Site icon

Haji dan Paradoks Persatuan Umat : Ritual Agung yang Belum Menyatukan Dunia Islam

WhatsApp Image 2025-06-10 at 07.02.27

oleh : Khurunninun (Aktivis Dakwah)

Setiap tahun, dunia menyaksikan peristiwa spiritual terbesar yang menggambarkan persatuan luar biasa umat Islam. Jutaan Muslim dari berbagai bangsa, ras, suku, bahasa, dan warna kulit berkumpul di tanah suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Tidak ada perbedaan kasta, jabatan, atau status sosial. Semua mengenakan pakaian ihram yang sama, melafazkan talbiyah yang sama, dan bersujud di hadapan tuhan yang Esa.

Seperti yang dilansir dari antaranews.com-, bahwa jamaah calon haji dari berbagai negara melakukan Tawaf di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Jumat (30/5/2025).

Pemerintah Arab Saudi menerapkan Idul Adha jatuh pada Jumat (6/6). Sedangkan Hari Arafah (Wukuf di Arafah) sebagai rangkaian puncak musim haji pada 5 Juni 2025 yang akan diikuti 1,83 juta muslim dari berbagai penjuru dunia termasuk dari Indonesia yang tahun ini memiliki kuota sebanyak 221.000 jamaah.

Dalam pakaian ihram yang sederhana, semua Jemaah haji tampak seragam. Tidak ada yang membedakan apakah seseorang itu kaya atau miskin, pejabat atau rakyat biasa. Inilah simbol nyata bahwa Islam mampu menyatukan manusia melampaui sekat-sekat duniawi.

Momen ini sejatinya adalah potret ideal umat Islam yakni umat yang bersatu. Persatuan ini dibangun bukan atas kesamaaan suku, budaya, ataupun kewarganegaraan, tetapi atas dasar yang jauh lebih kokoh yakni aqidah Islam. Sebuah ikatan yang menyatukan umat manusia dalam keyakinan dan penghambaan kepada Allah SWT.

Namun, di balik keindahan simbolik ini, pertanyaan besar yang harus kita renungkan bersama adalah: mengapa persatuan luar biasa ini hanya tampak dalam ritual, tetapi lenyap dalam kehidupan nyata umat Islam sehari-hari? Mengapa selepas musim haji dan Idul Adha, umat Kembali pada keterpecahannya baik secara politik, sosial, maupun pemikiran?

Salah satu penyebab mendasar dari keterpecahan ini adalah ide nasionalisme. Paham ini telah menanamkan dalam benak umat bahwa loyalitas tertinggi adalah kepada negara-negara masing-masing, bukan kepada Islam dan umatnya secara global. Umat Islam dipaksa untuk merasa asing satu sama lain hanya karena berbeda negara. Palestina dianggap “ urusan mereka”, sementara penderitaan Muslim Rohingya atau Uighur hanya menjadi berita sesaat, tanpa empati yang mendalam.

Akibatnya, umat Islam mulai berfikir secara sekuler yakni memisahkan agama dari urusan publik dan negara. Islam cukup ditempatkan dalam masjid dan ritual, sementara urusan politik, ekonomi, hukum, dan pemerintahan diserahkan pada sistem buatan manusia. Padahal Islam adalah din yang syamil dan kamil ( mengatur seluruh aspek kehidupan).

Allah SWT menegaskan dala Al- Qur’an:

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai- berai…”

(QS. Ali Imran: 103)

 

Ayat ini adalah seruan tegas untuk Bersatu atas dasar Aqidah Ilam, bukan atas dasar etnis, ras, atau batas-batas negara ciptaan penjajah yang diwariskan pasca runtuhnya Khilafah Utsmaniyah tahun 1924.

