Site icon

Cianjur Berduka

WhatsApp Image 2022-12-04 at 14.51.09

Oleh: Widya (Pemerhati Muslimah Peduli Generasi)

Ratusan infrastruktur dan fasilitas publik terdampak gempa magnitudo 5,6 yang melanda Cianjur, Jawa Barat.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sebanyak 526 infrastruktur rusak, yakni 363 bangunan sekolah, 144 tempat ibadah, 16 gedung perkantoran, dan tiga fasilitas kesehatan. Sedangkan jumlah rumah warga yang rusak sebanyak 56.320 unit.

“Tapi jumlahnya fluktuatif ya, tim gabungan dari Kementerian PUPR, BNPB, pemda masih melakukan asesmen di lapangan,” kata Kepala BNPB Suharyanto di Pendopo Bupati Cianjur, Jumat (25/11/2022) malam.

Suharyanto menambahkan, warga terdampak mengungsi di 110 titik yang tersebar di 15 wilayah kecamatan, sehingga membutuhkan strategi tenaga dan kekuatan yang ekstra dalam distribusi logistik. Jumlah jiwa di masing-masing pengungsian atau tenda darurat kisaran 200 hingga 500 orang. Dari jumlah pengungsi yamg ada, 650 orang di antaranya ibu hamil, dan ada 34 orang penyandang disabilitas.

Menurut  Suharyanto, pendistribusian logistik ke lokasi pengungsian sudah berjalan baik. “Bahkan ada pihak yang meminta dan ingin mendistribusikan langsung logistiknya. Ini diizinkan tetapi dengan pengawalan polisi untuk mencegah hal-hal sebagaimana yang viral seperti adanya upaya penghadangan untuk meminta barang atau uang.

Gempa Cianjur tersebut terjadi akibat lempeng tektonik yang bergerak dan menekan wilayah Indonesia sejak jutaan tahun lalu. Namun, sumber gempa darat dari sesar aktif ini masih belum diketahui secara pasti.

Dirunut berdasarkan peta, berdekatan dengan Cianjur terdapat sesar Cimandiri yang membentang mulai dari Teluk Pelabuhan Ratu hingga Cianjur. Sesar ini pernah mengguncang Sukabumi pada tahun 2001 silam. Namun, letak sesar yang berada jauh di sebelah utara tempat kejadian dipastikan bukan penyebab dari gempa Cianjur ini.

Laporan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 22 November 2022 pagi mencatat sebanyak 103 orang meninggal dunia akibat dampak gempa. Sebanyak 377 orang mengalami luka-luka dan ada 7.064 orang mengungsi akibat bencana alam ini. Belum lagi ribuan bangunan juga mengalami kerusakan ringan hingga berat.

Peristiwa gempa tersebut cukup terasa guncangannya. Meskipun tergolong berkekuatan kecil, posisi peristiwa gempa yang dangkal menyebabkan kerusakan bangunan yang berada di atasnya. Untungnya, gempa yang terjadi tersebut tidak berpotensi tsunami karena sumber gempa berasal dari daratan.

Dikatakan dosen Departemen Teknik Geofisika ITS ini, gempa merupakan suatu peristiwa yang tidak bisa diprediksi kemunculannya. Namun, berkaca dari peristiwa gempa yang telah melanda beberapa kali di Indonesia, seharusnya bisa dijadikan acuan mitigasi. Mitigasi sendiri dibagi menjadi dua jenis. Yakni mitigasi struktural yang berfokus pada pembangunan infrastruktur dan mitigasi nonstruktural yang berfokus pada edukasi masyarakat.

Berdasarkan hasil survei gempa Kobe 1995. Menurut survei tersebut, pertolongan berasal dari diri sendiri 35 persen, keluarga 32 persen, tetangga 28 persen, dan sisanya 5 persen dari luar. Dapat disimpulkan, tanggung jawab terbesar akan keselamatan kita berada pada diri sendiri. Perlu diingat bahwasanya gempa tidak membunuh, tetapi bangunan yang menyebabkan korban sehingga pemetaan perlu dilakukan. Semestinya, masyarakat jangan berpikir bahwasannya bencana merupakan takdir, azab, maupun kutukan. Penumbuhan pengetahuan akan ancaman di sekitar akan mengurangi risiko bencana.

Dan yang menjadi akar masalah yang utama ketika sistem yang diterapkan adalah kapitalisme dan sekularisme di mana para pemilik modal bebas mengelola lahan yang mereka kuasai tidak lagi memikirkan azas masyarakat banyak misalnya dengan insfrastruktur yang asal jadi. Dengan kualitas rendah memilih modal yang sedikit tapi mempunyai ke untungnya yang besar bagi mereka.

