Site icon

Hanya Khilafah Solusi dari Pembebasan Palestina

WhatsApp Image 2025-04-25 at 06.28.38

Oleh : Eci Anggraini, Pendidik Palembang

Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (WFP) telah memperingatkan tentang krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di Jalur Gaza, dengan menyatakan bahwa setidaknya dua juta orang – yang sebagian besar mengungsi – saat ini hidup tanpa sumber pendapatan apa pun, dan sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan pangan utama mereka.Dalam serangkaian pernyataan yang dirilis selama beberapa jam terakhir, WFP membunyikan alarm atas meningkatnya bahaya bagi ratusan ribu penduduk Gaza.

Mengutip dari The Peninsula, Minggu, 20 April 2025, WFP menyatakan keprihatinan mendalam atas penurunan tajam stok pangan, dengan memperingatkan bahwa Jalur Gaza berada di ambang bencana kemanusiaan. WFP menekankan bahwa situasi kritis ini diperparah penutupan perbatasan yang sedang berlangsung oleh Israel, yang mencegah pengiriman pasokan pangan penting ke Jalur Gaza.Menurut WFP, Gaza sangat membutuhkan aliran pangan yang tidak terputus dan terus-menerus untuk menghindari keruntuhan total ketahanan pangan, (MetroTV. com, Minggu, 20/04/2025).

Sungguh, nasionalisme telah membuat penguasa negeri-negeri muslim jumawa dengan paham kebangsaan masing-masing. Memanfaatkan emosional geografis tersebut, kaum kafir penjajah berhasil mengotak-kotakkan kaum muslim ke berbagai negara bangsa. Mereka hidup dalam batas-batas wilayah dan enggan memahami kondisi satu sama lain dengan alasan “itu bukan urusan kita”.

Kaum muslim yang tidak menyadari adanya upaya pecah belah ini, hidup dan berkembang dengan spirit nasionalisme, padahal nasionalisme adalah awal lumpuhnya perasaan dan pemikiran terhadap masalah di dunia Islam, termasuk Palestina.

Barat menghembuskan nasionalisme di wilayah Arab. Mereka mengangkat isu Pan Islamisme dan Pan Arabisme. Langkah ini terus mereka lakukan hingga satu per satu negeri-negeri muslim saat itu memisahkan dirinya dari pusat pemerintahan Khilafah Islamiah. Pada akhirnya, yang tersisa hanya Turki sebagai pusat pemerintahan.

Begitu pula wilayah kekuasaan Islam yang makin mengecil. Hal ini diperparah dengan banyaknya pengkhianat di tubuh kaum muslim. Pada saat itulah kaum kafir dengan mudahnya melenyapkan kekuasaan Islam yang telah berdiri selama kurang lebih 14 abad lamanya. Adapun Turki, kini menjadi negara sekuler yang juga tidak mampu memberi solusi nyata bagi Palestina. Sungguh menyedihkan!

Terlihat jelas bahwa nasionalisme adalah racun yang menggerogoti persatuan kaum muslim. Nasionalisme ini pula yang membuat kaum muslim senantiasa tersandung ketika hendak bangkit kembali meraih predikatnya sebagai umat terbaik. Nasionalisme menjadikan batas teritorial seolah-olah lebih sakral daripada ikatan akidah, padahal Islam menyerukan persatuan, bukan untuk bercerai-berai.

Rasulullah SAW mengibaratkan kaum muslim laksana satu tubuh. Beliau bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Bukhari dan Muslim).

Perasaan cinta terhadap tanah kelahiran pada dasarnya wajar, sebagaimana Rasulullah saw. pun selalu merindukan kota kelahirannya, Makkah. Hanya saja, menjadikan kecintaan itu sebagai spirit untuk bermusuhan dan berpecah belah tanpa memperhatikan ikatan akidah, itu sama sekali tidak ada nilainya di mata syariat.

Atas dasar itulah, Rasulullah SAW sendiri tidak menjadikan ikatan ashabiyah sebagai pengikat antara sesama muslim. Dari Zubair bin Muth’im, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bukan termasuk golongan kami, orang yang mengajak kepada ashabiyah, berperang karena ashabiyah dan mati karena ashabiyah.” (HR Abu Dawud). Ashabiyah inilah yang dikenal dengan istilah nasionalisme.

