Site icon

Degradasi Moral Berlangsung Adanya Dukungan Kapitalisme?

WhatsApp Image 2021-04-12 at 07.49.35

Oleh: Muzaidah (Aktivis Muslimah)

Sesungguhnya mahasiswa adalah agen of change karena mereka didik untuk peka dan peduli terhadap lingkungannya yang dengan itu mampu mengeluarkan pendapat demi memberikan solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi baik lingkungan sekitar maupun negara.

Badan Eksekutif Nusantara (BEM Nus) belum lama ini mengadakan pertemuan di Universitas Wijaya Kusuma kota Surabaya. Namun berjalan collapse karena terjadinya dualisme kepemimpinan di dalamnya. Hal ini menjadi sorotan para pengamat dan menilai bahwa mahasiswa hari ini kehilangan idealismenya, cenderung pragmatis dan bergerak berdasarkan eksistensi semata. Berbeda pergerakan mahasiswa terdahulu yang dianggap lebih mewakili suara rakyat secara tulus tanpa berharap memperoleh eksistensi atau yang lainnya. (waspada.co.id, 18/03/2021).

Sistem kapitalis-demokrasi menjadikan kritik sebagai hal yang ditakuti untuk mengarahkan perubahan hakiki, tentunya pada kebaikan. Terkhusus bagi mahasiswa yang memberikan suaranya untuk menunjukkan solusi agar rakyat mendapatkan kesejahteraan dan keadilan. Problem mahasiswa hari ini yang dinilai pragmatis dan cenderung terlihat egosentris tercipta yang disebabkan pola kehidupan mereka yang sekuler-liberal.

Sistem hari ini pun menambah bahkan mendukung degradasi moral pada setiap anak bangsa tak terkecuali dalam bidang akademik. Mulai dari lunturnya tata kerama pelajar, kecurangan di bidang akademik, hingga tak peduli dengan lingkungan sekitar. Hal ini pun mengakibatkan banyak dari mahasiswa yang cenderung hanya mencari eksistensi semata tanpa peduli jeritan rakyat.

Allah SWT berfirman:
”Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”. (Q.S. Sad: 26).

Padahal di dalam Islam, pemimpin seharusnya akan berlaku adil dalam memberikan kebebasan rakyat untuk keluh kesah. Agar mendapatkan hak atau keadilan yang akan memberikan kenyamanan hidup. Jelas sudah, bahwa sistem kapitalis-demokrasi saat ini tidak memberikan jaminan khusus pada nasib rakyat begitu juga dengan moralitas yang dengan itu akan menjadikan para pemuda menjadi insan yang cerdas dengan penuh ketakwaan terhadap Allah SWT.

Selain itu di dalam Islam, kekritisan rakyat itu menjadi penting namun tidak untuk mencari eksistensi diri. Sebab mengemukakan pendapat haruslah dilakukan karena merupakan bentuk penjagaan terhadap daulah agar tetap berjalan sesuai hukum syara’ yang berlaku. Khalifah dalam Islam, juga akan memberikan pendidikan terbaik terhadap anak bangsa atau pemuda, untuk menanamkan moralitas baik dan berakhlak mulia serta dibekali keimanan yang kokoh agar aqliyah dan nafsiahnya (pola pemikiran dan sikapnya) sesuai tuntunan Islam. Ketika melakukan tindakan tetap ingat bahwa Allah Swt yang berkuasa sebagai pencipta sekaligus pengatur terbaik, untuk tidak bertindak yang salah.

Sayangnya, itu semua hanya akan ada jika syariat Islam diterapkan secara kafah. Dengan begitu degradasi moral dan kekacauan yang timbul akibat dari sistem yang diterapkan hari ini akan teratasi. Maka, marilah berjuang menegakkannya karena hanya Khilafah sebagai penjamin terbaik bagi umat.

Wallahualam bissawab.

Exit mobile version