Site icon

Gedong Kirtya, Satu-Satunya Museum Lontar di Dunia

WhatsApp Image 2021-12-13 at 21.11.11

Kliksumatera.com, BALI– Gedong Kirtya dibangun di Singaraja oleh seorang Belanda yang bernama L.J.J Caron yang datang ke Bali bertemu dengan para raja dan tokoh agama untuk berdiskusi mengenai kekayaan kesenian sastra (lontar) yang ada di seluruh Bali. Kekayaan seni ini sepatutnya dipelihara agar tidak rusak atau hilang sehingga memberikan kesempatan bagi generasi selanjutnya untuk mengetahui isi dari kesenian sastra (lontar) tersebut.

Museum ini bermula dari sebuah yayasan yang diberi nama “Kirtya Lefrink – Van der Tuuk” yang bertugas untuk menjaga kesenian sastra tersebut. F.A Lefrink yang merupakan Asistan Resident pemerintah Belanda di Bali pada waktu itu sangat tertarik dengan Kebudayaan Bali dan banyak tulisan yang dibuat mengenai Bali dan Lombok. Dr. H.N Van der Tuuk, seorang sejarahwan yang memberikan tanah dan bangunannya untuk digunakan sebagai museum yang sekarang dikenal sebagai Museum Gedong Kirtya. Gedung ini terletak di kompleks Sasana Budaya, yang merupakan istana tua kerajaan Buleleng tepatnya Jalan Veteran, Singaraja. Pada masa itu, Singaraja merupakan ibukota Sunda Kecil.

Yayasan Van der Tuuk Memasuki 34 tahun kematian Van der Tuuk, diselenggarakan sebuah pertemuan sangat bersejarah. Tempatnya di Kintamani, kawasan pegunungan Batur, tanggal 2 Juni 1928. L.J.J Caron (residen/perwakilan pemerintah Belanda di Bali dan Lombok) dan para raja serta tokoh agama bertemu untuk berdiskusi mengenai kekayaan kesenian sastra dan lontar-lontar yang tersebar di seluruh Bali.

Rapat itu sepakat untuk membentuk lembaga kebudayaan Bali, dan sepakat untuk mengabadikan nama Van der Tuuk menjadi nama sebuah yayasan/lembaga yang mengurusi seni sastra di Bali; Stichting van der Tuuk.

Sebagai tindak lanjutnya, tidak lama kemudian, tanggal 14 September 1928, kelompok ini secara resmi membuka sebuah perpustakaan pertama di Bali. Perpustakaan itu bernama Kirtya Lefrink-Van der Tuuk; mengurusi lontar-lontar Bali dan Lombok.

Nama Liefrink diambil dari seorang asisten resident pemerintah Belanda di Bali yang juga sangat tertarik dengan kebudayaan Bali dan Lombok. Kata “kirtya” diusulkan oleh I Gusti Putu Djelantik, Raja Buleleng ketika itu; kirtya berakar kata “kr”, menjadi “krtya”, sebuah kata dari bahasa Sansekerta yang mengandung “usaha” atau “jerih payah”. Dari hasil riset terhadap koleksi perpustakaan Kirtya ini, ratusan tesis magister dan desertasi doktoral telah lahir. Ribuan karya ilmiah mengalir. Dan yang paling monumental, telah lahir sebuah megaproyek kamus Jawa Kuna, dikerjakan puluhan tahun oleh Profesor P.J. Zoetmulder (salah satu peneliti terbesar sastra Jawa Kuna yang akrab dipanggil Romo Zoet). Setelah Romo Zoet berpulang, misi ini dilanjutkan oleh Prof. S.O. Robson. Awalnya hanya seri Jawa Kuna-English, kini sudah tersedia terjemahan Jawa Kuna-Indonesia atas jerih payah Romo Dick Hartoko.

Tujuan yayasan itu, yakni melacak semua naskah yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dan Pertengahan, berbahasa Bali dan Sasak, sejauh itu masih terdapat di Bali dan Lombok (kebanyakan dimiliki oleh perorangan) dan untuk membuat kesempatan agar naskah-naskah tersebut dengan lebih mudah dikonsultasi(diakses) oleh para peminat.

Agar tujuan itu dapat dilaksanakan maka raja-raja setempat, para pendeta dan orang-perorangan di daerah itu diminta untuk menyerahkan milik mereka untuk sementara waktu kepada Perpustakaan Kirtya. Di sana sebuah panitia terdiri atas 12 orang memutuskan, naskah-naskah mana dianggap cukup berharga untuk disimpan dalam koleksi itu. Kemudian lontar-lontar itu disalin dengan seteliti mungkin oleh sebuah kelompok penyalin yang bekerja untuk perpustakaan Kirtya dengan bentuk huruf yang sama dan di atas bahan yang sama (daun lontar), dan kemudian lontar-lontar(pinjaman) itu dikembalikan kepada pemiliknya.