Dan keterbatasan kemampuan bagi masyarakat banyak yang tidak mempunyai ilmu bagai mana cara membangun rumah yang kokoh yang tahan dari goncangan gempa. Setelah mereka tahu bahwa Indonesia ini rawan bencana alam gempa tanah longsor dan banjir dan keterbatasan biaya juga sehingga membangun rumah yang bahannya bukan berkualitas yang bagus.

Karakter sistem kapitalisme yang telah mempengaruhi pemikiran, baik masyarakat maupun pemerintah. Sistem kapitalisme yang meranggas jauh ke seluruh sendi-sendi kehidupan telah menumbuh suburkan perilaku konsumtif. Meningkatnya taraf hidup masyarakat kelas menengah menaikkan tingkat konsumsi barang dan makanan. Gaya hidup masyakarat modern yang hedonis menimbulkan persoalan sampah semakin parah.

Adapun pembuatan kebijakan dan pengambilan keputusan tidak berpihak pada pencegahan bencana banjir gempa dan longsor bahkan terkesan abai akan dampak yang ditimbulkan. Kebijakan yang dibuat pemerintah lebih pada mempertimbangkan ada tidaknya pemasukan bagi kas negara bukan karena kondisi lingkungan.

Padahal banjir gempa longsor, sendiri tidak bisa dianggap remeh, sebab dampak yang ditimbulkan bisa merugikan masyarakat dan pemerintah sendiri, bahkan bisa merenggut nyawa. Inilah pemikiran kapitalis sekuler yang menjadikan manfaat sebagai standar perbuatan. Tanpa mempertimbangkan dampak yang akan terjadi. Sistem kapitalisme sekuler membebaskan kepemilikan, lahan-lahan yang seharusnya berfungsi sebagai daerah resapan pun malah dialihfungsikan demi keuntungan semata.

Berbeda halnya dengan Islam. Islam sebagai agama yang sempurna serta sebagai ideologi yang di dalamnya memuat seperangkat aturan. Islam mampu memberikan solusi setiap problematika kehidupan, termasuk bagaimana mengatasi masalah banjir dan bencana lain.
Allah SWT berfirman:

“Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan, disebabkan perbuatan tangan-tangan manusia, Allah menghendaki supaya mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum: 41).

Mengenai ayat tersebut, sebagian manusia menafsirkan bahwa perbuatan manusia hanya terbatas pada sikap manusia yang tidak ramah terhadap alam. Sehingga mereka menyimpulkan bahwa gempa bumi, longsor, banjir, dan bencana alam lainnya disebabkan oleh sikap manusia yang tidak benar dalam mengelola lingkungan. Padahal ada penyebab lain yang belum dipahami oleh masyarakat luas, yaitu perbuatan maksiat yang dilakukan oleh manusia dan ketidakpatuhannya kepada Sang Pencipta seperti tidak menjadikan aturan Allah sebagai aturan hidup.

Sistem Islam memperhatikan kepentingan umat secara detail. Solusi Islam dalam upaya mengatasi banjir gempa dan longsor di antaranya dengan membangun sungai buatan dan  kanal untuk mengurangi penumpukan volume air dan mengalihkan aliran air, membangun bendungan-bendungan untuk menampung tumpahan air hujan, air sungai, dan yang lainnya, membangun sumur-sumur resapan di daerah tertentu. Memetakan daerah mana yang termasuk rawan gempa bumi,banjir. dan melarang penduduk mendirikan bangunan di daerah tersebut. Selain itu, pembentukan badan khusus pun diperlukan untuk penanganan bencana alam, persiapan wilayah-wilayah tertentu untuk cagar alam.

Sosialisasi tentang pentingnya kebersihan lingkungan dan kewajiban memelihara lingkungan, persyaratan tentang izin pendirian bangunan dan pembukaan pemukiman baru. Penyediaan daerah serapan air hujan, penggunaan tanah, dan sebagainya.

Tak hanya itu, sistem Islam pun memberikan solusi dalam menangani korban. Seperti penyediaan tenda, makanan, obat-obatan dan pakaian, serta adanya keterlibatan masyarakat sekita yang berada di dekat wilayah yang terkena bencana gempa, banjir, dan longsor Itulah berbagai solusi yang ditawarkan Islam dalam mengatasi permasalahan banjir. Hanya Islam yang memberi aturan secara sempurna dalam mengatasi berbagai problematika, termasuk gempa bumi, banjir, dan longsor.

Oleh karena itu, sudah saatnya sistem Islam diterapkan secara kaffah dalam kehidupan agar keberkahan menaungi negeri ini. Wallahu a’lam

Exit mobile version