Site icon

Krisis Gaza (Pelaparan Sistemis) dan Momentum Kebangkitan Umat

WhatsApp Image 2025-08-07 at 07.17.58

Oleh : Eci Palembang, Pendidik Palembang

Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza pada Kamis, 31 Juli 2025 melaporkan bahwa sedikitnya 18.592 anak Palestina tewas akibat serangan militer Israel sejak dimulainya agresi pada Oktober 2023. Angka tersebut mencerminkan dampak mematikan yang tak proporsional terhadap warga sipil, khususnya anak-anak, selama lebih dari sembilan bulan konflik berlangsung.Laporan tersebut mengungkapkan bahwa sejumlah korban merupakan bayi yang baru lahir, bahkan ada yang meninggal hanya beberapa jam setelah dilahirkan akibat serangan udara atau ledakan bom.

Berdasarkan data rinci dari otoritas kesehatan Gaza yang dikutip Anadolu, Jumat, 1 Agustus 2025, terdapat: 9 bayi yang tewas tepat pada hari kelahirannya, 5 bayi meninggal di hari pertama, 5 di hari kedua, dan 8 lainnya pada hari ketiga kehidupannya.Selain itu, tercatat pula 88 anak berusia satu bulan, 90 anak berusia dua bulan, dan 78 anak berusia tiga bulan yang turut menjadi korban tewas akibat serangan militer Israel.( Metro TV News, Jumat, 01/08/2025 )

Sungguh kebiadaban Zionis Yahudi makin meningkat, kekejian yang mereka lakukan bahkan tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, seolah menunjukkan bahwa mereka bukanlah manusia, karena membiarkan krisis kelaparan yang sangat mengerikan terjadi di depan mata mereka bahkan telah memakan banyak korban jiwa, termasuk anak-anak dan wanita.

 

Gaza

Hal yang terjadi di Gaza Palestina menjadi bukti tidak berdayanya umat Islam secara global. Sebanyak 2,04 miliar umat Islam yang ada di lebih 50 negara, nyatanya tidak mampu menghentikan kekejaman 10,10 juta penduduk Yahudi yang membantai muslim Gaza yang tidak berdosa.

Nyaris dua tahun muslim Gaza mengalami genosida. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan, sejak Oktober 2023 hingga 22 Juni 2025, korban syahid sudah mencapai hampir 56.000 jiwa, sedangkan 131.200 jiwa lainnya luka-luka. (Anadolu Ajansi, 22-6-2025).

Adapun warga yang tersisa benar-benar hidup terlunta-lunta. Mereka dibayang-bayangi ancaman kematian, baik karena krisis pangan maupun ancaman serangan brutal senjata Zion*s yang tidak ada hentinya.

Mirisnya, ini semua terjadi di hadapan mata umat Islam dunia, sedangkan para penguasa mereka hanya sibuk beretorika. Alih-alih segera mengerahkan tentara untuk menolong warga Gaza, sebagian mereka justru menutup mata dengan dalih menjaga kepentingan nasionalnya dan menghargai norma-norma hubungan internasional.

Sebagian negara Arab bahkan berani bersikap kejam. Mesir dan Yordania, misalnya, tega mengerahkan tentaranya menutup perbatasan—yang berarti menjaga kepentingan penjajah sebagaimana yang mereka inginkan. Sementara penguasa lainnya, tidak terkecuali penjaga Haramain, bertindak seolah tuli-buta. Mereka lebih takut kehilangan kepercayaan Zion*s dan Amerika sebagai kawan sejalan, daripada kehilangan iman dengan cara menyerahkan nyawa umat Islam kepada musuh-musuhnya.

Wajar jika dunia marah, lalu menyampaikan berbagai pesan kemanusiaan dengan berbagai cara, mulai dari boikot hingga bantuan kemanusiaan. Aksi kolosal bela Palestina pun terjadi di mana-mana, termasuk Aksi Global March to Gaza yang sempat fenomenal.

