Site icon

Kesetaraan Gender adalah Virus yang Mematikan

WhatsApp Image 2020-03-22 at 10.34.34

Oleh : Rita Hartati, S. Hum

Puluhan anak tampak antusias membaca buku-buku bacaan di teras sebuah rumah di Desa Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Satu ruang di samping teras juga penuh dengan anak yang mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah. Ada pula kelompok bermain di sudut. Di halaman depan, anak-anak kecil dengan formasi bundar bernyanyi bersama.

Jika ditotal, setidaknya terdapat 40 anak usia sekolah, sebagian besar anak-anak yang ditinggalkan oleh ibu dan bapak untuk mencari nafkah di luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI).

Itulah suasana kelompok belajar Smart Class Dua Bersaudara. Diadakan setiap sore di rumah kader desa Suprihatin dan saudaranya, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan perhatian khusus kepada anak-anak TKI.

“Kegiatan belajar ini dapat menjadi saluran bagus bagi mereka agar mereka tidak terlalu bersedih karena ditinggal oleh ibu mereka dan bahkan oleh kedua orang tua mereka,” jelas Suprihatin.https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39132808.

Sungguh suatu kejadian yang memilukan, apalagi itu menimpa warga yang terkenal dengan negara kaya raya akan sumber daya alamnya, yang ada kemiskinan masih menjadi momok yang tak bisa dipecahkan bangsa ini.

Kemiskinan memang menjadi masalah utama dunia secara global. Namun kemiskinan seringkali dijadikan tameng bagi kaum feminis gender untuk meningkatkan partisipasi perempuan di ranah publik. Dalam isu gender dan kemiskinan, rumah tangga seringkali menjadi target serangan kaum gender. Rumah tangga dianggap sebagai salah satu sumber diskriminasi dan subordinasi terhadap perempuan.

Terjadilah peran laki – laki dan perempuan saat ini sudah terbolak balik, tumpang tindih karena era globalisasi – sekuler liberal.

Dalam sistem kapitalis liberal yang mengarusutamakan kesetaraan gender. Mendorong para perempuan untuk menyerbu kantor – kantor, perusahaan, bahkan mereka rela meninggalkan kampung halaman demi menjadi tulang punggung keluarga.

Sungguh malang nasib mu para perempuan, slogan kesetaraan gender hanya bagai racun berbalut madu. Tidak memberika solusi bagi kesejahteraan dan kemuliaan perempuan yang ada hanyalah kesengsaraan dan ke hinaan bagi kaum perempuan.

Karena tanpa mereka sadari mereka telah menanggalkan fitrah kewanitaannya dan meninggalkan kewajiban domistik mereka yaitu mengurus keluarga dan menjadi ummu warabatul bait bagi anak-anaknya.

Di sisi lain kita lihat saat ini peran seorang laki-laki yang seharusnya mencari nafkah, justru mereka yang mengurus anak – anak di rumah, mencuci piring, memasak mengambil peran keibuan didalam keluarga. Jadilah laki-laki dirumahkan karena sulitnya lapangan pekerjaan walau sekedar pegawai rendahan.

Maka hal semacam ini yang akhirnya menimbulkan banyak masalah baru di tengah – tengah masyarakat.

1. Banyak terjadinya KDRT ( Kekerasan dalam rumah tangga). Karena hak suami dalam hal kepuasan batin sering tidak terpenuhi. Disebabkan sang istri sudah kelelahan bekerja seharian di luar dari pagi hingga sore. Dan setelah pulang ke rumah tak jarang seorang wanita langsung disuguhkan pekerjaan rumah tangga lagi, yang semestinya itu memang kewajibannya.

Namun istri lupa bahwa ada kewajiaban pokok yang harus dia berikan pada suaminya, dan itu tidak bisa digantikan oleh siapapun kecuali dirinya. Hingga Allah dan para malaikat melaknat bagi istri yang meninggalkan suaminya dari tempat tidurnya.

2. Gugatan cerai semakin marak karena istri sudah merasa mapan secara finansial dari suaminya, dan merasa sudah mampu untuk mengurus seluruh kebutuhan jika berpisah dengan suaminya.

Sunggu tidak mereka sadari bahwa kebahagiaan yang sebenarnya itu bukan hanya kecukupan ekonomi dan finansial namun kebahagian yang haqiqi adalah ketika kita mendapat ridho dari Allah.

