Site icon

Jangan Kau Gadaikan Pulau Natuna

WhatsApp Image 2020-11-08 at 00.16.11

Penulis : Emmy Rina Subki

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmawanto Juwana menyatakan, kehadiran Menteri Luar Negeri Pompeo ke Indonesia bertujuan untuk bertemu dengan mitranya Menlu Retno Marsudi dan beraudiensi dengan Presiden Joko Widodo untuk memberi pesan positif ke China yang belakangngan sangat agresif di Laut Cina Selatan. Juga menegaskan pernyataan Menlu Pompeo yang memuji Indonesia dalam sengketa di Laut China Selatan, tidak terlepas dari kepentingan AS, di kawasan itu.(liputan6.com).

Dalam kesempatan ini ke dua negara juga membicarakan kerja sama sejumlah sektor termasuk ekonomi, kesehatan, dan pertahanan. Dalam hal investasi, Indonesia mengundang pelaku bisnis As untuk lebih banyak berinvestasi di Indonesia., seperti di Pulau Natuna. Kebijakan ini sangat disayangkan, karena kebijakan untuk menarik modal insvestor asing sama saja bunuh diri. Karena tidak ada “makan siang gratis”, kemungkinan ada yang di korbankan, dengan menarik insvestor asing, atau bekerja sama dalam bentuk apapun dengan negara penjajah. Salah satunya AS yang merupakan bagian dari negara yang telah mendukung genosida muslim di Palestina, serta negeri negeri muslim lainnya. Sungguh negeri kita tidak patut menjalin kerja sama ini, karena sama saja Indonesia menunjukkan tidak adanya rasa empati dan bisa dibilang pengkhianat.

Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim tentunya tidak layak mengambil keputusan ini. Apalagi selama ini Indonesia selalu tergantung pada asing dan aseng, dengan dalih memperbaiki ekonomi dan pertahanan. Padahal sejatinya langkah ini bukanlah langkah yang bijaksana. Karena di dalam sistem kapitalis, sang pemilik modal itulah yang akan mendapat keuntungan dari kerja sama tersebut. Hal ini sama saja dengan menyerahkan kedaulatan negara ke tangan penjajah. Di sela-sela kunjungngan Pompeo ke Indonesia, Pompeo menyempatkan hadir di acara GP Ansor yang bertajuk nurturing di jakarta. Gerakan Pemuda (GP) Ansor meluruskan pandangan soal Islam. Dalam pertemuan itu, GP Ansor menyampaikan bahwa Islam adalah agama penuh kasih sayang dan tidak identik dengan teror.

Hal itu disampaikan Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas usai pertemuan dengan Mike Pompeo dalam acara bertajuk ‘Nurturing The Share Civilization Aspirations of Islam Rahmatan Li Al-‘amin The Republic of Indonesia and The United Stated of America’.
Menurut Yaqut, Islam rahmatan lil alamin, begitu juga dengan ideologi Pancasila, sangat menghargai perbedaan. Langkah itu disebut sejalan dengan komisi yang dibentuk Mike Pompeo terkait Hak Asasi Manusia yang Tidak Bisa Dicabut (Unalienable Rights).

“Melalui pertemuan ini, GP Ansor juga ingin meluruskan citra Islam, terutama di dunia Barat, bahwa Islam tidak identik dengan kekerasan dan teror. Karena Islam adalah agama yang penuh rahmah, penuh kasih sayang, yang di Indonesia dikenal dengan Islam yang rahmatan lil alamin,” ujar Yaqut dalam keterangannya, Kamis (29/10/2020).