 

Dengan demikian, Islam sendiri sesungguhnya tidak mengenal nasionalisme. Artinya, nasionalisme lahir dari sistem sekuler kapitalisme yang memadamkan makna persaudaraan karena iman dan Islam. Jelas, nasionalisme tidak hanya membajak ikatan akidah para penguasa muslim, tetapi juga membuat mereka rela menunjukkan loyalitasnya pada penjajah demi kedudukan dan kekuasaan.

Persoalan Palestina tidak akan pernah tuntas jika penguasa-penguasa muslim hanya sibuk dengan konferensi, deklarasi, pertemuan organisasi-organisasi Islam, melancarkan protes, mengirim bantuan kemanusiaan, kritik sana-sini, apalagi dengan mengusung konsep moderasi beragama.

Perkara mendasar yang menyebabkan kaum muslim tidak mampu membebaskan Palestina adalah adanya perbedaan kepentingan dan ketakadaan visi yang sama. Mereka masing-masing sibuk dengan masalah dalam negerinya seraya mengesampingkan krisis Palestina. Kendati ada Iran, Irak, Mesir, dan Lebanon yang berperang dengan Yahudi, tetapi hal itu dalam rangka membela kepentingan negerinya masing-masing dan bukan untuk membebaskan Palestina.

Bencana yang dihadapi umat Islam di seluruh dunia, termasuk Palestina, bermula dari kebijakan kolonial berupa pendudukan Yahudi pascatumbangnya Khilafah Islamiah. Kebijakan politik Barat yang memecah belah umat Islam melalui Perjanjian Sykes Pycot setelah Perang Dunia II berjalan secara sistemis menghancurkan Khilafah, lalu mereka mendirikan negara Yahudi berdasarkan Deklarasi Balfour.

Dengan demikian, pembebasan Palestina sangat erat kaitannya dengan tegaknya Khilafah. Sejarah Palestina menunjukkan bahwa pendudukan Yahudi ini tidak akan terjadi ketika institusi Khilafah eksis dan bertugas melindungi negeri-negeri muslim. Terbukti pascaruntuhnya Khilafah, racun nasionalisme berhembus di tubuh umat Islam, sehingga mulailah saat itu para pemimpin Arab dan negeri muslim lainnya bungkam atas pencaplokan entitas Yahudi di Palestina.

Umat Islam seharusnya tidak ikut dalam arahan Barat mengenai solusi krisis Palestina. Sebaliknya, umat Islam harus mampu menggagas sendiri solusi permasalahan Palestina dan tidak boleh berkompromi dengan para penjajah. Umat pun tidak boleh tunduk pada ketentuan yang mereka sebut sebagai hukum internasional. Sebabnya, semua itu hanyalah mitos dan kebohongan global. Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian mencari penerangan dari api kaum musyrik.” (HR Bukhari, Ahmad, dan An-Nasa’i). Hadis ini berisi larangan bagi umat Islam untuk mengadopsi solusi kaum kafir penjajah atas masalah mereka.

Masalah Palestina juga tidak akan selesai dengan membentuk aliansi dengan orang-orang kafir melawan aliansi AS-Zion*s, seperti yang Erdogan lakukan dengan mengajak Presiden Putin melawan mereka. Ini karena Rusia adalah wujud kafir penjajah lain yang sama-sama bersyahwat keserakahan terhadap negeri-negeri Islam. Untuk itu, langkah kaum muslim haruslah menyeru para penguasa muslim agar memobilisasi pasukan militer mereka untuk berjihad melawan Zion*s.

Umat Islam justru harus bersatu dan bangkit mendobrak sekat-sekat geografis bernama nasionalisme yang selama ini membelenggu kaki dan tangan mereka. Umat harus menyadari bahwa mereka saat ini mereka terjajah secara pemikiran hingga tidak bisa berpandangan nyata untuk menggagas solusi tuntas atas pendudukan entitas Yahudi di Palestina.

Umat harus menyadari hal ini secara terus-menerus sehingga terbentuk kesadaran kolektif di tengah-tengah umat. Selanjutnya, umat bersama-sama berjuang untuk menegakkan institusi Khilafah yang secara nyata akan memberi solusi hakiki untuk membebaskan Palestina. Dengan tegaknya institusi ini, khalifah akan memobilisasi pasukan militer kaum muslim, dan mengarahkan tank-tank tangguh umat Islam pada entitas Yahudi melalui seruan jihad fii sabilillah.

Sungguh kebutuhan umat atas institusi Khilafah adalah perkara penting dan mendasar untuk memerdekan negeri-negeri muslim dari segala bentuk penjajahan kaum kafir. Wallahualam bissawab.

Exit mobile version