Site icon

Gagalnya Pendidikan Sistem Sekuler, Bunuh Diri Jadi Populer

WhatsApp Image 2022-07-24 at 03.50.18

Oleh : Amy Sarahza

Seorang siswa SMA ditemukan tewas setelah overdosis minuman alkohol dan beberapa obat dari psikiater. Setelah mengetahui bahwa ia tak lulus masuk perguruan tinggi favoritnya, pasalnya dia bernazar jika lolos masuk akan memberikan santunan kepada anak yatim, dan akan bunuh diri jika tidak lolos. Berita ini pertamakali diunggah diakun twitter @utbkfess dan diceritakan oleh kakak si korban. Kasus bunuh diri ini mengingatkan kita pada peristiwa mahasiswa di Kalimantan Timur yang ditemukan tewas gantung diri pada Juli 2022 lalu. Hasil dugaan polisi bahwa motif gantung diri dipicu oleh depresi karena kuliah 7 tahun tak kunjung lulus dan skripsi yang ditolak dosen.

Menurut WHO dalam global burden of disease 2004, bunuh diri termasuk dalam 20 penyebab utama kematian untuk semua usia. Penyakit mental terutama depresi, pelecehan, kekerasan, latar belakang sosial dan budaya merupakan faktor resiko utama yang menyebabkan bunuh diri. Prilaku bunuh diri dapat dijadikan salah satu pendekatan untuk prevalensi gangguan kesehatan mental disuatu negara. Ini sekali lagi menjadi bukti nyata bahwa sistem kapitalisasi yang diterapkan di dunia sekarang ini sangat tidak manusiawi. Mengelola eksistensi orang orang yang bernaung dengan tata aturan nya, bagaimana tidak dalam sistem kapitasime setiap individu dibiarkan mencari sendiri sendiri cara bertahan hidup. Sementara dalam sistem ini berlaku hukum rimba kapitalisme yg menghamba harta dan materi. Alhasil pihak2 yg tak mampu meraih materi sementara poros kebahagiannya dipusatkan pada capaian nominal. Cepat atau lambat akan mengalami depresi dan putus harapan. Banyaknya kasus bunuh diri pada pelajar adalah lah bukti nyata pendidikan sekuler kapitalis gagal membangun kepribadian kuat pada pelajar. Pasalnya pendidikan pd sistem ini menjauhkan peran agama dari kehidupan, sistem ini justru membentuk generasi berkarakter materialistik dan liberalis, standar kehidupan mereka berputar pada harta dan materi. Karena itu mental mereka pun mudah rapuh hanya karna kekurangan materi. Di saat yang sama sistem sekuler membangun masyarakat yg penuh tekanan hidup, sulit mendapatkan kebutuhan, termasuk sulit dalam akses pendidikan, kesehatan dan lain lain. Apalagi jamak dipahami sistem pendidikan saat ini sarat menjadi objek komersialisasi, pendidikan yang berkualitas menjadi barang langka yang hanya bisa diraih oleh orang yang berada saja. Adapun mereka yang berpenghasilan menengah ke bawah harus bersaing ketat memperebutkan pendidikan berbiaya murah yg jumlah nya masih sangat sedikit. Alhasil ini menjadi bukti nyata bahwa sistem kapitalisme termasuk pendidikan sekulernya sangat tidak manusiawi mengelola eksistensi diri orang-orang yang bernaung dengan tata aturannya.

Kebalikan dengan sistem Islam yang menjadikan tujuan pembangunan kepribadian Islam sebagai inti dari sistem pendidikan menjamin akses pendidikan semua warga negara yang menghasilkan masyarakat kokoh dan sejahtera.

Akses pendidikan Islam adalah aqidah Islam, pendidikan dalam Islam bertujuan menguasai tsaqafah Islam, membentuk kepribadian Islam, menguasai ilmu kehidupan. Hal ini meniscayakan peserta didik dalam pendidikan Islam terbentuk menjadi orang-rang shalih karena standar kebahagiannya adalah ridha Allah ta’ala

Visi pendidikan dalam islam membangun dan memajukan peradaban islam. Negara khilafah bertanggung jawab penuh dalam mengarahkan potensi peserta didik dan calon intelektual serta mengupayakan agar pendidikan diperoleh oleh rakyat dengan mudah murah, bahkan gratis.

Dalam politik ekonomi khilafah memberikan perhatian besar terhadap pemenuhan kebutuhan pokok tiap warga negaranya hal ini tertuang dalam kitab muqadimmah ad dustur bagian kedua halaman 125: “khilafah wajib menjamin pemenuhan semua kebutuhan pokok seluruh warga negara, orang perorang dengan pemenuhan yg sempurna, dan menjamin adanya peluang setiap individu dari rakyat untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan pelengkap pada tingkat tertinggi mampu dicapai”. Khilafah memiliki mekanisme dalam memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya berdasarkan nash nash syariat. Rasulullah SAW bersabda ” Cukuplah seseorang itu dianggap berdosa ( bila) menelantarkan orang yg wajib ia beri makan” ( H.R Abu Dawud).

Begitupula halnya kebutuhan komunal seperti halnya pendidikan, kesehatan dan keamanan. Pemenuhan ini semua dijamin khilafah sebagaimana yg dilakukan Rasulullah SAW dalam menjamin pendidikan rakyatnya, Rasul mewajibkan tawanan mengajarkan kaum muslim sebagai tebusan kebebasan mereka. Dalam khilafah dipastikan tidak akan ada anak putus sekolah dan putus kuliah. Karena anak anak dari semua kelas sosial dapat mengakses pendidikan formal. Negara yang membayar tenaga pengajarnya seperti yg terjadi pada masa kegemilangan Islam. Khalifah al hakam II pada 265 M membangun 80 sekolah umum di Cordova dan 27 sekolah khusus bagi anak anak miskin, sungguh luar biasa kebijakan khilafah dalam menjamin keberlangsungan pendididkan setiap warga negaranya. Menggratiskan biaya pendidikan menjadi kebijakan manusiawi yang dilakukan khalifah. Inilah gambaran sistem pendidikan Islam yang hanya bisa terwujud dalam naungan khilafah islamiyah. Bukan dalam negara yang menganut sistem kapitalisme seperti saat ini. Wallahu’alam….

Exit mobile version