3. Hubungan inces ( hubungan sedarah) baik dari ayah, paman, kakak, kakek dll. Karena anak – anak yang ditinggal oleh ibu atau orang tuanya untuk bekerja, hingga tidak ada pengawasan terhadap anak -anaknya. Didukung peran kontrol di tengah masyarakat tidak ada, dikarenakan watak hidup indiviadialis yang diserap dari sistem sekuler.

4. Sampai kasus pernikahan dini akibat kemiskinan yang melanda masyarakat. Tidak jarang anak – anak di bawah umur yang dinikahkan dengan paksa oleh orang tuanya kepada orang yang sudah beristri atau orang yang kaya demi menyelamatkan ekonomi keluarga.

Akhirnya sering terjadi kekerasan dalam rumah tangga atau perceraian, karena niat dari awalnya sudah salah. Bukan untuk mencari ridho Allah melainkan untuk tujuan yang lain. Hingga Allah tidak hadir dalam ikatan pernikahan tersebut apalagi untuk mewujudkan keluarga yang sakinah mawaddah waraahma.

Ternyata ketika pemberdayaan perempuan yang selalu digandang-gadangkan oleh kaum liberal, sejak 25 tahun silam. Tidak memberikan efek apa pun bagi kemajuan perekonomian perempuan. Karena jika kemiskinan bisa dituntaskan dengan pemberdayaan perempuan di berbagai sektor, lantas mengapa pemberdayaan itu tak kunjung memberi hasil berarti? Kemiskinan tetap menjadi pandemi global yang tak bisa diputus.

Kemiskinan yang dialami kaum perempuan bukanlah kemiskinan yang berdiri sendiri. Faktor yang paling memengaruhi adalah kemiskinan struktural sebagai akibat penerapan sistem yang diterapkan. Jika kesejahteraan perempuan tak terurus itu bukan karena faktor ketidakadilan gender dan ketimpangan gender.

Hal ini hanyalah mantra dan akal-akalan kaum gender untuk membuat para perempuan ikut berpartisipasi dalam ranah publik. Menganaktirikan peran domestiknya demi meningkatkan ekonomi negara.

Selain itu ini adalah upaya kaum kafir liberal yang berusaha melemahkan negeri – negeri kaum muslimin. Virus mematikan yang mereka bawa berupa kesetaraan gender buah dari sekulerisme. Yang akan membuat generasi muslim jauh dari agamanya sendiri dan termakan dengan tipu daya mereka.

Ketika tatanan paling utama dalam keluarga itu sudah hancur berantakan dengan cara menarik paksa para perempuan ke ranah publik. Hingga kaum muslimin disibukkan memikirkan perut dan tak kuasa lagi untuk memikirkan bagaimana menuju suatu kebangkitan masyarakat, apalagi memikirkan persatuan negeri – negeri kaum muslim.

Ditambah para penguasa sudah menjadi antek-antek Kafir Barat. Maka dengan mudah mereka mumukul mati dan menghambat perjuangan dakwah kebangkitan Islam di seluruh dunia.

Sedangkan di dalam Islam problem kemiskinan adalah tanggung jawab negara, bukan beban perempuan sebagaimana yang ditawarkan kaum peminis.

Islam adalah agama yang sempurnah dan agama yang paling mulia. Hingga Allah memuliakan umatnya termasuk perempuan.

Islam memberikan hak bagi perempuan sebagai pengatur dalam rumah tangga. Mereka akan mendidik para generasi islam yang berkualutas atas dasar ketaatan kepada Allah SWT. Mereka akan mendapatkan hak dari suami mereka berupa nafkah perlindungan.

Sedangkan laki-laki diberikan tanggung jawab untuk mencari nafkah. Negara akan memfasilitas lapangan pekerjaan bagi kaum pria, dan akan memberika upah yang sesuai standar kebutuhan masyarakat.

Sedangkan dari segi pendidikan, negara akan memberikan pendidikan yang berkualitas dan gratis yntuk seluruh warga negara. Termasuk dalam bidang kesehatan dan keamanan.

Negara akan memfasilitasi sarana kesehatan yang berkualitas dan bisa dirasakan oleh semua warga negara dengan cuma-cuma.

Negara akan menjamin keamanan harta, jiwa, aqidah kehormatan setiap warganya. Subhanallah sungguh, kemiskinan bisa tuntas bilamana dunia mau menerapkan sistem Islam dalam institusi Khilafah. Dengan Khilafah, perempuan mampu lepas dari belenggu kemiskinan dan penindasan.
Wallahu’lam.

Exit mobile version