Site icon

Kriminalitas Marak,Buah Sistem Kapitalisme

WhatsApp Image 2025-02-17 at 12.14.02

Oleh : Ummu Aziz

Pria bernama Ismail (40), warga Kelurahan Selagit, Kabupaten Musi Rawas, ditangkap polisi usai menganiaya ibu kandungnya berinisial SA (80).

Kapolres Musi Rawas, AKBP Andi Supriadi, melalui Kasat Reskrim, Iptu Ryan Tiantoro Putra, mengatakan peristiwa penganiayaan itu berawal saat Ismail kesal karena kalah main judi online, Sabtu, 8 Februari 2025, sekitar pukul 23.00 WIB. “Pelaku yang kesal awalnya membanting HP miliknya, lalu ia meminta uang kepada korban. Tapi karena tidak diberi membuat pelaku semakin emosi dengan membanting dan mencekik leher korban,” katanya, Minggu, 9 Februari 2025.

Tak hanya itu, Ismail lantas mengambil gunting dan menyekap ibunya yang sudah tua itu di dalam kamar. Ia juga mengancam akan membunuh korban. “Korban sendiri akhirnya berhasil diselamatkan cucunya dan dibawa pergi melalui pintu belakang rumah ke rumah ketua RT setempat,” jelas Ryan.

Akibat peristiwa itu, SA merasa terancam dan mengalami sejumlah luka memar, seperti di pergelangan tangan dan leher. Oleh sebab itu, korban lantas melaporkan peristiwa yang dialaminya ke polisi, (Kumparan.com/9/2/2025).

Dengan berbagai faktor tersebut tampak bahwa maraknya kriminalitas merupakan buah penerapan sistem masyarakat dan bernegara yang sekuler liberal kapitalistik. Sistem ini tidak memanusiakan manusia sehingga enteng saja para pemuda itu melukai dan menghabisi nyawa manusia seperti membunuh nyamuk. Tidak ada rasa kasihan pada sesama manusia,apalagi anggota keluarga sendiri.

Sistem sekuler kapitalisme juga telah merusak pemikiran dan budaya masyarakat. Kekerasan menjadi hal yang membudaya. Kekerasan seolah-olah menjadi satu-satunya solusi masalah dalam masyarakat.

Sistem sekuler kapitalisme juga telah menjadikan negara abai terhadap tugas membentuk generasi berakhlak mulia. Negara telah menyia-nyiakan potensi besar pemuda sehingga yang muncul dari mereka bukan sumbangsih, tetapi masalah. Mereka tidak menjadi generasi problem solver, tetapi malah trouble maker.

Sistem sekuler kapitalisme merupakan sistem rusak yang merusak. Mereka seharusnya menjadi pemimpin peradaban masa depan, tetapi justru menjadi beban peradaban. Ini berbeda 180° dengan sistem Islam.

Sistem Islam juga menyuburkan aktivitas amar makruf nahi mungkar di tengah masyarakat sehingga kemaksiatan dan kriminalitas akan tercegah dan minim terjadi. Islam mewujudkan sistem yang menguatkan fungsi kontrol masyarakat, yakni berupa amar makruf nahi mungkar. Dengan demikian, masyarakat turut andil dalam pendidikan generasi muda. Hal ini akan mendukung terwujudnya pemuda taat syariat dan produktif bagi umat.

Negara juga berperan optimal dalam sistem Islam. Penguasa memahami posisinya sebagai ra’in (pengurus) rakyat sehingga memberikan perhatian penuh pada tumbuh kembang generasi muda agar optimal dan mengarah pada kebaikan. Optimalnya peran keluarga, masyarakat, dan negara ini akan menumbuhsuburkan ketakwaan dan mendorong produktivitas pemuda. Dengan begitu, terwujudlah sosok-sosok pemuda yang saleh sekaligus produktif. Mereka memberikan sumbangsih besar bagi peradaban Islam sehingga mampu menebarkan rahmat ke seluruh alam.  ***

Exit mobile version