Site icon

Intervensi Asing, Jalan Masuk Penentu Kebijakan

WhatsApp Image 2021-08-06 at 01.57.40

Oleh : Hj Padliyati Siregar ST

Ratusan tentara Amerika Serikat (AS) tiba di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang untuk mengikuti acara latihan bersama TNI AD. Ratusan tentara AS itu tiba di RI dengan mengikuti protokol kesehatan yang ketat.

Sebanyak 330 tentara AS dilaporkan tiba di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang pada Sabtu (24/7/2021). Mereka akan mengikuti latihan bersama TNI AD pada 1-14 Agustus 2021 di tiga daerah latihan tempur Baturaja, Amborawang, dan Makalisung.

“Tujuan dari latihan bersama ini adalah untuk meningkatkan kerja sama dan kemampuan prajurit TNI AD dengan AD Amerika Serikat dalam pelaksanaan tugas operasi,” jelas Kepala Dinas Penerangan, Brigjen TNI Tatang Subarna, dalam keterangannya.

Latihan ini disebut menjadi latihan terbesar dalam sejarah kerja sama antara TNI AD dengan tentara AS. Latihan ini akan diikuti oleh 2.246 personel TNI AD dan 2.282 personel tentara AD AS dengan materi latihan Staff Exercise, Field Training Exercise, Live Fire Exercise, Medical Exercise, dan Aviation.

Tentu saja ini patut di pertanyakan, dimana Indonesia sekarang sedang mengalami penyebaran Covid yang luar biasa dan perlu penanganan serius, sementara di satu sisi harus mempersiapkan hal-hal untuk menopang agenda latihan bersama ini.

Apakah sebegitu urgensinya latihan ini bagi Indonesia? atau malah menjadi pertanyaan,tidak kah ini mengandung bahaya bagi kedaulatan dan pertahanan Indonesia?

Tentu saja kita harus berhati-hati dalam kebijakannya terkait dengan militer. Apalagi latihan bergabung bersama dengan negara asing, negara adidaya yang telah jelas memusuhi Islam dan kaum muslim. Itu sama saja menyerahkan diri kita kepadanya.

Perlu di pahami bahwa kedudukan militer adalah sangat penting. Bukan sekadar untuk melindungi warga saja, tetapi lebih dari itu, fungsi militer dalam Islam adalah untuk membela dan meninggikan kalimat Allah SWT agar syariat Islam terpelihara dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Negara wajib mempersiapkan kekuatan pasukan militer dengan maksimal.

Kita wajib mewaspadai agenda ini, seperti apa yang disampaikan oleh Pakar Politik dan Dosen Hubungan Internasional, Budi Mulyana menyampaikan, setidaknya ada beberapa poin yang bisa dibahas mengenai hal tersebut, berdasarkan perspektif konstelasi perpolitikan internasional.

Pertama, latihan gabungan TNI AD dan AS lagi-lagi sedang menegaskan bahwa Indonesia merupakan sekutu dari AS, bahkan Indonesia disebut-sebut sebagai sekutu kuat AS di Asia Tenggara. Pada realitasnya, latihan gabungan ini tak pernah terjalin antara TNI dengan tentara Rusia atau dengan tentara Cina. Sehingga, dalam konstelasi global, Indonesia bisa dikatakan lebih dekat dengan AS daripada dengan Rusia dan Cina. Walaupun kerja sama Indonesia dengan kedua negara tersebut juga banyak. Seperti kerja sama ekonomi dengan Cina dan kerja sama pembelian alutsista dengan Rusia.

Kedua, adanya potensi bahaya terhadap pertahanan dan keamanan. Sebab, dengan adanya latihan di lapangan akan memberikan gambaran sejauh mana kondisi militer di Indonesia.

Ketiga, infiltrasi sosial atau adanya interaksi antara tentara akan menciptakan jalinan relasi. Akhirnya bukan sesuatu yang tidak mungkin jika ada oknum dari TNI yang menjadi perpanjangan tangan kepentingan AS, misal dalam bisnis pembelian alutsista.

Keempat, dalam konstelasi perpolitikan global, AS sebagai negara adidaya menjadi sponsor penuh terhadap pelatihan tersebut. Indonesia hanya menyediakan tempat dan sarana. Tentu tak akan ada makan siang yang gratis. Sponsor penuh yang diberikan AS pastilah menuntut imbalannya.

Tentu saja dengan, hal ini bisa saja terjadi intervensi kebijakan. Negara semakin tidak berdaulat untuk menentukan kebijakan politik baik dalam maupun luar negerinya. Dan tidak menutup kemungkinan Indonesia menjadi penjaga kepentingan AS dalam pertarungan pengaruhnya dengan Cina.

Wallahu’alam bis showab.

Exit mobile version