Site icon

Gen Z Wajib Menolak Two State Solution

WhatsApp Image 2025-10-10 at 06.46.59

Oleh : Eci Anggraini, Pendidik Palembang

Berita tentang tuntutan massa Generasi Z (Gen Z) dalam demo Maroko memuncaki daftar artikel Populer Global hari ini. Sementara itu, unjuk rasa juga terjadi di Eropa untuk memprotes pencegatan rombongan kapal Global Sumud Flotilla oleh Israel.

Gen Z dikenal sebagai generasi digital, tetapi mereka juga generasi nurani. Mereka hidup di tengah ledakan informasi, menyaksikan kebenaran dan kebohongan bercampur menjadi satu. Namun, di antara badai propaganda, mereka memilih berpihak pada yang tertindas.( Kompas. Com, Sabtu, 4/10/2025).

Aksi protes Gen Z di Maroko menjadi bukti nyata. Mereka bukan sekadar “aktivis layar”, tetapi manusia yang sadar bahwa solidaritas tidak boleh berhenti di unggahan media sosial. Mereka turun ke jalan, menolak bungkam, dan membawa pesan kepada dunia: Palestina bukan isu asing, melainkan urusan hati seluruh umat manusia.

Kepedulian ini lahir dari kepekaan spiritual. Gen Z Muslim, khususnya, melihat Palestina bukan hanya persoalan politik, tetapi juga tanggung jawab iman. Di setiap serangan terhadap Gaza, mereka melihat cermin: sejauh mana keimanan kita mampu melahirkan aksi nyata?

Di dalam dunia yang penuh distraksi, Gen Z menunjukkan bahwa idealisme belum mati. Mereka mengajarkan bahwa menulis tagar, berbagi informasi, dan menyuarakan keadilan adalah bagian dari perjuangan. Karena dalam Islam, setiap kata yang digunakan untuk menegakkan kebenaran adalah jihad.

Selama puluhan tahun, dunia dibuai dengan konsep Two State Solution, solusi dua negara yang seolah menjadi jalan damai antara Palestina dan Israel. Namun realitas di lapangan berkata sebaliknya. Alih-alih menghadirkan keadilan, konsep ini justru memperpanjang penjajahan.

Two State Solution hanyalah topeng diplomasi. Ia menuntut Palestina menerima sisa tanah yang terus mengecil, sementara penjajah terus membangun pemukiman ilegal. Ia memaksa rakyat tertindas untuk bernegosiasi dengan pelaku kejahatan, seolah keduanya setara.

Bahkan ketika dunia internasional membicarakan perdamaian, peluru tetap ditembakkan, rumah tetap dihancurkan, dan anak-anak tetap terbunuh. Maka, bagaimana mungkin keadilan bisa lahir dari kesepakatan yang timpang?

Menolak Two State Solution bukan berarti menolak perdamaian. Sebaliknya, itu adalah seruan untuk menghadirkan keadilan yang sejati. Perdamaian tanpa keadilan hanyalah istirahat sementara bagi kezaliman.

Dunia membutuhkan keberanian untuk berkata: tidak ada perdamaian dalam penindasan. Palestina bukan masalah dua negara, tetapi masalah penjajahan yang menuntut pembebasan total. Dan pembebasan itu hanya mungkin terwujud jika ada sistem yang menolak kompromi terhadap kezaliman.

Perjuangan membebaskan Palestina adalah perjuangan membangkitkan kembali nilai keadilan itu. Jihad bukan sekadar pertempuran fisik, tetapi juga perjuangan moral untuk menegakkan kebenaran dan menolak kompromi terhadap kebatilan.

Negara yang menyerukan dan menegakkan syariat Islam secara menyeluruh akan berdiri sebagai pelindung, bukan hanya bagi Muslim, tetapi bagi seluruh manusia yang menginginkan keadilan. Sebagaimana Rasulullah ﷺ menegakkan Piagam Madinah, di mana semua umat, termasuk Yahudi dan Nasrani, hidup damai di bawah keadilan Islam.

Palestina bukan sekadar tanah yang dijajah, tetapi simbol keadilan yang ditelantarkan dunia. Menolak Two State Solution bukan soal politik, tetapi soal keberpihakan moral dan spiritual.

Generasi Z, dengan segala kecerdasannya, memiliki tugas mulia: menjadi generasi yang tidak menormalisasi kezaliman. Dunia telah cukup lama tertipu oleh diplomasi semu; kini saatnya suara muda berbicara lantang.

Mereka bukan hanya saksi sejarah, tetapi pembuat sejarah. Dan sejarah akan mencatat bahwa di masa ketika dunia bungkam, Gen Z berdiri bersama Palestina bukan dengan amarah, tetapi dengan iman.

Karena pada akhirnya, keadilan hanya akan lahir dari sistem yang menegakkan syariat Allah secara menyeluruh dan adil. Selama masih ada iman dalam hati, Palestina tidak akan pernah sendiri. Wallahualam bissawab.

Exit mobile version