Site icon

Islamofobia Makin Marak

WhatsApp Image 2022-04-18 at 01.21.38

Oleh: Rizkika Fitriani

Ketakutan terhadap Islam atau Islamofobia tak hanya marak di kalangan masyarakat Barat di Amerika dan Eropa, melainkan pula di Indonesia. Menghadapi serangan kelompok islamofobia, Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Fahmi Salim menyebut bahwa tugas semua muslim untuk menjelaskan dan menampilkan Islam yang tidak seperti mereka takutkan.

Dilansir dari laman PP Muhammadiyah, di Negara-negara Barat yang sekuler, terjadinya fenomena islamophobia menurutnya itu bukan suatu yang mengagetkan. Akan tetapi islamophobia di Negara dengan penduduk mayoritas Islam lebih mengkhawatirkan. (kabardamai.id, 9/4/2022).

Islamofobia semakin menjadi-jadi, tak kunjung mendapatkan solusi. Tepatnya tanggal 15 Maret kemarin, PBB mengumumkan hari internasional perangi islamofobia atau hari Anti islamofobia. Namun nihil, penetapan hari tersebut bukanlah solusi yang mampu memberhentikan kasus ini jika masih banyak celah dibiarkan hingga saat ini yang memicu penyebab terjadinya islamofobia. Perlu diketahui, yang harusnya dikoreksi yaitu akar permasalahan. Islamofobia marak karena di era pemikiran dan benturan peradaban. Disertai juga dengan penerapan sistem sekuler dan liberal yang menjadi sumber tempat lahirnya islamofobia.

Padahal jelas sekali merasakan bahwa Islamofobia makin marak, apalagi di negeri minoritas yang selalu saja menjadi korban kedzaliman dan tindasan. Begitu juga negeri mayoritas yang juga merasakan begitu banyak kasus yang mengarah pada islamofobia. Walaupun itu negeri minoritas maupun mayoritas, islamofobia tetap selalu ada. Hal ini perlu perhatian lebih untuk segera diatasi, karena bagaimana pun juga sebagai seorang muslim tidak boleh diam saja ketika melihat agama Islam yang makin hari semakin diisingkirkan. Jika hanya mengandalkan hari anti islamofobia tidak akan memberikan pengaruh apapun, percuma hanya memperingati hari tapi tidak ada tindakan, umat tidak butuh pencitraan, tapi butuh tindakan!

Ditelisik faktanya, faktor penyebab maraknya islamofobia antara lain :

Pertama, penerapan sistem sekuler-liberal yang lebih menjunjung tinggi kebangsaan dibandingkan agama, serta berasaskan kebebasan. Kebebasan berpikir, berpendapat, serta berperilaku. Bahkan islamofobia pun dianggap bagian dari tiga kebebasan tadi. Lagipula, sistem sekuler-liberal tentunya tidak berpihak pada aturan Islam, dalam hal ini satu persatu aturan yang keluar buah dari sistem saat ini yaitu semakin menjauh dari aturan Islam. Akibat didikan sekuler-liberai yang mengatasnamakan bhinneka tunggal Ika dan agama hanya dijadikan sebagai ritual ibadah didalam masjid saja, masyarakat semakin berpikiran bahwa beragama harus biasa-biasa saja, bahkan berislam secara menyeluruh pun seakan anti bagi mereka. Begitu banyak serangan dan pemikiran masyarakat saat ini yang lebih berpihak pada musuh Islam yang menjauhkan pemikiran Islam. Pantas saja banyak umat Islam juga turut anti dengan sistem Islam karena opini saat ini menggiring masyarakat kekuar dari ketaatan Islam.

Kedua, hilangnya junnah atau perisai. Pada sistem saat ini, negara hanyalah sebagai wadah yang seakan tak ada fungsinya, begitu banyak kasus islamofobia terdengar ditelinga masing-masing, tapi seakan semua membisu, begitu juga dengan pemimpin dalam sistem saat ini yang tidak mempunyai tindakan untuk memberhentikan kasus ini. Walau saat ini sudah mempunyai pemimpin, tapi pemimpin hari ini tidaklah ditakuti, bhkan tidak berfungsi sebagi tameng dan pelindung masyarakat, terkhusus melindungi agama.

Ketiga, tidak adanya hukum yang tegas yang diberlakukan. Semakin maraknya kasus islamofobia, hingga hari ini hukum yang selama ini diberlakukan bagi mereka yang terang-terangan bertindak semena-mena terhadap Islam, tak kunjung diberikan hukuman tegas yang memberikan efek jera. Inilah sebabnya islamofobia semakin marak bahkan menjadi-jadi karena tidak ada yang mereka takuti.

Keempat, tidak diterapkannya sistem Islam dalam bernegara. Ketika Islam tidak mengatur kehidupan, syariat Islam jadi terbengkalai, dan aturan sekarang juga tidak berpihak pada Islam yang seharusnya dimuliakan, kini seakan tak kunjung dirasakan kemuliaan Islam. Tidak diterapkannya sistem Islam juga tidak akan hadir sosok pemimpin yang berfungsi sebagai tameng atupun perisai terkhusus untuk melindungi agama. Disertai juga hilangnya persatuan umat yang harusnya mempunyai ikatan ukhuwah. Ketika umat terpecah belah seperti yang terjadi hari ini, semakin mudah para musuh Islam memerangi dan menyerang Islam, dari segi pemikiran maupun tindakan.

Adapun solusi yang seharusnya dilakukan yaitu dengan menerapkan kembali syariat Islam yang mampu membawa perubahan, serta memberikan solusi tuntas untuk mengatasi islamofobia. Karena kalau dilihat faktanya, yang difobiakan saat ini hanyalah Islam, sedangkan masih banyak agama lain bahkan sistem lain yang tidak ada istilah fobianya. Itu artinya saat ini dunia hanya menyudutkan Islam dan selalu berupaya menjauhkan Islam. Sudah seharusnya sistem Islam diterapkan untuk mengatur kehidupan, jika Islam mengatur kehidupan, maka lahirlah sosok pemimpin yang berfungsi sebagai tameng ataupun perisai. Khalifah tidak akan tinggal diam jika islamofobia disemarakkan, yang seharusnya dijauhkan yaitu sistem kufur yang bertentangan dengan Islam, karena yang selama ini menjadi sumber kerusakan yaitu sistem sekuler-liberal. Justru Islam yang akan memberikan solusi hakiki dalam mengatasi setiap kasus permasalahan. Ketahuilah, istilah islamofobia ini merupakan salah satu upaya barat yang ingin menghancurkan Islam. Umat harus segera sadar dengan menggencarkan perjuangan untuk menerapkan sistem Islam, agar Islam segera memenangkan pertarungan opini saat ini. ***

Exit mobile version