Oleh: Muryani
BMK memperkirakan Indonesia akan mengalami kekeringan panjang akibat fenomena El Nino yang kemungkinan terjadi pada Juli hingga akhir 2023, fenomena El Nino dipengaruhi oleh suhu muka air laut di samudra pasifik, fenomena alam ini bersamaan dengan kemarau tahun ini.
Lagi lagi pemerintah akan melakukan impor beras, satu juta ton beras dari india. Mendagri Zulkifli Hasan menyatakan impor dilakukan untuk mengantisipasi dampak cuaca panas ekstrem atau El Nino.
Zulkifli Hasan mengungkapkan bahwa sudah ada kesepakatan harga, antara pemerintah dengan india, jika sewaktu waktu butuh, kita bisa beli (katadata 17/6/23).
Rencana impor satu juta ton beras ini, berbeda dengan penegasan badan pangan nasional (Bapanas) ke perum bulog untuk melakukan impor beras dua juta ton sepanjang 2023 sebagai upaya memenuhi cadangan beras pemerintah (CBP) dengan demikian total impor beras tahun ini adalah tiga juta ton dan sudah terealisasi sebanyak 4,5 ribu ton.
Semestinya pemerintah memiliki perencanaan yang matang, El Nino merupakan fenomena alam yang sudah bisa diprediksi sebelumnya, dengan demikian pemerintah bisa melakukan upaya upaya meningkatkan stok beras dari dalam negeri.
Pemerintah bisa memberi insentif pada petani agar produksi beras lokal meningkat misalnya dengan memberikan bantuan benih, pupuk, sarana produksi pertanian, bukan justru memperbanyak impor yang akhirnya merugikan petani, apalagi saat ini sedang panen raya di beberapa wilayah Indonesia seperti Cirebon, Bali, Kendari.
Impor beras pada saat panen raya akan mengakibatkan harga gabah anjlok, masalah ini sering terjadi sampai saat ini, impor membahayakan kedaulatan pangan jika pemerintah selalu bergantung pada negara lain. Meski pemerintah gencar melakukan impor beras, harga beras di Indonesia tetap tergolong tinggi di antara negara asia, dalam laporan Indonesia economic prospect edisi Desember 2022 menuliskan bahwa harga eceran beras indonesia 28% lebih tinggi dari Philipina dan dua kali lipat harga Vietnam, Kamboja, Myanmar, dan Thailand (katadata 3/1/23).
Dengan demikian, impor beras tidak menyolusi persoalan mahalnya harga beras di Indonesia, bahkan kebijakan impor tidak berpihak pada rakyat, impor membuat pendapatan petani ciut, masyarakat juga tidak diuntungkan karena harga beras tetap tinggi tiap tahunnya, yang diuntungkan dari impor pihak yang menjadi bagian dari rantai impor beras. Kebijakan impor menunjukkan adanya liberalisasi pangan, keran impor dibuka dengan dalih agar stok cukup dan harga beras turun, kenyataannya jauh panggang dari api.
Liberalisme pangan makin parah, dengan disahkan UU cipta kerja, pasal 14 UU 18/2012 tentang pangan berbunyi bahwa: sumber penyediaan pangan berasal dari produksi pangan dalam negeri dan cadangan pangan nasional, jika belum mencukupi pangan dapat dipenuhi dengan impor pangan sesuai dengan kebutuhan.
Sistem ini telah memandulkan peran negara mengurusi rakyatnya SDA yang melimpah di kuasai pemilik modal/oligarki, seperti: sektor pertanian, impor yang brutal mengakibatkan petani merugi, sektor perkebunan kelapa sawit yang dimiliki para konglomerat dengan hak guna usaha (HGU) di sektor tambang batu bara,pemiliknya ya mereka juga, di sektor migas kilang kilang minyak raksasa pemiliknya asing hinggga elpiji dipasaran menjadi mahal bahkan langka.
Bencana alam sendiri bagian dari fenomena alam, Semua ini menuntun kita untuk sabar, ikhlas, intropeksi, pengalihan fungsi lahan, membabat habis hutan, pengambilan SDA secara ugal-ugalan.
Islam itu paripurna mempunyai solusi setiap permasalahan, Rosul bersabda: Imam/khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya (HR: Muslim dan Ahmad) .
Penguasa semestinya memberikan hak-hak yang memang menjadi hak warganya apalagi jika itu kebutuhan primer (pangan, sandang, papan) penguasa juga wajib menjamin keamanan, kesehatan, pendidikan dll, serta mencegah, penanggulangan bencana alam.
Sistem kapitalis demokrasi yang diterapkan negeri ini telah membuat kerusakan di semua sektor, maka negeri ini harus diselamatkan dari sistem yang rusak kembali pada aturan Islam Kaffah. Allah berfirman: telah tampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar (Qs. Ar Rum 30:41).

