama JAD memang dicurigai lantaran dalam beberapa pekan terakhir kepolisian aktif menangkap anggota kelompok itu di Makassar dan kota lain. Dalam penangkapan di Makassar sejumlah anggota JAD ditembak polisi karena melawan.
Sementara, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar mengatakan ada kemiripan secara pola pikir antara pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar.
Awal Tragedi pengeboman gedung kembar WTC pada 11 September 2001 silam, walau keberadaannya hingga kini masih kontroversi, sukses menciptakan propaganda bahwa teroris adalah muslim serta menghembuskan islamofobia ke seluruh dunia. Tak terkecuali di negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia yang langsung membentuk BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme).
Berawal dari Pascatragedi WTC, serangkaian aksi bom bunuh diri pun terjadi di dunia. Indonesia diawali dengan bom Bali tahun 2002 hingga yang terbaru kasus bom Makasar ini. Seolah kompak, semua pelaku puluhan aksi terorisme meninggalkan bukti yang menunjukkan dirinya adalah muslim yang juga terlibat dengan jaringan terorisme.
Terorisme dipropagandakan sebagai awal dari pemahaman agama yang radikal. Berbagai program deradikalisasi pun terus diciptakan agar radikalisme versi mereka hilang. Seperti dihilangkannya ajaran jihad dan khilafah di buku-buku sekolah, sertifikasi dai, dll.
Tuduhan Keji terhadap Ajaran Islam
Pemahaman yang dangkal terhadap ayat-ayat Al Quran telah melahirkan tuduhan keji terhadap firman Allah SWT mengenai jihad fi sabilillah dan juga Khilafah sebagai satu sistem pemerintahan yang menerapkan Islam secara kafah. Untuk mendukung pemikiran Barat yang sekuler—menjauhkan nilai agama dalam kehidupan, diserukanlah Islam moderat, yakni yang menyesuaikan dengan pemikiran-pemikiran Barat yang berasaskan sekuler.
Padahal, demokrasi, HAM, atau liberalisme yang digaungkan Barat, sering kali berstandar ganda, yang diserukan demi memuluskan kepentingan Barat di dunia Islam. Toleransi seolah tak berlaku bagi umat muslim.
Puncaknya, radikalisme dianggap telah melahirkan pemahaman penyatuan agama dan politik yang dianggap berbahaya, melahirkan manusia berpikiran sempit, tidak mau menerima pendapat orang, semua karena hidupnya diikat doktrin agama yang dianggap tidak netral dan inklusif, bahkan dituding bisa menciptakan pemberontakan untuk menumbangkan kedaulatan NKRI.
Sungguh, hal demikian adalah tuduhan yang tak mendasar dan hanya dipenuhi stigma terhadap syariat Islam. Sebab, Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin yang akan memberikan keberkahan jika diterapkan secara kafah.
Pemerintah Jangan Kehilangan Fokus
Sesungguhnya, ajaran Islam politik adalah bibit perjuangan dalam mengembalikan kehidupan Islam yang telah dirampas oleh penjajah Barat. Karena itulah istilah radikalisme dan terorisme diciptakan Barat semata untuk menghancurkan Islam.
Mereka (Barat) paham betul bahwa pascakeruntuhan komunisme, ideologi Islam adalah satu-satunya musuh mereka, sehingga kebangkitannya harus dihadang.
Menyikapi peristiwa ini, menurut ulama kontemporer pengamat politik internasional Dr. Ryan, M.Ag., pemerintah seharusnya jangan kehilangan fokus pada problem utama negeri ini. Cepatnya respons dalam menyelesaikan kasus bom Makassar seharusnya diiringi dengan penyelesaian problem lainnya.
Problem di negeri ini begitu besar dan bertumpuk menuntut untuk diselesaikan. Utang luar negeri yang terus membengkak misalnya, yang akan semakin menyengsarakan rakyat.
Korupsi di tubuh oligarki yang semakin menggurita juga seharusnya menjadi perhatian khusus. Banyak kebijakan yang mangkrak tersebab implementasinya selalu beriringan dengan korupsi. Lagi-lagi, rakyat yang jadi korban, bantuan yang “tak seberapa” pun nyatanya tak juga sampai pada rakyat yang menjerit kelaparan.
Belum lagi impor pangan yang bertubi-tubi, telah menyengsarakan para petani yang memang sudah sangat miskin. Mulai dari impor beras, garam, gula, daging sapi, hingga jahe, menjadi paket komplit jatuhnya harga komoditas lokal.
Buntut kerugian petani bagi perekonomian bangsa adalah ketergantungan pangan semakin tinggi pada impor, karena petani akan berhenti produksi dan mencari pekerjaan lain.
Demokrasi hanya akan menghimpun para penguasa yang mengakomodir kepentingan korporasi. Biaya yang mahal dalam kontestasi perpolitikan demokrasi telah meniscayakan para cukong untuk terlibat di dalamnya. Sehingga, hegemoni korporasi multinasional akan semakin tertancap di negeri ini, yang pada gilirannya menyengsarakan rakyat. Karenanya, kebijakan yang lahir pastilah pro korporasi.
Sehingga, jangan salah fokus! Problem utama negeri ini adalah penerapan sistem sekuler yang mendepak agama untuk turut campur dalam menyelesaikan permasalahan bangsa.
Lalu Bagaimana dalam Pandangan Islam
Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, penerapan Islam secara kafah akan mengantarkan pada kehidupan umat manusia yang sesuai dengan fitrah. Namun hari ini, agama Islam sedang diolok-olok, ajarannya dihinakan, ulamanya dikriminalisasi, ormasnya dibubarkan, umatnya dilabeli teroris. Sungguh malapetaka yang sangat pedih bagi Islam dan umatnya. Padahal, umat Islam telah Allah SWT. sematkan predikat umat terbaik, yang dengannya akan mampu menyelesaikan seluruh problem manusia.
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS Ali Imran: 110).
Oleh karena itu, kemalangan umat yang paling besar adalah ketiadaan Khilafah sebagai satu institusi yang mampu melindungi umat dan ajarannya dari mara bahaya.***
Wallahubissawab….

