Site icon

Bunuh Diri, PR untuk Negeri

WhatsApp Image 2024-07-27 at 09.13.05 (1)

Oleh : Yunita

Akhir-akhir ini banyak sekali terjadi peristiwa seseorang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Jika ditelusuri rupanya kasus bunuh diri telah mengalami tren perubahan, kalau dulu bunuh diri terjadi pada usia dewasa, sekarang bunuh diri sering dilakukan oleh anak-anak muda di Indonesia. Termasuk yang terjadi dalam sebulan terakhir di Kota Lubuklinggau, Sumatra Selatan. Tiga warga Kota Lubuklinggau mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Kejadian ini cukup mengejutkan, karena dua peristiwa ini terjadi hanya berselang satu hari, meski berbeda tempat.

Dua peristiwa terjadi di Kota Lubuklinggau dan satu peristiwa terjadi di Provinsi Jambi dan berstatus mahasiswi. Kapolres Lubuklinggau, AKBP Boby Kusumawarhana mengatakan “kepolisian tidak henti-hentinya menyampaikan pemberitahuan imbauan ke masyarakat.”

Munculnya fenomena ini masyarakat harus saling mengingatkan bila ada sanak saudara frustasi, karena keadaan ekonomi harus cepat dicegah. Langkah yang diambil, akan melakukan pendataan wilayah-wilayah kelurahan yang rentan masalah ekonomi, nanti melalui babinkamtibmas, maupun tim akan dijaga.

Sedangkan menurut PJ walikota Lubuklinggau, Trisko Defriansya mengatakan, “kita akan melakukan safari Jum’at ke tokoh-tokoh masyarakat untuk pemberian pemahaman melalui keagamaan. Agama jelas melarang dan tidak dibenarkan. Namun yang jelas akan dicari dulu akar penyebabnya. Apakah ekonomi, rumah tangga atau kecanduan judi online.” Dikutip dari Tribunsumsel, Rabu (17/07/24).

Maraknya kasus bunuh diri menjadi sinyal peringatan untuk lingkungan masyarakat maupun keluarga, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda-tanda orang yang ingin mengakhiri hidupnya.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 700.000 orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya. Sementara berdasarkan Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI, jumlah kasus bunuh diri di Indonesia di tahun 2017 mencapai 789 kasus. Dikutip klikdokter.com.

Beberapa faktor penyebab yang dapat mempengaruhi kecendrungan bunuh diri.

Faktor kesehatan mental berawal dari masalah kesehatan mental yang diabaikan. Menurut studi, lebih dari 90 persen pelaku bunuh diri adalah orang dengan gangguan kesehatan mental, seperti gangguan bipolar, depresi dan skizofrenia. Mereka merasa tidak ada gunanya lagi hidup, hingga memilih meninggalkan beratnya beban hidup.

Himpitan ekonomi, kesulitan ekonomi dan tekanan hidup sering menjadi faktor pemicu seseorang melakukan bunuh diri.

Faktor pemicu
Segala sesuatu yang menjadi pemicu permasalahan, seperti kambuhnya suatu penyakit, pelecehan, penggunaan narkoba, perilaku impulsive dan agresif, juga terjadinya konflik interpersonal (teman, pasangan, rekan kerja) atau konflik dalam permasalahan rumah tangga.

Namun kecendrungan bunuh diri tentu tidak hanya dipengaruhi oleh ketiga faktor itu saja. Semua itu terjadi karena terkikisnya keimanan masyarakat akibat dari akidah sekularisme, dimana agama dijauhkan dalam kehidupan. Sekularisme menjadi masalah utama terjadinya perilaku bunuh diri. Krisis iman memicu seseorang mudah tersulut emosi, berpikiran kalut dan tidak sadar telah melakukan hal yang dilarang agama. Dan diperparah dengan paham kapitalisme yang dianut negara, menjadikan standar kemuliaan hidup masyarakat dinilai dari materi, jabatan, kemewahan, dan sebagainya.

Kondisi inilah yang menyebabkan masyarakat berperilaku menyimpang dan menjadikan bunuh diri sebagai solusi. Penderitaan akibat sekularisme-kapitalisme ini harus segera diakhiri yakni dengan menjadikan Islam sebagai satu-satunya sistem di negeri ini, dengan menerapkan segala aturan yang telah diciptakan oleh sang Khaliq (pencipta). Allah SWT telah menurunkan Al Qur’an sebagai pedoman hidup dan petunjuk bagi manusia, agar manusia selalu optimis dalam menghadapi masalah.

Islam sangat melarang bunuh diri sebagaimana firman Allah SWT:
وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
Artinya “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah maha penyayang kepadamu (QS An, Nisa : 29). ”

Di dalam Islam bunuh diri merupakan dosa besar dan Allah akan memberikan balasannya kepada pelaku bunuh diri.

Rasulullah ﷺ bersabda,
“Barang siapa menjatuhkan dirinya dari sebuah gunung sehingga membunuh dirinya, maka di dalam neraka jahanam dia (juga) menjatuhkan dirinya dari sebuah gunung. Dia akan tinggal di dalam neraka jahanam selama-lamanya. Barang siapa meminum racun sehingga membunuh dirinya, maka racunnya akan berada di tangannya. Dia akan meminumnya di dalam neraka jahanam. Dia tinggal di dalam neraka jahanam selama-selamanya. Barang siapa membunuh dirinya dengan besi, maka besinya akan berada di tangannya. Di dalam neraka jahanam ia akan menikam perutnya. Dia akan tinggal di dalam neraka jahanam selama-lamanya”. (HR. Bukhâri, no. 5778; Muslim, no. 109; dari Abu Hurairah; lafazh bagi Bukhâri).

Oleh karena itu di dalam Islam pandangan hidup yang benar, lahir dari proses berpikir atau akidah Islam. Akidah Islam menyatakan bahwa satu-satunya Al Khaliq (pencipta) dan Al mudabbir (pengatur) hanya Allah Subhanahu wa ta’ala. Akidah ini harus dipahami dengan kerangka berpikir yang benar sehingga manusia memahami bahwa dia harus taat kepada Allah SWT dan harus menjalankan semua syariat-Nya.

Didalam Islam negara akan bertanggung jawab dalam mengurus dan menjaga rakyatnya, karena menjaga nyawa rakyat adalah tugas negara, serta negara harus menjamin kesejahteraan ekonomi rakyat, serta memberikan pendidikan, kesehatan, dan keamanan yang disediakan gratis oleh negara. Dengan demikian masyarakat akan terhindar dari berbuat keji seperti bunuh diri.

Ketika masyarakat telah memiliki akidah yang benar kemudian support sistem dari negara, tentu ini akan mengakhiri maraknya tren bunuh diri seperti yang sedang terjadi saat ini.
WaalLahu a’lam bishawab.

Exit mobile version