Site icon

Israk Mikraj Momentum Kebangkitan Politik Islam

WhatsApp Image 2021-03-11 at 17.57.06

Oleh : Hj. Padliyati Siregar, ST

Israk Mikraj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Al Aqsa di Yerusalem (Israk), kemudian dilanjutkan menuju langit ke Sidratul Muntaha (Mikraj) dengan tujuan menerima wahyu Allah SWT. Peristiwa Israk Mikraj terjadi pada 621 M, dua tahun setelah wafatnya sang istri Siti Khadijah dan paman Rasulullah, Abu Thalib.

Sebelum peristiwa ini, Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya mendapatkan tekanan politik dari segala sendi kehidupan yang digencarkan oleh kaum Quraish.

Akibat perbuatan kaum musyrikin dan setelah menelan pahitnya kegagalan cita-cita ketika beliau pergi ke Thoif, maka Allah SWT hendak menghormatinya dengan perjalanan yang penuh berkah ini, yakni perjalanan Israk Mikraj.

Dengan penghormatan ini seolah-olah Allah SWT berfirman kepadanya: Wahai Muhammad, jika bumi terasa sempit olehmu, maka langit itu sangat luas bagimu. Jika penduduk bumi memusuhimu, maka penduduk langit menyambut baik kedatanganmu. Jika penduduk bumi menghinamu, maka kedudukanmu di sisi Allah sangatlah mulia.

Di sanalah, pembuktian keteladanan dan kearifan Rasulullah SAW sebagai pemimpin untuk pengikutnya (koalisi murni karena Allah SWT). Rasulullah SAW menyiasati dua hal penting, yakni ideologi dan sistem yang dibangun haruslah kuat, akurat, dan sejalan dengan fitrah manusia.

Shiddiq, amanah, tabligh, dan fathonah dalam menghadapi pelbagai persoalan serta ancaman. Allah SWT mempunyai kehendak dan rencana baik untuk selanjutnya menghadiahi Rasulullah sebuah perjalanan menuju Arsy yang kemudian dikenal dengan istilah Israk Mikraj.

Tiga Dimensi Israk Mikraj Israk

Dimensi politik kepemimpinan sang Nabi pada peristiwa Israk Mikraj menurut Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Jie, seorang guru besar di Kuwait, melalui kitabnya Qira’ah Siyasiyah Li Sirah Nabawiyah, terbagi menjadi tiga yakni politik, sosial, dan spiritual.

Pertama, Rasulullah SAW tampil menjadi imam ketika shalat bersama para Nabi yang membawa agama samawi sebelumnya. Artinya, Rasulullah SAW adalah pemimpin.

Tanda-tanda yang terlihat. Dengan demikian, telah terjadi perubahan politik yang sangat mendasar. Fakta ini menunjukkan terjadinya pergeseran kepemimpinan dari Bani Israil kepada umat Muhammad SAW.

Kedua, kepemimpinan dunia beralih ke Rasulullah SAW. Dapat dikatakan demikian sebab agama samawi yang masih ada, yakni Yahudi dan Kristen, adalah agama Bangsa Israel. Akan tetapi, orang-orang yang mengemban agama tersebut, sudah tidak layak lagi untuk memimpin.

Mereka telah menjual agama dan ideologi dengan harga murah, mendistorsi agama, dan mengganti petunjuk-petunjuk yang menjadi ciri khasnya.

Ketiga, pemimpin atau penguasa atas Baitul Maqdis sesungguhnya peristiwa Israk ke Baitul Maqdis menunjukkan bahwa Al-Quds adalah bakal wilayah kekuasaan Daulah Islam yang akan berdiri. Artinya, beliaulah sejatinya pemimpin Baitul Maqdis yang merupakan rumah suci salah satu wilayah di antara sejumlah wilayah Islam nantinya akan berkibar di sana bendera Islam.

Imam Para Nabi

Salah satu momen monumental bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslim adalah ketika beliau diizinkan Allah SWT mengimami para nabi dan rasul dalam satu shalat berjamaah. Mengenai peristiwa ini Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh telah diperlihatkan kepadaku jemaah para nabi. Ada Musa sedang berdiri salat. Dia lelaki tinggi kekar seakan-akan ia termasuk suku Sanu’ah. Ada Isa bin Maryam AS sedang berdiri salat. Manusia yang paling mirip dengan dia adalah ‘Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi. Adapula Ibrahim as. sedang berdiri salat. Lantas aku mengimami mereka…” (HR Muslim).

Inilah salah satu kemukjizatan yang Allah SWT berikan kepada beliau. Allahlah satu-satunya yang mewafatkan seluruh manusia. Dia pula yang sanggup membangkitkan mereka. Karena itu semestinya tak ada keraguan sedikit pun dalam benak seorang Muslim melainkan meyakini peristiwa agung ini.

