Oleh : Deswayenti (Pemerhati Pendidikan
Owner Rumah Peradaban SNC)
Mengapa orang sulit berlaku adil? Ini adalah pertanyaan singkat, jelas dan sederhana bukan? Tapi kenyataannya pertanyaan ini susah di cari jawabannya bahkan menjadi PR sepanjang zaman. Secara sederhana kita mendefinisikan keadilan adalah bersikap tepat, proporsional sesuai aturan dan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.
Baru-baru ini beredar karangan bunga yang bertuliskan turut berduka “atas matinya keadilan” di sudut kota Surabaya. Terkait kasus kematian Dini Sera Afrianti, di mana Pengadilan Negeri Surabaya memvonis bebas Ronald Tannur terdakwa kasus penganiayaan kekasihnya itu. Meskipun barang bukti berupa rekaman CCTV dan hasil visum korban telah di hadirkan dalam persidangan tapi majelis hakim tetap memberikan keputusannya bahwa terdakwa tidak bersalah. Lantaran terindikasi terdakwa adalah anak pejabat. (28 Juli 2024.Jpnn.com)
Sebenarnya kasus serupa kerap terjadi dan selalu terdengar di sekitar kita. Di mana ketika hukum berhadapan dengan seseorang yang mempunyai kuasa di negeri ini maka tidak ada yang bisa di lakukan selain menerima. Diskriminasi hukum kian jelas, bukan barang aneh lagi jika di negeri ini hukum tumpul ke atas, tajam ke bawah membuat mereka yg jelata tidak berdaya. Kondisi ini sudah tidak bisa di biarkan, tidak adanya keadilan atau perbuatan zalim yang tersistem dan dilindungi oleh penguasa ini harus serius ditangani negara.
Sudah saatnya negara tidak lagi pandang bulu dalam penerapan hukum, jika tidak ingin kehancuran bagi negeri ini karena pasukan dari hati-hati yang patah. Dan Allah SWT punya “tradisi” hukuman sendiri bagi para pelaku kezaliman. Sejarah banyak mengisahkan tentang hancurnya suatu negara dan peradaban di masa lampau akibat tidak adanya keadilan dan kebenaran. Dan risalah keadilan di emban oleh semua rasul ‘alaihimusalam.
Tidak adil alias zalim dalam penerapan hukum termasuk kezaliman antara sesama manusia. Dalam tatanan kehidupan, jalan untuk memupus kezaliman adalah dengan memberikan hukuman yang setara dengan kezaliman yang diperbuatnya.
Allah SWT berfirman : “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan serupa, maka siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya (atas) tanggungan Allah SWT. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. ” ( QS. Asy-Syura : 40)
Islam adalah satu-satunya jalan keluar bagi problematika yang menimpa umat terkait dengan keadilan. Ajaran Islam tentang keadilan mencakup segala aspek kehidupan : ibadah, sosial, budaya, ekonomi dan politik.
Allah SWT memerintahkan berlaku adil dan melarang segala macam bentuk kezaliman meskipun terhadap orang kafir.
Dikisahkan, Khalifah Umar bin Khattab RA pernah menghukum putera Gubernur Mesir yang mencambuk seorang kafir dzimmi tanpa kesalahan dengan hukuman serupa.
Dari kisah ini, keislaman dan kekufuran suatu negeri bukanlah penghalang bagi penegakkan keadilan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah berkata : “Sesungguhnya Allah menegakkan negara yang adil, meskipun kafir dan menghancurkan negara yang zalim meskipun muslim.”
Artinya seorang muslim tetap bertugas menegakkan keadilan dan menentang kezaliman meskipun hidup di masyarakat kafir. Saking murkanya Allah terhadap para pelaku kezaliman terdapat 250 ayat yang mengupas tentang kezaliman dalam seluruh bentuknya. Ganjarannya mereka yang berbuat tidak adil atau zalim akan diperoleh di dunia dan di akhirat. Sunnatullah, ketentuan Allah terus berlaku terhadap mereka.
Dalam proses penegakan keadilan, tugas utama berasal di tangan para penguasa, tokoh, dan pemegang kebijakan dalam masyarakat. Dengan memperhatikan tingkat keilmuan dan pemahaman yang harus mereka miliki terdapat kepercayaan umat yang tinggi pada pundak mereka. Tanggung jawab itulah yang harus di pegang sekuat tenaga dan di wujudkan dalam sebuah kekuasaan dan negara yang di atur dalam rambu-rambu syariat Islam.
Setiap muslim harus menjadi pelopor bagi tegaknya keadilan di negeri ini. Dan gerak gerik perjuangan menegakkan keadilan sekecil apapun tidak boleh menyimpang dari syariat. Kezaliman adalah sesuatu yang harus di perjuangkan untuk di runtuhkan. Meskipun sedikit pejuang tegaknya keadilan tidak menjadi penghalang untuk menghancurkannya.
“Betapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak atas izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah : 249).
Ingatlah keadilan hanya dapat di pahami secara luas melalui agama karena dampak dari berbuat adil adalah ketakwaan yang merupakan esensi kehidupan.
“Berlaku adil lah, karena keadilan itu akan membawa kepada ketakwaan.” (QS. Al Maidah : 8)
Wallahu al-muwaffiq.

