Site icon

Krisis Kazakhstan, Waspadai Intervensi Asing

WhatsApp Image 2022-01-20 at 13.37.08

Oleh : Ummu Umar

Kementerian Kesehatan Kazakhstan menyatakan sebanyak 164 orang tewas dalam kerusuhan yang terjadi dalam sepekan terakhir. Total jumlah korban itu dilaporkan pada Minggu (9/1) waktu setempat melalui saluran berita Khabar-24. Laporan jumlah korban tewas merupakan peningkatan signifikan dari sebelumnya. Belum diketahui jumlah tersebut hanya warga sipil atau aparat juga termasuk.

Sebelumnya, pemerintah setempat menyatakan 26 pengunjuk rasa dan 16 petugas keamanan tewas dalam kerusuhan yang terjadi.

Mengutip AP, Kantor Kepresidenan Kazakhstan mengatakan sekitar 5.800 orang ditahan kepolisian selama protes kenaikan harga LPG yang berujung bentrok pada pekan ini. Hal itu mendorong aliansi militer Rusia mengirim pasukan untuk membantu Kazakhstan yang kini dalam status darurat. Kazakhstan berada dalam kekacauan usai ribuan orang turun ke jalan. Pemerintah sempat menurunkan harga LPG, namun para pendemo tak puas dengan penurunan harga tersebut. Tuntutan mereka meluas. Mulai dari kekecewaan terhadap pemerintah karena dianggap otoriter, marak korupsi, hingga kesenjangan sosial-ekonomi.

Pemerintah kemudian menetapkan status darurat sebagai respons akan kerusuhan itu. Mereka juga mengklaim berhasil mengatasi situasi. Namun, baru-baru ini Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev memerintahkan pasukan keamanan menembak ‘teroris.’ Kata teroris merujuk pada pendemo yang dianggap melakukan kerusuhan dan pemberontakan.

Dia juga mengumumkan status darurat di kota besar seperti Almaty, Mangystau dan Ibu kota Nur-Sultan sejak Rabu (5/1). Ia lalu memperbarui status menjadi darurat nasional di hari yang sama.

Status itu berlaku dari 5 hingga 19 Januari. Dalam aturan tersebut jam malam juga akan diberlakukan dari pukul 23.00 hingga 07.00 pagi waktu setempat. Pembatasan keluar masuk dari kedua kota itu pun dalam pengawasan ketat, CNN Indonesia.

Persoalan yang terjadi di Kazakhstan seperti kenaikan LPG, korupsi, pemerintah otoriter, kesenjangan sosial ekonomi adalah akibat dari penerapan kebijakan ekonomi kapitalisme, rakyat sangat merasakan dampak naiknya harga kebutuhan ditambah lagi dengan naiknya harga gas elpiji. Kazakhstan adalah negara yang kaya akan sumber daya alam (SDA). Menyadur Britannica, ekspor utama negara tersebut meliputi produk pertanian, bahan mentah, produk kimia, dan barang manufaktur.

Kekayaan alam Kazakhstan tersebar di berbagai wilayah dan beranekaragam, mulai dari tembaga, timbal, seng, perak, tungsten, timah, kromit, nikel, kobalt, titanium, mangan, antimon, vanadium dan emas.

Pada tahun 1993 Kazakhstan menyelesaikan kontrak dengan Chevron Corporation untuk mengeksploitasi cadangan ladang minyak Tengiz, salah satu yang terbesar di dunia. Pada pertengahan 1990-an juga diupayakan kesepakatan dengan investor asing untuk pengembangan minyak dan gas alam dari sumur Tengiz, Zhusan, Temir, dan Kasasyganak. Profitabilitas dari usaha-usaha semacam itu terutama bertumpu pada pendirian jaringan pipa baru.

Pertanian juga menjadi salah satu kekayaan Kazakhstan. Setidaknya seperlima dari angkatan kerja berada di sektor tersebut, sebagian besar bagian Kazakh ditambah petani gandum Slavia di Kazakhstan Utara. Kazakh memelihara domba, kambing, sapi, dan babi. Negara ini menghasilkan tanaman sereal, kentang, sayuran, melon dan buah-buahan lainnya, bit gula, dan beras, serta makanan ternak dan tanaman industri, detikfinance.

Kazakhstan juga merupakan negara terbesar kesembilan di dunia. Negara ini mendominasi Asia Tengah dan menjadi rute perdagangan antara timur dan barat. Sebagian besar wilayah Kazakhstan berupa semi padang pasir.

Islam adalah agama paling utama yang dianut di Kazakhstan. Bersamaan dengan kelompok etnik Muslim yang lain, termasuk orang Uzbek, orang Uyghur, dan orang Tatar. Orang Kazakh merupakan etnik yang terdiri dari lebih dari separuh jumlah penduduk menyebabkan penduduk beragama Islam menjadi sekitar 70 % dari jumlah penduduk di Kazakhstan. Sebagian besar orang Kazakh adalah Muslim Sunni dari Mazhab Hanafi. Islam dibawa oleh orang Arab ke Kazakhstan dan mencapai kawasan ini untuk pertama kali pada abad ke-8.

Namun setelah berakhirnya kekuasaan Islam, Kazakhstan dikuasai oleh Uni Soviet, setelah Uni Soviet runtuh tahun 1991 kemudian berganti nama menjadi negara Rusia, Kazakhstan berdiri sendiri menjadi sebuah negara Republik sekuler hingga saat ini.

Besarnya potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia di Kazakhstan membuat Cina, Rusia dan Amerika Serikat tergiur dan ingin menguasainya. Mereka bersaing atas nama menawarkan solusi atas krisis yang terjadi, ini pula yang dilakukan oleh negara adidaya tersebut ke negeri negeri muslim lainnya dengan bahasa yang lunak seperti menanamkan investasi, kerja sama ekonomi, atau bantuan lainnya.

Maka apa yang terjadi di Kazakhstan tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di negeri negeri muslim lainnya yaitu ‘penjajahan’.

Cina dan Rusia adalah negara yang menerapkan sistem sosialisme komunisme yang menguasai perekonomian dunia. Sedangkan Amerika Serikat yang menerapkan sistem kapitalisme sekuler juga menguasai ekonomi dan politik dunia merupakan saingan bagi Cina dan Rusia.

Maka selain ke tiga negara tersebut merupakan negara sekutu atau negara jajahan bagi mereka. Islam mempunyai sistem hidup yang mampu menjadi adidaya jika umat Islam bersatu, kekuatan umat Islam jauh lebih besar baik potensi sumber daya alam maupun sumber daya manusianya.

Penerapan sistem Islam selama 13 abad mampu memimpin umat manusia kepada kemuliaan hidup, ketentraman dan kesejahteraan umat manusia.

Kekuasaan Islam tidak menyebabkan kemiskinan atau kesengsaraan bagi umat manusia, karena kekuasaan Islam bukanlah penjajahan, tapi mengajak manusia untuk menerapkan hukum syariah secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan manusia.

Kebijakan Islam khususnya dalam bidang ekonomi dan politik luar negeri bukanlah kebijakan yang semena mena atau berdasarkan hawa nafsu manusia yang serakah. Tapi berdasarkan pada hukum Allah SWT. Sehingga tidak ada pihak yang lebih diuntungkan, dirugikan atau dizalimi.

Oleh karena itu, penerapan syariah Islam tidak akan dapat diwujudkan dalam sistem sosialisme ataupun kapitalisme, melainkan dalam sistem Islam itu sendiri yang sudah dikenal dengan nama Khilafah. ***

Exit mobile version