Keunggulan yang Allah SWT limpahkan kepada Rasulullah saw. dengan mengimami para nabi dan rasul adalah ketetapan yang agung. Demikianlah, Allah SWT telah mengutamakan sebagian nabi atas sebagian nabi yang lain (QS al-Baqarah [2]: 253).

Kepemimpinan Rasulullah SAW sebagai imam para nabi bukan sekadar dalam shalat pada saat Israk dan Mikraj, tetapi berlangsung hingga Hari Akhir. Ketetapan ini disampaikan dalam firman Allah SWT:

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ

(Ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepada kalian berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepada kalian seorang rasul yang membenarkan apa yang ada pada kalian, niscaya kalian akan sungguh-sungguh mengimani dan menolong dia.” Allah berfirman, “Apakah kalian mengakui dan menerima perjanjian-Ku atas yang demikian?” Mereka menjawab, “Kami mengakui.” Allah berfirman, “Kalau begitu, saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kalian.” (TQS Ali Imran [3]: 81).

Imam as-Sa’di menjelaskan ayat di atas: “Dengan demikian setiap nabi, andai bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, niscaya diwajibkan mengimani, mengikuti sekaligus menolong beliau. Beliau adalah imam mereka, yang membimbing mereka dan panutan mereka. Dengan demikian ayat yang mulia ini bagian dari keagungan petunjuk atas keluhuran martabat beliau, dan menunjukkan bahwa Rasulullah SAW adalah nabi yang paling utama serta pemimpin bagi mereka.” (As-Sa’di, Taysir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Manan, 1/136).

Kabar ini pula yang disampaikan Rasulullah SAW kepada Umar bin al-Khaththab ra. pada saat beliau menegur Umar yang membawa lembaran-lembaran Taurat:

لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً، و َلَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلا اتِّبَاعِي
Sungguh aku datang kepada kalian membawa (wahyu) yang putih bersih. Andai Musa masih hidup, tidaklah ia melakukan apa-apa selain mengikutiku (HR Ahmad).

Karena itulah kelak pada Hari Akhir semua manusia akan berkumpul di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW, di bawah naungan Liwa al-Hamd. Rasulullah SAW. bersabda:

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آَدَمَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ، وَبِيَدِيْ لِوَاءُ اْلحَمْدِ وَلاَ فَخْرَ، وَ مَا مِنْ نَبِيٍّ يَوْمَئِذٍ آَدَمُ فَمَنْ سِوَاهُ إِلاَّ تَحْتَ لِوَاءِيْ
Akulah pemimpin anak Adam pada Hari Kiamat dan bukannya sombong. Di tanganku Bendera al-Hamd dan bukannya sombong. Tidak ada seorang nabi pun, tidak pula Adam, juga yang lainnya ketika itu, kecuali semua di bawah benderaku (HR at-Tirmidzi).

Hadis ini menunjukkan keutamaan dan kekhususan Nabi Muhamad SAW atas semua manusia. Tentang hal ini Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahulLah berkata: “Muhammad SAW adalah imam para nabi dan juru bicara mereka serta pemberi syafaat mereka. Umatnya adalah umat terbaik dan para sahabatnya adalah para sahabat terbaik para nabi.” (Ibnu Qudamah, Lum’ah al-I’tiqad, 1/28).

Dengan demikian setelah Nabi Muhammad SAW diutus membawa Islam, semua agama yang dibawa oleh para nabi dan rasul sebelumnya telah gugur masa berlakunya, terhapus ajarannya, dan semua umat manusia wajib memeluk Islam dan menjalankan syariah beliau. Rasulullah SAW bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
Demi Zat Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak mengimani agama yang aku bawa, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka (HR Muslim).

Sejumlah kemuliaan yang dilimpahkan Allah kepada Rasulullah SAW membawa konsekuensi, yakni Islam dan umatnya wajib memimpin dunia. Pasalnya, semua nabi dan rasul telah menyerahkan umat mereka kepada Nabi Muhammad SAW juga menundukkan agama mereka ada agama Islam.

Sayang, realita hari ini menunjukkan bahwa umat Muslim justru dipimpin oleh sistem selain Islam. Bahkan tak sedikit umat yang membelakangi dan menyelisihi ajaran nabi mereka sendiri. Padahal Allah SWT telah menetapkan bahwa Islam akan terus memimpin umat manusia dan mengalahkan semua agama dan sistem lain yang batil (QS ash-Shaf [61]: 9).

Karena itu renungkanlah peristiwa Israk dan Mikraj kala semua nabi dan rasul menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Rasulullah SAW. Semua bermakmum kepada beliau. Lalu mengapa hari ini kaum Muslim justru bermakmum kepada umat lain? Apa pertanggungjawaban kita kelak di hadapan Baginda Nabi SAW? ***

 

Exit mobile version