Oleh : Irohima
Jalan berlubang dan bergelombang kembali memakan korban. Meninggalnya Putri Aisyah (23) yang mengalami kecelakaan karena terjatuh dari sepeda motor setelah berkendara melintasi jalan berlubang di ruas jalan AKBP Cek Agus Palembang dan tertabrak truk jenis roda 10 membuat daftar korban akibat jalan yang berlubang semakin panjang. Masyarakat pun semakin menyoroti kejadian kecelakaan akibat jalan rusak sering terjadi (sumselupdate.com, 23/04/2024).
Kegelisahan masyarakat semakin menyeruak, masyarakat pun kerap menyampaikan keluhan terkait permasalahan jalan, salah satunya lewat sebuah video yang viral di dunia maya, video yang berdurasi sekitar 50 detik tersebut memperlihatkan seorang warga yang hanya memakai jas serta dasi tanpa baju, duduk di atas kubangan jalan rusak dan bergelombang di kawasan Dempo, warga tersebut melakukan protes terhadap Pemerintah Kota yang tak berinisiatif melakukan perbaikan jalan ( IDN TIMES Sumsel, 23/04/2024 ).
Usai video tersebut viral, pemerintah kota langsung mengambil tindakan perbaikan jalan di kawasan Dempo. diakui oleh mereka, kerusakan jalan disebabkan pembangunan proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) milik Pemkot dan Balai Prasarana Pemukiman Kementerian Pekerjaan Umum. Meski mengakui penyebab kerusakan jalan, pihak Balai Prasarana Pemukiman Sumsel mengklaim telah melakukan perbaikan jalan namun terlihat belum ditindaklanjuti karena kondisi jalan yang terus menerus digenangi banjir yang membuat jalan rusak.
Menurut data, terdapat 17 titik ruas jalan yang rusak akibat proyek IPAL Sei Selayur Kalidoni, 15 jalan di antaranya Jalan Lingkaran Dempo, Jalan Lematang, Jalan Segaran, Jalan Pangeran Antasari, Jalan Pasar 16 Ilir, Jalan Masjid Lama, Jalan Beringin Janggut, Jalan Sayangan, Jalan Tengkuruk Permai, Jalan Pengadilan, Jalan Lakitan, Jalan TP Rustam Effendi, Jalan Taman Siswa, Jalan Semeru, dan Jalan Dempo Luar, dan 2 jalan yang merupakan jalan provinsi yaitu Jalan Kolonel Atmo dan Jalan Letkol Iskandar. Data jalan rusak yang tercatat hanya berjumlah belasan, namun pada faktanya, jalan yang berlubang dan bergelombang tak hanya ada di ruas 15 jalan kota dan 2 jalan provinsi, kerusakan jalan, justru kerap kita temui di banyak ruas jalan lain dan sering menjadi penyebab terjadinya kecelakaan.
Jalan yang rusak disebabkan oleh banyak faktor seperti air, perubahan suhu, cuaca, temperatur udara, material kontruksi perkerasan, kondisi tanah dasar yang tidak stabil, proses pemadatan di atas lapisan tanah dasar yang kurang baik dan tonase atau muatan kendaraan-kendaraan berat yang melebihi kapasitas. Akhir-akhir ini Palembang didera hujan deras hingga banjir melanda hampir seluruh kota, banjir menyebabkan tergerusnya jalan, ditambah kendaraan-kendaraan berat dengan muatan over kapasitas akan menambah parah kondisi jalan. Apalagi kendaraan besar terkadang beroperasi di waktu yang tidak dibolehkan, tak heran jika jenis kendaraan yang sering terlibat kecelakaan adalah jenis kendaraan berat.
Miris, banyaknya jalan rusak dan tingginya kasus kecelakaan akibat jalan berlubang terkesan kurang mendapat perhatian dan lambat dalam penanganan, seperti kasus jalan Dempo Luar yang baru diperbaiki setelah video protes warga viral. Pembangunan infrastruktur baru yang tengah digalakkan pemerintah saat ini tak sejalan dengan kondisi infrastruktur yang rusak dan harus segera diperbaiki. Padahal alokasi belanja negara Tahun Anggaran 2024 untuk Sumatera Selatan mengalami peningkatan sebesar 10.31% atau sebesar Rp 51, 24 triliun. Sayangnya alokasi tersebut lebih difokuskan pada pembangunan infrastruktur jalan tol dan bendungan serta pariwisata.
Jalan merupakan infrastruktur yang memudahkan mobilitas manusia dan barang, mendukung pertumbuhan ekonomi dan memberikan akses ke layanan publik. Begitu pentingnya, maka perencanaan dan pengembangan jalan harus dilakukan dengan sedemikian rupa, pemeliharaan jalan pun selayaknya dilakukan secara berkala dan menjadi salah satu prioritas negara. Tapi sayangnya dalam sistem kapitalis, jalan dipandang sebagai salah satu peluang mencari keuntungan. Pembangunan jalan tol saat ini melibatkan banyak pihak swasta dengan dalih investasi. Mereka juga mengatakan adanya jalan tol akan mempermudah distribusi barang, menghemat waktu dan biaya. Padahal sejatinya, yang diuntungkan di sini adalah para investor pemilik jalan tol. Maka dari itu jalan tol berbayar lebih diprioritaskan ketimbang pembangunan ataupun perbaikan jalan di kota, desa, dan pemukiman warga. Adanya jalan tol juga tak memberi dampak langsung kepada warga, mereka justru mengeluhkan berbagai persoalan baru yang muncul setelah adanya jalan tol, seperti mahalnya tarif hingga mereka harus mengeluarkan biaya tak sedikit jika ingin menikmati fasilitas jalan tol.
Jika dalam kapitalisme, infrastruktur jalan diperdagangkan, berbeda halnya dengan Islam. Dalam Islam, jalan merupakan kebutuhan masyarakat yang harus disediakan oleh negara. Jikalau negara membangun jalan tol, maka pembuatan jalan tol memang bertujuan untuk memudahkan rakyat dan tidak menarik pungutan apapun atas pemakaiannya. Islam juga tidak akan membiarkan intervensi asing maupun swasta dalam pembangunan infrastruktur yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak seperti pembangunan jalan. Negara dalam Islam memiliki kemandirian finansial yang bersumber dari pendapatan negara seperti hasil pengolahan sumber daya alam dan kekayaan negara lainnya. Kemandirian finansial inilah yang akan membuat negara dalam Islam tak perlu melibatkan swasta atau asing dalam pengurusan keperluan rakyat.
Selama sistem kapitalis bercokol di negeri ini, jalan biasa yang menjadi sarana transportasi rakyat kecil akan sering diabaikan, jalan berlubang dan bergelombang akan terus menghiasi setiap perjalanan, dan kecelakaan akan selalu menjadi ancaman yang mengintai kita di jalan. Sudah sepatutnya kita kembali pada sistem Islam, karena hanya Islam yang bisa memberi jaminan keamanan dan kenyamanan.
Wallahualam bis shawab

