Site icon

Islamophobia Terjadi Lagi

WhatsApp Image 2023-07-06 at 08.45.14

Oleh : Adelusiana

Terjadi lagi dan lagi pembakaran Al-Qur’an yang dilakukan Politisi Swedia Rasmus Paludan beberapa waktu lalu. Pelaku bernama Salwal Momika, seorang
Atheis sekuler asal Irak. Ia membakar salinan Al-Qur’an tepat saat Hari Raya Idul Adha di depan Masjid Stockholm, pada Rabu (28-6-2023).

Pembakaran Al-Qur’an kembali terjadi tanpa ada sikap tegas kaum muslimin dan pemimpinnya. Padahal kita tahu Al-Qur’an bukan hanya sebuah kitab tapi Al-Qur’an ini adalah tuntunan hidup bagi umat muslim di seluruh dunia.

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan kerjasama internasional (HLNKI), Sudarnoto Abdul Hakim mengatakan pemerintah Swedia harus segera merespons kecaman dunia soal aksi pembakaran Al-Qur’an yang dilakukan oleh warga negaranya.

Banyak negara muslim mengecam pembakaran Al-Qur’an tersebut. Seperti negara Arab dan negeri muslim lainnya. Mesir, Arab Saudi, Turki, Malaysia, dan Indonesia ikut mengecam dan mengutuk aksi pembakaran Al-Quran.

Dengan adanya respons umat Islam dan para pemimpin negeri Islam sebenarnya menunjukkan betapa lemahnya negeri-negeri muslim di hadapan barat. Di mana ada penistaan, penghinaan, dan pelecehan terhadap Islam dan kitabnya.

Para pemimpin negeri muslim hanya bisa marah, tersinggung, mengecam, dan mengutuk secara diplomatis.

Namun tidak ada satu pemimpin pun yang menunjukkan pembelaan yang hakiki. Dan mencukupkan diri dengan mengecam tanpa tindakan nyata. Tidak ada sanksi yang memberikan efek jera terhadap pelaku pembakaran Al-Qur’an yang dilakukan oleh orang-orang pembenci Islam.

Akhirnya penistaan terhadap Islam dan kitabnya terus berulang dan para pembenci
Islam akan terus berulah. Umat Islam bagaikan buih di lautan. Jumlahnya banyak, tetapi tidak memiliki kekuatan. Karena tidak dipimpin oleh kepemimpinan yang tunggal dan syariat tidak dijalankan.

Islam menjadikan negara sebagai pihak yang paling bertanggung jawab. Menjaga agama dan Al-Qur’an dan mengajarkan kepada rakyat untuk menunjukkan pembelaannya, di mana negara berhak memberikan dan bertanggung jawab atas sangsi pelecehan agama dan kitabnya.

Tapi ketika kita dipimpin oleh kepemimpinan yang tidak menjalankan syari’at dan justru pro terhadap barat, maka pembelaan yang hakiki terhadap umat muslim dan kitab-kitabnya hanya lah sebuah angan-angan umat muslim saja.

Karena sejatinya hanya syariat Islam lah yang mampu bertanggung jawab dan menjaga agama dan kitab-kitabnya. Maka dari itu sudah kewajiban kaum muslimin membela dan memperjuangkan syariatnya.

Allah SWT secara tegas memerintahkan muslim untuk menjadi penolong (agama)-nya. Sebagaimana firman Allah SWT “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah
Kalian para anshorullah/penolong (Agama) Allah.”( QS.As-shaff :14).

Dari ayat di atas Allah SWT secara tegas memerintahkan kita untuk menolong agama Allah bukan hanya sekedar marah dan mengecam saja seperti yang dilakukan oleh negeri-negeri muslim lainnya tetapi kita butuh negara yang pemimpinnya benar-benar menerapkan syariat Islam secara kaffah agar bisa menolong agama Allah dan syariat Nya.

Wallahu a’lam bisshowwab.

Exit mobile version