Oleh:Hj. Padliyati Siregar,ST
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menemukan komoditas daging ayam, bawang putih, cabai, gula, minyak goreng, daging sapi, telur dan tepung terigu selalu mengalami kenaikan harga tiap jelang Ramadhan.
Komisioner KPPU Dinni Melanie mengatakan, sebagian besar komoditas belum menunjukkan gejala kelangkaan.
Dia menjelaskan, sejak awal tahun Indonesia dihadapkan berbagai persoalaan di komoditas pangan, utamanya minyak goreng sejak akhir tahun 2021.Persoalan tersebut juga dihadapkan dengan adanya kenaikan pajak dan harga bahan bakar minyak sejak awal April.
Kenaikan harga selalu terjadi setiap tahun dengan siklus yang sama yaitu menjelang Ramadan dan hari raya lainnya. Padahal, pangan adalah kebutuhan pokok utama masyarakat. Seharusnya, siklus yang meresahkan warga ini mampu dihilangkan negara dengan menyediakan pasokan yang memadai dan menghilangkan semua distorsi pasar.
Negara yang mengadopsi sistem kapitalisme kerap fokus pada produksi dan mengabaikan distribusi. Sistem ini menjadikan harga sebagai satu-satunya pengendali distribusi. Artinya, setiap orang diperlakukan sama dan dipaksa berjuang bersama untuk mendapatkan bahan makanan dengan cara membeli. Tidak ada mekanisme lain kecuali dengan cara membeli.
Konsep bernegara ala kapitalis sangat kontraproduktif dengan Islam. Bila kapitalis mengabaikan kesejahteraan, Islam justru sangat memperhatikan kesejahteraan hidup masyarakat. Bila kapitalis berorientasi bisnis, Islam justru berorientasi melayani rakyat secara maksimalis.
Tentu saja jika hal ini terus terjadi dan pemerintah seolah menganggap hal yang biasa dan mengabaikan penderitaan rakyat. Kenaikan harga-harga yang dianggap bisa berbahaya bagi stabilitas ekonomi dan politik bangsa bahkan bisa menyebabkan kekacauan dan krisis politik yang memakan korban jiwa.
Jangan sampai masyarakat seperti ayam yang mati di lumbung sendiri. Kondisi negaranya gemah ripah loh jinawi. Tongkat saja ditanam bisa jadi tanaman. Sedangkan lautan bagaikan kolam susu yang menyediakan gizi beraneka ragam. Nahasnya, rakyat sulit dalam mencari pangan. Mereka harus merogoh kocek yang dalam guna menikmati semua kekayaan tersebut.
Islam Mengatasi Harga Pangan
Selain masalah ibadah ritual, sebenarnya Islam juga mengurus masalah lainnya, seperti kenaikan harga pangan. Islam memiliki solusi jangka panjang dan pendek dalam menghadapi masalah ini.
Solusi jangka pendek yang ditawarkan Islam adalah melakukan operasi pasar. Di saat harga bahan pangan murah dan melimpah, pemerintah akan membeli bahan tersebut dari para petani dengan harga yang cukup. Dengan begitu, mereka tidak akan mengalami kerugian. Bahan pangan itu akan diolah dan disimpan untuk keperluan ke depan.
Kemudian, saat harga pangan mulai tinggi seperti saat ini, pemerintah juga akan melakukan operasi pasar. Barang atau bahan pangan yang dibeli sebelumnya akan dikeluarkan dan dijual dengan harga murah sehingga konsumen tidak merasa berat membelinya.
Selain itu, pemegang kebijakan juga akan melakukan sidak kepada distributor/penjual yang berbuat nakal (menimbun barang dengan sengaja agar harga naik). Para mafia itu akan dikenai sanksi yang tegas sehingga tidak akan berani menimbun lagi.
Pemerintah juga tidak akan berani mematok harga karena Islam mengharamkan mematok harga. Dengan demikian, pemerintah akan melakukan hal-hal di atas untuk menstabilkan harga.
Adapun solusi jangka panjang yang ditawarkan Islam adalah penerapan Islam kafah. Dengan penerapan itu, mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Penerapan Islam kafah ini juga akan memudahkan segala solusi jangka pendek dilakukan dengan sempurna.
Dengan penjelasan tadi, alangkah sempurnanya aturan Islam di mana pemegang kebijakan akan berusaha adil pada produsen, distributor dan konsumen sehingga rakyat tidak akan pernah berhenti berharap. Melihat hal ini, masihkah kita ragu mengambil Islam? ***

