Oleh: Muzaidah (Aktivis Dakwah Remaja)
Allah SWT telah menciptakan dunia bersamaan dengan isi-isinya. Ada manusia, hewan, tumbuhan, dan lainnya. Semua itu ternyata ada tujuan, selain perintah untuk beribadah, mengagungkan Allah, juga, ada tugas yang harus dilakukan manusia. Yakni merawat, menjaga, mengelola, dan memanfaatkan isi bumi dengan sebaik-baiknya. Namun, sangat disayangkan, lingkungan dan alam yang dirasakan manusia tidak benar dijaga. Bahkan rusak begitu saja.
Akibatnya, timbullah banjir di mana-mana, longsor yang mengganggu aktivitas warga, dan masih banyak kerusakan akibat ulah manusia. Atas kejadian ini, kepada siapa harus mengadu, merenung. Pemimpin negeri masih tak mampu menghadirkan kenyamanan, kesejahteraan, dan tak tepat menangani kerusakan alam. Bingung dan sangat menyedihkan.
Dilansir dari merdeka.com, (08/11/2021). Kembali terjadi banjir rob, yang membuat sebagian daerah ikut terendam, di antaranya ada di Jatim, Jabar, Kalbar, dan lainnya, mengalami potensi banjir yang begitu besar. Akibatnya, ada sebelas korban yang dinyatakan meninggal dan di antaranya ada yang hilang. Namun, pemicu yang terjadi, dikarenakan, daerah aliran sungai (DAS) yang rusak. Sehingga aliran hidrografi (pemetaan perairan) tidak begitu membaik. Genangan banjir yang begitu tinggi, kini tak bisa dielakkan.
Stop Merusak dan Menyalahkan
Selain karena DAS, ada pemicu lain seperti penebangan hutan berlebihan, penutupan lahan yang beralih fungsi. Bukan dikelola, untuk meningkatkan perekonomian negeri, malah dikomersialkan dengan pihak korporasi. Dengan membangun gedung-gedung bertingkat, atau pengelolaan lain demi meraup keuntungan. Namun rakyat tak kunjung terselamatkan, bahkan pemenuhan kehidupan terus tak diperhatikan.
Dalam hal ini, yang disalahkan itu hanya dua, yaitu alam semesta dan rakyat. Karena rakyat tidak bisa menjaga lingkungan dengan baik, tidak memperhatikan keadaan sekitar, dan alam telah membuat cuaca yang memperburuk keadaan. Padahal, keduanya adalah korban akibat tangan manusia. Yakni kekuasaan. Sebab kekuasaanlah semua kerusakan terjadi.
Jika saja pemimpin lebih memperhatikan keadaan sekitar, sigap, tak melakukan komersial hutan atau tempat-tempat yang bisa terjadi banjir. Maka, semua itu tak akan terjadi, jika pun terjadi, setidaknya tidak separah keadaan saat ini. Bukan lingkungan saja yang rusak, harta benda, begitu juga dengan nyawa, ikut hilang. Bukankah itu sangat berharga harus dijaga demi kemaslahatan umat.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum [30]: 41).
Kembali ke Islam
Islam adalah rahmat untuk manusia, tumbuhan, dan hewan yang telah Allah ciptakan. Menjamin keselamatan dari kerusakan, menjauhkan dari kesengsaraan dan memberikan setiap haknya. Semua bisa terterapkan saat sistem Islam memimpin sebagai kiblat peradaban dan menuntun pada ketaatan.
Dalam naungannya, hutan tidak bisa dibagi rata atau dijadikan ladang keuntungan demi elite kapitalis. Dialihkan fungsi untuk kesejahteraan manusia dengan memanfaatkan dan mengelolanya. Mulai dari daun, batang, ranting dan tanahnya.
Bisa dikelola apa saja sebagai kebutuhan manusia, membuat perabotan dan lainnya. Tanah dalam Islam tidak bisa diserahkan kepada pihak asing. Melainkan membangun untuk rumah penduduk yang tidak mendapatkan tempat tinggal. Diberikan secara gratis karena sudah menjadi tanggung jawab penguasa.
Dengan begitu, dampak banjir, longsor, semuanya ini tidak akan terjadi. Karena dalam Islam, semua dimanfaatkan dengan baik dan tidak diperjual belikan. Begitulah hak yang diberikan khalifah, tidak serakah. Dana yang didapatkan berasal dari baitul mal dan SDA yang tersedia. Maka, rakyat akan aman, selamat, dan nyaman, begitu pula dengan hewan dan tumbuhan, akan dirawat tanpa merusak dan menyakitinya.
“Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara, yaitu padang rumput (hutan), air, dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).
Sistem Islam juga akan mengajak manusia senantiasa tunduk terhadap hukum syariat. Tidak membiarkan setiap diri lalai tanpa pengawasan dan minim ilmu. Sehingga yang akan terjadi seperti era demokrasi yang sama sekali jauh dari kesempurnaan takwa. Kebanyakan penduduk bermaksiat, bablas tanpa aturan Allah SWT.
Jika manusia diajak tunduk kepada perintah dan menjauhi larangan Allah, segala macam bencana dan peringatan, azab tak akan didatangkan, kerusakan tidak akan dirasakan. Sebab khalifah menuntun manusia hidup dalam kepatuhan bukan kelalaian.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf [7]: 96).
Oleh karena itu, kelayakan hidup, bencana tak datang secara tiba-tiba, dan manusia bisa memahami akan peringatan Allah. Hanya cukup kembali dengan sistem Islam. Karena ulah manusia, diera kapitalis-demokrasi, kekuasaan tidak dijadikan fungsi ketaatan, bumi tidak dikelola dengan keadilan, lingkungan ikut menjadi rusak, manusia ikut disengsarakan. Mulus terus-menerus meraup keuntungan, tanpa memikirkan keselamatan umat.
Wallahualam bissawab.

