Site icon

Fatamorgana Moderasi Beragama Jadi Solusi Solusi Persoalan Bangsa

WhatsApp Image 2023-10-09 at 05.28.58

Oleh : Ummu Aziz

Hingga hari ini, topik moderasi beragama masih saja mengarus di berbagai forum dan media massa. Berbagai simposium, seminar, dan pidato para pejabat masih mengangkat narasi ini dengan berbagai pendekatan.
Menag Yaqut Cholil Qoumas menyebut penguatan moderasi beragama bisa menyolusi permasalahan sosial keagamaan.

Begitu istimewanya proyek moderasi beragama, khususnya moderasi Islam bagi pemerintahan sekarang. Proyek ini terus digadang-gadang bisa menjadi solusi problem utama bangsa. Bahkan dipandang amat penting bagi kemajuan Islam dan juga dunia secara keseluruhan. Masalahnya, apa yang dibaca sebagai problem utama bangsa tak lain adalah sikap intoleransi dan radikalisme beragama yang terus menerus ditudingkan kepada Islam. Kedua sikap ini dianggap sebagai akar perpecahan bangsa, sekaligus memicu munculnya aksi-aksi teror atas nama Islam yang mencederai ketenteraman dan persatuan.

Pertanyaannya, benarkah intoleransi dan radikalisme adalah problem utama bangsa hingga pembangunan harus fokus pada moderasi beragama? Jika pun kasus-kasus intoleransi, radikalisme, dan teror memang ada, haruskah Islam kafah yang dipersalahkan hingga harus menjadi korban proyek moderasi beragama? Dengan berpikir jujur dan objektif, maka akan tampak bahwa problem utama bangsa ini sejatinya bukan intoleransi, radikalisme, dan terorisme sebagaimana yang ditudingkan. Selain kasuistik, fakta-fakta itu nyatanya hanyalah satu cabang dari masalah besar berupa penerapan sistem sekuler kapitalis neoliberal. Sistem ini jelas-jelas telah memproduksi berbagai keburukan di berbagai aspek kehidupan. Termasuk munculnya ketakadilan, krisis ekonomi, krisis moral, krisis politik, dan krisis hukum yang memperlemah posisi kekuasaan. Dampak lanjutannya, kondisi inilah yang memberi ruang lebar bagi munculnya aksi-aksi melawan kemapanan dan pemikiran anti kekuasaan.

Moderasi beragama mengajarkan semua agama adalah sama sehingga tidak boleh mengklaim hanya satu agama yang benar dan yang lain salah. Artinya, moderasi menganggap kedudukan Islam sama dengan Kristen, Hindu, Buddha, dan lainnya; semuanya benar dan sama-sama menuju Tuhan dan surga yang sama. Tentu saja, jelas ini adalah keyakinan yang salah dan bertentangan dengan ajaran Islam sebagaimana penjelasan di atas. Akan tetapi, sekalipun bertentangan dengan ajaran Islam, yang juga aneh bin janggal, moderasi beragama terus dipromosikan dan diklaim mampu menjadi solusi.

Pertanyaannya, solusi bagi siapa? Apakah bagi umat Islam? Jawabannya ya jelas tidak! Ini karena moderasi beragama tidak memberi kebaikan apa pun bagi umat Islam. Buktinya, gegara moderasi beragama, syariat Islam terus dibenturkan dengan konsep dan pemikiran selain Islam (baca: Barat), seperti HAM, demokrasi, pluralisme, feminisme, dan sebagainya. Contoh lain, hukuman Islam tentang potong tangan bagi pencuri yang mencuri lebih dari seperempat dinar (1 dinar setara 4,25 gram emas) tidak bisa terterapkan karena bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan melanggar HAM. Kemudian hukum waris dengan pembagian perempuan mendapatkan setengah daripada laki laki, menjadi ajaran yang banyak sekali kena hujat karena bertentangan dengan feminisme yang mengajarkan keadilan dan kesetaraan gender.

Demikian juga dengan syariat Islam tentang Khilafah, begitu banyak serangan terhadap ajaran mulia dari Allah ini karena dianggap berbahaya bagi keberlangsungan sistem demokrasi kufur yang tegak hari ini.

Dengan demikian, jelas, moderasi beragama tidak memberi solusi, tetapi justru makin menjauhkan umat dari aturan Allah Swt.. Demi moderasi pula, mereka mengompromikan demokrasi dengan Islam sehingga muncullah sebutan “demokrasi Islam”. Padahal, demokrasi dan Islam sangatlah bertentangan karena demokrasi adalah ide batil yang menjadikan rakyat (manusia) sebagai sumber hukum, sedangkan Islam adalah al-haq yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya Sang Pembuat hukum bagi manusia. Inilah harapan dari moderasi beragama, yakni mencampuradukkan hak dan batil. Tidak hanya itu, demi moderasi, umat Islam terpaksa berlapang dada ketika syariat Islam tidak bisa terterapkan secara kafah.

Umat Islam juga terpaksa membiarkan kesesatan dan kemaksiatan atas nama kebebasan dan HAM. Lihatlah berbagai ritual budaya yang mengajarkan kesyirikan dan jelas bertentangan dengan Islam, semua ada di depan mata, tetapi umat Islam hanya bisa diam.
Sungguh, begitu banyak kemaksiatan, misalnya seks bebas, L913T, miras, dan sebagainya yang malah menjadi “legal” melalui berbagai peraturan. Umat yang protes akan langsung mendapat cap “radikal”. Walhasil, moderasi beragama telah menjadikan umat Islam menjadi sekuler, menjadikan Islam sebatas ajaran spiritual yang mengatur urusan akhirat (salat, puasa, zakat, dll.) dan menolak menerapkan ajaran Islam yang mengatur urusan politik dan urusan duniawi lainnya, seperti ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan sebagainya.

Oleh karenanya, apa yang akan menimpa umat ini ketika mengambil sebagian hukum Allah dan meninggalkan sebagian lainnya? Yaitu kehinaan di dunia dan azab yang pedih di akhirat, na’udzubillah! (Lihat QS Al-Baqarah: 85). Itulah yang terjadi hari ini. Berbagai problem menimpa negeri ini tanpa pernah ada solusi hakiki. Pada akhirnya, moderasi beragama bukanlah solusi, tetapi justru membawa masalah bagi umat. ***

Exit mobile version