Jika dilihat umat Islam yang jumlahnya hampir 2 miliar ini sebenarnya memiliki potensi luar biasa untuk menjadi kekuatan global yang disegani. Sumber daya alam yang melimpah, populasi besar, dan sejarah peradaban yang gemilang adalah modal yang tak dimiliki oleh bangsa lain. Namun semua ini menjadi lemah dan tidak berarti ketika umat terpecah-pecah, saling curiga, dan bahkan bermusuhan akibat sekat-sekat nasionalisme dan kepentingan geopolitik negara masing-masing.

Saatnya umat Islam bangkit dan menyadari bahwa persatuan sejati hanya bisa terwujud dalam institusi politik global Islam yaitu Khilafah. Sebuah institusi yang menyatukan umat dalam satu kepemimpinan, satu hukum, dan stu visi perjuangan yakni menegaklan keadilan dan Rahmat bagi seluruh alam.

Dan juga Idul Adha yang seharusnya menjadi momentum ketaatan total kepada Allah, seperti yang dicontohkan Nabi Ibrahim a’laihisalam, justru hanya menjadi ritual tahunan. Padahal, makna dari pengorbanan Nabi Ibrahim adalah bentuk ketaatan mutlak kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan termasuk dalam mengatur urusan umat dan negara. Yang berarti, Islam tidak hanya memerintahkan kita untuk salat dan haji, tetapi juga untuk berhukum dengan hukum Allah secara kaffah:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti Langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu mush yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208).

Sayangnya, pelajaran ini sering terhenti pada prosesi penyembelihan hewan. Umat menjalankan ibadah ritualnya, namun menolak tunduk pada syariat dalam urusan politik, ekonomi, hukum, dan pemerintahan. Seolah-olah Islam hanya relevan di masjid, tapi tidak di parlemen.

Karena itu, persatuan hakiki umat tidak cukup hanya dengan semangat ukhuwah atau kerja sama bilateral antarnegara. Persatuan ini  tidak akan pernah bisa terwujud secara hakiki selama kita masih berada dalam kerangka nasionalisme sempit dan tidak memiliki institusi pemersatu umat secara global. Sejarah telah membuktikan bahwa selama hampir 1300 tahun, umat Islam bersatu dalam naungan satu kepemimpinan Khilafah Islamiyah. Ketika Khilafah tegak, umat Islam adalah umat yang disegani dunia, menjadi mercusuar peradaban dan pelindung kaum tertindas.

Tanpa institusi ini, umat akan terus menjadi buih di lautan terlihat banyak, tetapi lemah dan mudah diombang-ambingkan.

Maka dari itu, saat kita menyaksikan jutaan muslim bersatu dalam haji, hendaknya kita tidak sekedar terharu, tetapi mengambil Pelajaran penting  bahwa persatuan itu penting, dan telah Allah ajarkan caranya. Namun, persatuan itu hanya akan abadi bila didaasarkan pada aqidah dan diwujudkan dalam sistem yang Allah ridhai, yaitu sistem Islam yang kaffah di dalam kepemimpinan Khilafah.

Momentum haji dan Idul Adha semestinya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan saja. Ia harus menjadi pengingat bahwa umat Islam sesungguhya satu tubuh, satu umat, dan satu aqidah. Dari momen haji ini mengajarkan bahwa umat ini bisa bersatu. Tapi kesatuan itu tidak boleh berhenti di tanah suci. Ia harus menjadi misi global untuk menyatukan kembali umat dalam satu institusi politik Islam, yang  menerapkan hukum Allah secara kaffah dan melindungi seluruh kaum muslim tanpa memandang batas negara.

Sudah saatnya umat Kembali merenungi makna Idul Adha sebagai ketaatan penuh kepada Allah dalam segala aspek kehidupan, bukan hanya di masjid, tetapi juga dalam urusan sosial, ekonomi, politik, dan pemerintahan. Ini Solusi yang nyata atas paradoks persatuan umat hari ini.  Mari Bersatu, bergerak, dan berjuang untuk mengembalikan kejayaan Islam yang telah lama hilang, bukan demi nostalgia sejarah, tetapi demi masa depan umat dan Rahmat bagi seluruh alam. Wallahua’alam.

Exit mobile version