Site icon

Fenomena Aneh Terjadi Dalam Sistem Demokrasi

WhatsApp Image 2022-03-29 at 16.19.30

Oleh : Sindi Laras Wari (Aktivis Muslimah)

Negeri dengan produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia sedang menghadapi fenomena yang sangat aneh yaitu kelangkaan minyak goreng dari kelapa sawit. Sungguh sangat memalukan dan memprihatinkan hidup dalam naungan negeri yang seperti itu. “Usaha pemerintah menstabilkan harga minyak goreng melalui penetapan HET minyak goreng curah Rp11.500, kemasan sederhana Rp13.500 dan kemasan premium Rp14.000 belum membuahkan hasil” kata Hidayatullah Muttaqin Ekonom dari Universitas Lambung Mangkurat (okezone.com, 14/03/2022).

Fenomena kelangkaan minyak goreng sudah terjadi sejak akhir tahun 2021. Tak sedikit oknum yang menjual dengan harga yang cukup tinggi, bahkan ketika pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi tetap saja ada oknum yang menjual di atas harga eceran tertinggi.

Fenomena ini membuat banyak masyarakat rela datang dan mengantre berdesakan serta mengabaikan protokol kesehatan sebagaimana anjuran pemerintah. Bahkan ada seorang ibu yang sampai meninggal akibat ingin dapat membeli minyak goreng tersebut.

Fenomena yang sangat meresahkan banyak masyarakat dan sayangnya belum usai hingga saat ini. Terbukti dengan apa yang kita rasakan saat ini, minyak goreng sulit ditemukan, kalaupun ada dijual, pastilah dengan harga yang sangat tinggi. Bahkan pemerintah sekalipun tidak dapat berbuat banyak untuk menyelesaikan masalah minyak goreng ini.

Sehingga banyak kaum ibu dan pedagang kaki lima yang protes dengan fenomena kelangkaan minyak goreng. Mereka menilai bahwa para wakil rakyat lebih mementingkan urusan mereka sendiri dengan membagikan kekuasaan yang ada, bukan malah menyelesaikan masalah minyak goreng yang langka dengan menyangkut kepentingan rakyatnya.

Bahkan ditemukan ada partai yang membagikan minyak goreng secara gratis hingga 10 ton. Sementara partai lain juga mengadakan operasi pasar murah. Sehingga kedua partai tersebut namanya ikut terseret dalam kelangkaan minyak goreng yang sedang berlangsung. Membuat banyak masyarakat bertanya dari mana dan bagaimana bisa partai tersebut mendapat minyak goreng yang disubsidi oleh pemerintah. Sebagian masyarakat juga menilai bahwa itu adalah salah satu cara partai tersebut agar namanya mendapatkan perhatian oleh publik.

Seperti itulah potret kepemimpinan dalam rezim neoleb dan politik sekuler sistem demokrasi yang terjadi saat ini yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat dan mampu menzalimi rakyatnya. Mereka lebih mementingkan urusan partai mereka sendiri ketimbang urusan rakyatnya. Memanfaat keterpurukan rakyat demi kepentingan politik mereka sendiri.

Rasulullah SAW bersabda: “Dengarkan, apa yang kalian dengar bahwa sepeninggalku nanti akan ada pemimpin-pemimpin barang siapa yang memasuki (berpihak kepada) mereka lalu membenarkan kedustaan mereka serta membantu kezaliman mereka, ia tidak termasuk golonganku dan tidak akan mendatangi telagaku. Barang siapa tidak memasuki (berpihak kepada) mereka, tidak membantu kezaliman mereka dan tidak membenarkan kedustaan mereka, ia termasuk golonganku, aku termasuk golongannya dan ia akan mendatangi telagaku.” (h.r. Tirmidzi, al-Nasai, dan al-Hakimli).

Sudah seharusnya kita kembali kepada sistem politik Islam. Kita mampu memahami bagaimana politik dalam Islam yang sesuai dengan aturan dari Sang Maha Pencipta, yang bisa menyejahterakan seluruh umat yang ada dalam naungan negara Islam tersebut, dan mampu bertahan hampir 13 abad lamanya, dan dapat kita bandingkan dengan keadaan negara kita saat ini yang tidak mampu menaungi rakyatnya, dan terus-terusan menghasilkan kepemimpinan yang tidak amanah berkat penerapan sistem demokrasi-kapitalisme. Untuk itu, kembalilah kepada sistem Islam dengan menerapkannya secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan.

Wallahualam bissawab.

Exit mobile version