Sayang, suaranya kini nyaris hilang. Dorongan kemanusiaan ternyata tidak cukup untuk melahirkan perubahan besar. Terlebih perang proksi Iran versus Zion*s-AS berhasil mengalihkan perhatian umat pada sebuah euforia baru soal kebangkitan. Seakan-akan Palestina akan turut dibebaskan dan bandul sejarah umat Islam pun akan naik ke permukaan. Namun, benarkah demikian?

Peristiwa genosida muslim Gaza semestinya memberi pelajaran besar bahwa solusi atasnya bukan ada pada lembaga-lembaga internasional dan para pemimpin negara-negara adidaya. Bukan juga ada pada para penguasa muslim dunia, apalagi ada pada para pemimpin Arab yang sudah terjangkiti penyakit wahn.

Sejatinya, kunci persoalan Palestina dan problem umat Islam dunia lainnya hanya ada di tangan mereka sendiri. Kunci itu adalah hadirnya kekuatan politik umat berupa kepemimpinan Islam global bernama Khilafah yang tegak atas dasar ideologi Islam.

Inilah yang semestinya menjadi visi perjuangan umat Islam kekinian. Visi ini hanya mungkin lahir dari kesadaran ideologis bahwa ajaran Islam adalah solusi masalah kehidupan. Jadi, Islam bukan hanya agama ritual yang sebatas mengurus urusan ibadah dan moral sebagaimana yang selama ini diajarkan.

Islam ideologi inilah yang sejatinya Rasulullah ﷺ wariskan, yakni ajaran Islam yang melahirkan visi global. Dengan visi inilah umat Islam mampu tampil sebagai umat pilihan, yang memimpin peradaban cemerlang dalam rentang waktu yang sangat panjang.

Keberadaan institusi Khilafah pun berhasil mengantarkan umat Islam tampil sebagai entitas yang khas, mandiri, dan berdaulat. Tidak sekadar satu dua abad, Khilafah Islam mampu bertahan menjadi negara pertama hingga belasan abad. Sepanjang masa itu, Khilafah mampu tampil sebagai matahari yang menerangi Eropa dan dunia yang masih dalam kegelapan.

Wajar jika para pemimpin kaum kafir menyimpan rasa iri dan dendam mendalam, hingga berbagai makar pun mereka lakukan untuk menghapus Khilafah dari konstelasi politik internasional. Dengan segala daya upaya, mereka terus berusaha menghapus keberadaannya dari benak dan cita-cita umat Islam, terutama dengan menebar racun paham kebangsaan dan memecah mereka dalam konsep negara bangsa.

Kehadiran Khilafah pada era sekarang sejatinya telah Allah janjikan, tetapi tentu harus diperjuangkan. Urgensi dan kewajibannya tidak bisa ditolak, baik dari sisi nas maupun realitas yang dihadapi umat Islam. Khilafah adalah harapan pembebasan dan kemuliaan, termasuk pembebasan Tanah Gaza Palestina dari cengkeraman penjajahan melalui komando Khilafah untuk jihad fi sabilillah.

Kepemimpinan Khilafah ini tentu hanya bisa mewujud melalui dakwah membangun kesadaran politik ideologis di tengah umat, bukan sekadar merebut kekuasaan, apalagi dengan jalan kekerasan. Dakwah yang dimaksud adalah dakwah yang dimulai dengan merevitalisasi akidah umat sehingga menjadi akidah produktif yang mendorong ketaatan untuk segera menerapkan Islam kafah dalam naungan kepemimpinan Khilafah Islam.

Jalan dakwah seperti ini sejatinya telah Baginda Rasulullah ﷺ contohkan. Tugas kita adalah memahami sejarah dan tuntunan syariat, lalu menjalaninya dengan ikhlas, sabar, dan istikamah.

Allah Taala berfirman, “Katakanlah (Muhammad), ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.’.” (QS Yusuf: 108). Wallahu a’lam bishshawab.

Exit mobile version