Site icon

Israel Didukung Adidaya, Palestina Dibela Setengah Hati

WhatsApp Image 2021-05-27 at 19.50.54

Oleh : Frumsia Wijaya, Pendidik

Serangan udara Israel di Jalur Gaza menghancurkan beberapa rumah dan menewaskan puluhan warga Palestina di Jalur Gaza. Ada 42 orang tewas, termasuk 10 anak-anak. Dilansir dari Reuters, serangan itu dilakukan pada Minggu (16/5/2021). Militer Israel mengatakan korban sipil tidak disengaja (news.detik.com).

Dalam membahas agresi Israel di wilayah Palestina, khususnya Al-Quds Al-Shareef atau Yerusalem dan juga jalur Gaza, Menlu RI, Retno LP Marsudi, mengatakan Langkah kunci terakhir, terkait tentang OKI, yaitu OKI harus tetap fokus membantu kemerdekaan bangsa Palestina. Negoisasi multilateral harus terus didorong. “Dalam kaitan ini, OKI harus lebih keras berupaya untuk mendorong dimulainya kembali negosiasi multilateral yang kredibel. Yang berpedoman pada parameter-parameter yang telah disetujui secara internasional. Dengan tujuan mencapai perdamaian yang lestari berdasarkan prinsip solusi dua negara,” ujar Retno, (news.detik.com).

Di sisi lain, Biden selaku Presiden AS menghubungi Presiden Palestina Mahmoud Abbas di tengah ketegangan konflik Israel dan Palestina, beliau meminta Abbas menggerakkan kelompok Hamas untuk menghentikan serangan roket ke Israel, (news.detik.com).

Palestina sesungguhnya adalah milik kaum muslimin. Namun, dalam perjalanan sejarah yang panjang dan dukungan berbagai perjanjian, Barat membantu Yahudi untuk menguasai Palestina dan mengusir penduduk Palestina hingga kini.

Berbagai solusi tawaran Barat untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel bukanlah solusi hakiki yang mampu mengembalikan Palestina ke dalam pangkuan kaum muslimin.

Pengamat politik internasional, Ustaz Farid Wadjdi menegaskan berbagai solusi apa pun kalau tidak berujung pada pengusiran penjajah Yahudi di tanah Palestina itu tidak akan menyelesaikan masalah, mulai dari solusi dua negara yang sebelumnya pernah di usung amerika, meski kelihatan indah kata dua negara seolah hidup berdampingan, hidup damai, namun kenyataannya solusi dua negara itu melegalkan penjajahan Yahudi ini.

Serta merta warga Israel maupun rakyat Palestina merasa skeptis. Solusi realistis yang bisa menyenangkan Israel maupun negara-negara Arab mitra AS, membuat rakyat Palestina menderita tiada akhir.

Begitu pula solusi diplomasi atau perdamaian juga tidak menyelesaikan masalah. “Selama ini kan sering digagas berbagai bentuk diplomasi perdamaian. Mengapa? Karena syarat perdamaian yang digagas oleh negara-negara Barat itu mensyaratkan pengakuan terhadap negara Yahudi ini. Ini juga tidak akan menyelesaikan masalah. Karena dengan pengakuan negara Yahudi ini berarti eksistensi negara Yahudi ini menjadi legal,” terang Farid.

Bahkan, solusi Palestina dengan normalisasi juga tak menyelesaikan masalah. Adanya pengakuan diplomasi terhadap negara Yahudi, yang mana Turki, Mesir serta Yordania telah mengakui keberadaan Yahudi, tepatnya saat Turki di masa setelah Kemal Ataturk, tepatnya Maret 1949. Turki ini negara yang paling awal memiliki hubungan dengan negara Yahudi ini walaupun dinamikanya naik turun.
Nyatalah, organisasi dan komunitas internasional telah gagal menyelesaikan konflik panjang Palestina-Israel. Ini berarti dunia tidak berdaya untuk menghapuskan penjajahan manusia atas manusia. Rakyat Palestina harus berjuang sendirian di tengah serangan mematikan tentara Israel.

Satu hal yang pasti, untuk membebaskan tanah mulia ini tentu dibutuhkan kekuatan militer yang hebat yang mampu mengalahkan tentara Israel dan sekutunya. Tentu saja, kekuatan militer itu harus datang dari luar Palestina.

Maka yang harus dilakukan umat Islam terhadap Yahudi ini tidak lain kecuali jihad fi sabilillah. Jihad ini menjadi tanggung jawab umat Islam, terutama para penguasa negeri Islam yang memiliki kekuatan militer dan para komandan militer. Kalau masih menjadi halangan berarti ada persoalan politik di belakangnya.

Atau bahkan umat Islam tidak memiliki institusi politik global yang menyatukan negeri Islam. Inilah relevansi mengapa menegakkan Islam oleh umat Islam menjadi penting karena Hanya Daulah Islamiahlah yang pantas menjadi harapan untuk mengakhiri konflik tiada akhir Palestina-Israel, melindungi kemuliaan rakyat Palestina, serta menghadirkan kesejahteraan dan keamanan.

Di bawah naungan Khilafah, ketakwaan umat akan dibangun, perilakunya akan diawasi oleh masyarakat agar tetap terjaga, dan bagi yang melanggar akan dijatuhi sanksi bagi sesuai syariat Islam. Walhasil, tampaklah wajah Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Wallahu a’lam bishawab.

Exit mobile version