Pria yang akrab disapa Gus Yaqut itu mengatakan pihaknya juga ingin menunjukkan bahwa Islam yang didakwahkan oleh ulama di Indonesia adalah Islam yang moderat. Islam, menurutnya, tidak seperti ditemui di dunia Barat, apalagi seperti kejadian yang tengah jadi sorotan beberapa hari terakhir di Prancis. Hal ini sangat memberikan efek buruk, dan tentunya seolah olah islam di citrakan buruk karena identik dengan kekerasan dan teror. Padahal umat islam lah selama ini di tindas, dijajah dan dilecehkan. Apalagi kejadian di prancis beberapa hari yang lalu karena adanya pelecehan terhadap nabi kita Muhammad SAW.
Dengan adanya karikartur manusia yang sangat mulia yang sama saja melecehkan Islam dan sudah sepatutnya setiap umat muslim membela kehormatan agamanya. “Pemerintah Amerika saya kira penting melihat Islam di Indonesia bahwa ternyata tidak seperti gambaran Islam di dunia Barat yang dicitrakan negatif. Oleh karena itu, beliau mau datang ke sini, ingin melihat secara langsung dan mudah-mudahan ini juga menjadi bagian dari dakwah Nahdlatul Ulama bahwa Islam itu, menjadi rahmat bagi sekalian alam,” ungkapnya.

Dalam hal ini, pernyataan ketua GP Ansor tersebut ini tidak logis. Karena islam adalah ideologi yang hak. Islam adalah satu, tidak ada istilah Islam moderat. Ini sangat menyesatkan. Hal ini sama saja menunjukan perpecahan islam itu sendiri. Hingga menklaim islam moderatlah yang bisa diterima di manapun adalah salah besar. Ini menunjukkan kesesatan yang nyata, dan menunjukkan sikap seperti ini adalah bentuk dukungan islamofibia dan isu radikalisme, yang dihembuskan oleh musuh musuh Islam. Padahal telah jelas di dalam QS: almaidah;57 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman ! janganlah kamu menjadikan pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman”. Jadi bagaimana mungkin kita berakrab dengan menjalin persahabatan dengan negara yang telah banyak menunjukkkan permusuhan yang nyata dengan umat Islam.

Gus Yaqut menyatakan, bahwa pertemuan dengan Pompeo, ini berawal dari deklarasi humanitarian Islam yang dilakukan Ansor dua tahun lalu di Jombang, yakni bagaimana menerjemahkan Islam untuk kemanusiaan dan Islam yang menghargai perbedaan. Juga sekaligus menyamakan cara pandang antara Indonesia dan AS. Sungguh pernyataan ini menimbulkan kekeliruan dalam sudut pandang Islam. Karena yang di maksudkan bisa menyamakan pandangan menerjemahkan Islam untuk kemanusiaan.

Padahal jelas, Islam adalah agama dan ideologi yang sohih dan suci. Tidak bisa di samakan dengan ideologi apapun. Dan di dalam islam sudah mempunyai aturan yang benar dan sempurna. Berdasarkan fakta di atas, tentu kita harus mengambil kebijakan yang sesuai dengan pandangan Islam. Di dalam sistem negara khilafah, tidak dibenarkan negara islam bekerja sama dengan negeri kafir penjajah, serta melarang berteman baik dengan negeri penjajah tersebut. Negara harus mempunyai kedaulatan ekonomi, dan pertahanan supaya tidak terjerumus ke dalam kehancuran.

Negara tidak akan membiarkan aset aset kekayaan alam di kelola asing. Karena di dalam sistem khilafah kekayaan alam hanya di peruntukan untuk kesejahteraan rakyat, bukan para korporasi apalagi pribadi. Sehingga di dalam sistem negara khilafah rakyat akan sejahtera, serta negara tidak tergantung kepada asing dan aseng. Alhasil negara akan mempunyai kedaulatan sendiri bukan menjadi pembebek. Tidak akan ada yang berani melecehkan. Karena tugas kholifah di samping melindungi rakyatnya adalah memelihara akidah, maka sudah saatnya sistem yang rusak di ganti dengan sistem Islam. Karena hanya dengan menerapkan aturan Islam rakyat akan sejahtera dalam seluruh aspek kehidupan. Baik dalam aspek pemerintahan, politik, ekonomi, pertahanan, dan sebagainya. Hal ini akan terwujud dalam institusi negara khilafah islamiyah. ***

Wallahualam bissawab….

Exit mobile version