Oleh : Rita Hartati, S.Hum
(Muslimah Peduli Generasi)
Lagi-lagi kemuliaan umat Islam tercoreng, aksi peledakan bom bunuh diri didepan gereja Katedral Makasar Sulsel, Minggu (28/3) yang memakan 14 korban luka-luka dan 2 orang pelaku meninggal dunia, telah menyisakan kepedihan yang mendalam. Diduga aksi ini, menggunakan bom higt eksplisif atau daya tahan besar.
Banyak tanggapan dari petinggi negara. Seperti Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, mengutuk pelaku dan menyatakan perbuatan ini bukan termasuk ke dalam umat beragama.
Ketua Relawan Jokowi Mania (JoMan), Immanuel Ebenezer menegaskan, serangan ke gereja merupakan aksi teror yang sangat brutal. Terlebih, gereja adalah tempat jemaah kristiani beribadah yang jelas banyak masyarakat sipil di dalamnya. Liputan6.com,
Masyarakat diminta untuk tidak panik, karena Kapolri Jenderal Sigit Probowo menyatakan, bahwa anggota TNI dan Polri akan memberikan keamanan bagi masyrakat. Kapolri telah memperkirakan, pelaku aksi ini terkait dengan Jamaah Ansharul Daulah (JAD), yang pernah melakukan pengeboman di Filifina tahun 2018.
Pristiwa semacam ini terus terjadi, sehingga masyarakat merasa khawatir dan terancam keamannya. Apalagi media televisi, selalu menayangkan berita tersebut. Namun, tidak sedikit pula masyarakat yang geram dan memiliki spekulasi yang lain. Apakah negara tidak mampu memutus rantai terorisme ini, sampai ke akar – akarnya? Atau apakah ini sengaja dibangun, sebagai alat pemecah dan pengalihan isu – isu politik?
Sebagaimana diimbau oleh Ketua Umum Pimpinan Muhammadiyah, agar tidak mengaitkan tindakan bom tersebut dengan agama dan golongan umat beragama tertentu. Bisa jadi aksi bom di Makasar ini hanya untuk alat adu domba di tengah masyaralat, bahkan berpontensi memecah-belah dan mengarakan opini demi kepentingan politik tertentu.
Selain itu pakar politik Dr. Ryan, M. Ag dikanal ngaji subuh juga mengutuk dan menyatakan keprihatinanya. Tetapi ia menekankan agar ptistiwa ini tidak dikaitkan kepada Islam, seolah-olah Islamlah yang mendorong terjadinya pristiwa ini. Bahkan lebih jauh, beliau menyatakan jangan sampai digiring kepada isu radikalisme yang sangat sering dikaitkan dengan simbol – simbol Islam.
Padahal kita ketahui, masalah negeri ini masih sangat banyak dan komplit, bahkan belum bisa diselesaikan sampai saat ini. Seperti masalah koropsi, hutang luar negeri, impor tanpan perhitungan, ketidakadilan hukum, persekusi, kriminal terhadap ulama, kenakalan remaja, pengangguran, kemiskinan dan masih banyak lagi. Tentunya ini semua, tidak lain buah dari penerapan sistem kapitalis sekular yang diterapkan negeri ini.
Segala bentuk kekerasan yang menimbulkan ketakutan dan kekacauan, bahkan mengorbankan nyawa manusia, merupakan tindakan yang sangat biadab dan bertentangan dengan semua ajaran agama. Maka aneh, jika kejadian – kejadian semacam ini, umat Islam selalu disasar dan disudutkan.
Karena Islam adalah agama yang paling sempurna dan paripurna. Islam mengatur segala aspek kehidupan, baik hubungan manusia kepada tuhannya, hubungan manusia pada dirinya sendiri dan hubungan manusia dengan sesamanya. Dan Islam adalah agama yang mencintai kedamaian.
Jauh sebelum kita mengenal HAM, Islam telah mengajarkan istilah toleransi, yang sangat menghargai keberadaan agama lain. Seperti dalam Qs Alkafirun : 6
لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ
“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.
Selain itu, Rosulullah SAW, telah mencontohkan dalam memimpin daulah Islam, yang diteruskan oleh para sahabat sampai pada masa khilafahan turki Ustmani. Umat Islam hidup berdampingan dengan rukun dan damai, bersama saudaranya yang non muslim. Karena mereka akan mendapatkan hak dan kewajiaban yang sama seperti kaum muslim lainnya, selama mereka merupakan warga negara khilafah.
Karena orang non muslim atau kafir yang mendapat suaka atau ada perjanjian dengan kaum muslimin seperti kafir dzimmi, kafir musta’man dan kafir mu’ahad, maka dilarang keras untuk dibunuh. Jika melanggar maka ancamannya sangat keras.
مَنْ قَتَلَ قَتِيلًا مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ لَمْ يَجِدْ رِيحَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا
“Barang siapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun. ”
Contoh lain, ketika Umar bin Khattab radhiallahu’anhu membebaskan dan menaklukkan Yerussalem Palestina. Beliau menjamin warganya agar tetap bebas memeluk agama dan membawa salib mereka. Umar tidak memaksakan mereka memluk Islam dan menghalangi mereka untuk beribadah, asalkan mereka tetap membayar pajak kepada pemerintah Muslim.
Umar bin Khattab juga memberikan kebebasan dan memberikan hak-hak hukum dan perlindungan kepada penduduk Yerussalem walaupun mereka non-muslim.
Maka, ketika tuduhan yang selalu menyudutkan umat Islam saat ini, yang menganggab kelompok radikal dan terotisme, bisa jadi karena kurang faham terhadap sejarah Islam, atau bisa jadi karena kebencian para pembenci terhadap ajaran dan simbol – simbol Islam.
Dan tentunya, hal ini tidak akan pernah terjadi, jika kaum muslim menerapkan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. ***
Wallahualam….