Mantan Bupati Buleleng Dr. Ketut Wirata Sindhu adalah orang yang telah mengembangkan perpustakaan ini menjadi sebuah museum. Museum ini didikasikan special untuk kesenian sastra yang ditulis pada daun kelapa (lontar) yang berasal dari seluruh Bali.

Di perpustakaan ini terdapat ribuan koleksi manuskrip daun lontar, prasasti, manuskrip kertas dalam bahasa Bali dan huruf Romawi termasuk dokumen-dokumen dari zaman kolonial (1901-1953).

Daftar lontar di Museum Gedung Kirtya :
A. WEDA (Bali)

Weda: Weda Indik Maligia, Weda Pangentas, Weda Panglukatan, Weda Sawawedana.
Mantra: Atmaraksa, Pabersihan, Pangastawa, Pujastawa, Tirta Gamana.
Kalpasastra: Banten Pangentas, Bebantenan, Caru Suci, Indik Galungan, Manca Balikrama,
Pacecaron, Pangabenan, Pawintenan, Plutuk, Sang Kulputih.

B. AGAMA

Palakerta: Agama, Purwadigama, Awig-awig, Kerta ring Sawah, Stri Sanggraha,
Pamastuning, Cor, Widi Pamincatan, Adigama, Paswara, Kutaragama.
Sesana: Dasa Sila, Dewa Sesana, Kerta Bujangga, Mantra Sesana, Putra Sesana, Raja
Sesana, Resi Sesana, Sarasamuscaya, Sila Krama, Sila Sesana Sang Prabu.
Niti: Niti Praja, Niti Sastra, Raja Niti.

C. WARIGA

Wewaran: Ala Ayuning Dewasa, Ala Ayuning Wuku, Palelintangan, Pangalihan Dina, Pawacakan, Sadreta, Suryamandala, Tenung Astawara, Tenung Pawetuan anut wuku, Tetenger Sasih.
Tutur Upadesa: Aji Kalepasan, Atma Tattwa, Badawang Nala, Bima Swarga, Brahmandapurana, Buanakosa, Catur Janma, Darma Bayu, Darma Putus, Kamoksan, Purwa Bumi , Rwabineda, Siwatiga, Tantu Pagelaran, Tutur Pralina
Kanda: Asta Kosali, Cacakan ayam, Canda (warga aksara), Dasa nama, Guru Lagu, Kanda Sastra, Kertabasa, Kruna lingga, Panerangan, Pangayam-ayam, Pangeger, Pangiwa, Pangujanan, Paramasastra, Paribasa, Pemanes Karang, Pengasih-asih, Piodalan, Siksan Kedis, Smara Kanda, Swara Wianjana, Wrettasancaya
Anusada: Bebayon, Buda Kecapi, Pakakas, Panawar, Tumbal Leak, Usada Buduh, Usada Rare, Usada Tuju

D. ITIHASA (WIRACARITA)

Parwa: Astadasaparwa, Calon Arang, Pamuteran Ksirarnawa, Uttara Kanda
Kekawin: Arjuna Wijaya , Arjuna Wiwaha, Barata Yuda, Boma Kawia, Gatotkacasraya,
Hariwangsa, Ramayana, Smaradahana, Sumaasantaka
Kidung: Alis Alis Ijo, Jagat Karana, Panji Malat Lasmi, Sri Tanjung, Sudamala
Gaguritan/ Paparikan: Basur, Brayut, Bungkling, Cupak, Durma, Jayaprana, Megantaka,
Pakangraras, Sampik, Salya 5.

E. BABAD

Pamancangah: Pamancangah Dalem, Prasasti- prasasti (Brahmana, Sengguhu, Dukuh,dll)
Babad: Babad Arya Kenceng, Babad Buleleng, Babad Gianyar, Babad Mengwi , Babad Panji, Sakti Wijaya, Babad Pasek, Babad Pasek Gelgel, Babad Rangga Lawe, Babad Usana Bali, Babad Usana Jawa

F. TANTRI

Tantri Hindu: Kidung Tantri (Bahasa Tengahan), Ni Diah Tantri (Bahasa Bali Kepara), Tantri
Kamandaka (Bahasa Kawi)
Tantri Bali: Gunawati, Lutung Mungili. (JPn ~ Made Tirtzhayasa).-

Sumber : JurnalPatroliNews/Kliksumatera.com
Posting  : Imam Ghazali

Exit mobile version