Oleh: Widya (Muslimah Peduli Generasi)
Komandan Posko Dukungan Operasi Satgas COVID-19 DI Yogyakarya Pristiawan Buntoro mengonfirmasi sebanyak 63 pasien di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta meninggal dunia dalam sehari semalam pada Sabtu (3/7/2021) hingga Minggu (4/7/2021) pagi akibat menipisnya stok oksigen. Lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia membuat kelangkaan tabung oksigen. Sejumlah rumah sakit mengaku kesulitan mencari medium penampung oksigen tersebut di tengah tingginya kebutuhan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan peningkatan kebutuhan tabung oksigen terjadi karena rumah sakit menambah fasilitas ruang perawatan dalam penanganan Covid-19, baik dalam bentuk bangsal maupun tenda darurat. “Kami mencoba agar kebutuhan tabung oksigen untuk perawatan pasien Covid-19 bisa terpenuhi,” katanya, mengutip siaran pers, Selasa (29/6/2021).
Ternyata ada penyebabnya populasi tabung oksigen di Indonesia saat ini sekitar 1,5-1,8 juta tabung. Kelangkaan terjadi karena lambatnya perputaran tabung oksigen akibat lonjakan kasus Covid-19. Namun, sekitar 70–80 persen rumah sakit di Pulau Jawa telah memiliki fasilitas Instalasi Regasifikasi Oksigen.
Negara adalah pihak yang seharusnya bertindak cepat dalam menangani krisis oksigen. Karena pemerintahlah yang memiliki kekuasaan untuk mengatur suplai oksigen bagi rumah sakit dan masyarakat yang isolasi mandiri. Apalagi krisis oksigen ini adalah perkara yang sangat besar. seharusnya pemerintah segera sigap memastikan ketersediaan oksigen di RS dan penjual yang melayani masyarakat. Namun pemerintah tampak abai terhadap peringatan ini, hingga terjadi krisis oksigen di mana-mana.
Mirisnya, pada saat di dalam negeri mengalami krisis oksigen, pada 28 Juni 2021, Indonesia justru kembali memberikan hibah 2.000 unit tabung oksigen ke India (CNN Indonesia, 28/6/2021). Indonesia sebelumnya telah mengirim 1.400 unit tabung oksigen pada 10 Mei 2021. Selang tiga minggu, ada pengiriman lagi dengan jumlah lebih banyak yakni 2.400 tabung (CNBC Indonesia, 28/6/2021).
Akibat kelangkahan oksigen ini banyak pihak yang menjadi korban dipihak rumah sakit sendiri banyak pasien yg tidak mendapatkan penanganan yang memadai bahkan ada tenaga medis yang mengalami tindak kekerasan yang dilakukan oleh keluarga pasien karena pihak rumah sakit tidak bisa memberikan tabung oksigen pada pasien.
Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi semua persoalan dan kasus kekurangan oksigen ini?
Bagaimanapun, kita harus mempunyai langkah strategis untuk menyikapi pandemi ini. ternyata Islam punya solusinya. Yaitu dengan cara lockdown, memisahkan antara yang sehat dengan yang sakit. Yang sakit akan di obati dengan cara yang benar.
Ini sudah jelas sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Apabila kalian mendengar wabah di suatu tempat, maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu, maka janganlah keluar darinya,” (HR Muslim).
Sayangnya, negeri kita tidak bisa mewujudkan semua itu karena masih didominasi kebijakan sekuler kapitalistik yang besasaskan maslahat masih tarik ulur antara lockdown atau kepentingan dan maslahat. Kalau kita lihat fakta di lapangan yang terjadi WNA dan TKA pun masih leluasa bermigrasi ke sini. Malah mereka sengaja “diundang” oleh pemerintah atas nama pariwisata selama masa pandemi.
Akibatnya, lockdown pun setengah hati. Belum lagi, hanya sebagian rakyat yang sadar dan berusaha menaati protokol kesehatan.masyarakat masih bertanya tanya apakah covid ini memang nyata adanya.
Dan apa bila badai pandemi tidak dihadapi dengan sungguh-sungguh oleh semua pihak. tentu semua itu tidak akan terselesaikan jika nakhoda negeri tidak tegas dan konsisten menetapkan kebijakan ini maka pengusa harus berkonsentrasi penuh pada penanggulangan pandemi.
Karena itu, penting sekali untuk terus menjadikan lockdown sebagai kebijakan urgen dan utama bagi penanggulangan pandemi. Asalkan, lockdown tersebut dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh penguasa.dan pengusalah yang akan bertanggung jawab atas seluruh kebutuhan rakyatnya.
Tak ada alasan lagi, sebagai negeri muslim terbesar di dunia, sudah sangat layak bagi Indonesia juga mengambil solusi syar’i dalam penanganan pandemi. Semata karena solusi yang bersumber dari syariat, pasti memberikan kebaikan bagi masyarakat luas. Demikianlah semestinya,
Konsep lockdown yang dilakukan oleh Khilafah fokus pada aspek kesehatan dan penyelamatan jiwa rakyatnya.
Khilafah akan terus meningkatkan sistem dan fasilitas kesehatan dengan kualitas terbaik dan kuantitas yang sangat mutakhir. Sementara, protokol kesehatan juga diterapkan di seluruh penjuru negeri dan dalam pengawasan khalifah.maka hanya dengan sistem Islam lah yang bisa menyelamatkan dunia dalam menangani setiap bencana dan wabah yang sedang melanda.
Wallahu’alam….

