Site icon

Krisis Energi Mendunia, Indonesia Untung?

WhatsApp Image 2021-11-06 at 05.38.13

Oleh : Ummu Umar

Krisis energi mulai dihadapi sejumlah negara besar lantaran meningkatnya kebutuhan energi dalam masa pemulihan ekonomi dan kegiatan produksi. Sejumlah negara seperti kawasan Eropa, China, hingga India mulai menghadapi ancaman tersebut.

Ini ditandai dengan meroketnya harga gas dan batu bara, diikuti oleh kenaikan harga minyak. Gubernur Indonesia untuk OPEC 2015-2016 Widhyawan Prawiraatmadja mengatakan, fenomena krisis energi yang terjadi di beberapa negara pada prinsipnya disebabkan oleh dinamika supply dan demand.

Akan tetapi, pada kondisi saat ini, terdapat dinamika yang semakin kompleks dan dengan sendirinya meningkatkan ketidakpastian. “Krisis energi di Inggris diakibatkan adanya adanya perfect storm, yakni kondisi musim panas dan musim dingin yang parah. Kemudian keterbatasan pasokan dari Rusia sebagai salah satu pemasok utama bagi Eropa,” ujarnya dalam webinar bertajuk Krisis Energi Mulai Melanda Dunia, Bagaimana Strategi RI? pada Minggu (10/10/2021).

Kondisi ini juga diperparah dengan investasi infrastruktur penyimpanan (storage) gas yang terkendala dan terkendalanya produksi hydro dan wind-power. Di sisi lain, kebutuhan gas di Eropa mengakibatkan impor LNG meningkat, yang sebagian berasal dari pasar Asia Pasifik sehingga harga spot LNG (JKM) menjadi sangat tinggi lebih dari USD30 per mmbtu.

“Kalau musim dinginnya parah, mungkin akan lebih buruk. Sementara hydro dan wind-power tidak berfungsi di beberapa negara eropa. Ini salah satunya karena faktor cuaca,” jelas Widhyawan.

Sementara untuk kasus China, pulihnya ekonomi negara berjuluk Tirai Bambu itu saat ini juga menyebabkan permintaan energi yang tinggi, dan telah membuat harga batu bara mencapai tingkat tertinggi. Hal ini diperparah adanya embargo supply batu bara dari Australia yang menyebabkan harga batu bara mencapai tingkat tertinggi selama sejarah, melebihi USD250 per ton di awal Oktober 2021 ini.

Terakhir, dalam konteks Eropa, aturan emisi CO2 yang semakin ketat juga menyebabkan harga karbon sangat tinggi sehingga berdampak langsung pada harga komoditas energi fosil, khususnya batu bara.

Kondisi lain yang membuat ketidakpastian adalah Covid-19. Kondisi ekonomi yang masih dipengaruhi oleh pandemi Covid-19, termasuk adanya pent-up demand di jangka pendek,” kata Widhyawan, Sindonews.com.

Krisis energi berbagai negara industri dianggap peluang bagi indonesia yang kaya Sumber Daya Alam energi untuk menikmati keuntungan dari mahalnya bahan baku energi. Sebagaimana yang sudah kita ketahui bahwa negara industri di dunia saat ini dikuasai oleh Cina dan Amerika Serikat. Kedua negara tersebut adalah negara kapitalisme yang bersaing untuk menguasai dunia baik secara ekonomi, politik, sosial, budaya. Kedua negara tersebut juga melakukan intervensi dan mengendalikan negara jajahannya melalui kebijakan ekonomi dan kebijakan politik yang telah menyengsarakan rakyat dan mempengaruhi kebijakan energi di dunia termasuk di Indonesia.

Negara industri seperti Cina dan Amerika akan mempertahankan posisinya sebagai negara kapitalis dengan cara mengeksploitasi sumber daya alam negara jajahannya melalui perjanjian dagang ataupun pengelolaan sumber daya alam atau pembangunan infrastruktur.

Semestinya harus disadari bahwa krisis energi terjadi akibat kerakusan negara industry yang hanya berorientasi untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya tanpa peduli pada dampak lingkungan dari industrinya.
Akan makin parah kerusakan iklim tanpa mengubah orientasi dan cara negara produsen mengelola industrinya.

Dampak kerusakan dan eksploitasi ini akan merembet ke seluruh dunia dan harus ditanggung oleh semua negara. Semestinya Indonesia tidak melihat peluang keuntungan, tapi menyiapkan diri atas dampak kerusakan iklim. Perlu juga mengkritik bahwa kebijakan global atas masalah ini yang bersandar pada ‘pembagian kuota’ emisi karbon tidak mampu meredam watak rakus negara kapitalis.

Indonesia sebagai negara yang mempunyai sumber energi yang besar seharusnya mampu menjadi negara industri jika berpegang kepada ideologi islam. Karena hanya dengan diterapkan aturan islam, hawa nafsu manusia dapat ditundukkan. Islam juga mempunyai peraturan tentang bagaimana mengelola sumber daya alam yang tidak merusak alam semesta.

Oleh karena itu, jika Indonesia dan dunia ingin keluar dari persoalan krisis energi, haruslah kembali kepada aturan Allah SWT yang akan menerapkan syariah secara sempurna dalam kehidupan umat manusia secara global dalam sistem Khilafah. Inshaa Allah. Wallahhalam bishawab.

Exit mobile version