Site icon

Krisis Kredibilitas Pendidikan Tinggi Hasil Buah Pendidikan Kapitalisme Sekulerisme

WhatsApp Image 2025-02-10 at 13.31.56

Oleh : Fifi Anggraini

Sebanyak 233 Alumni Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikom) Bandung terancam mengulang kuliah kembali.

Hal ini berdasarkan hasil monitoring kerja Tim Evaluasi Kerja Akademik (EKA) yang banyak menemukan kejanggalan.

Akibatnya Stikom Bandung membatalkan sebanyak 233 ijazah kelulusan mahasiswa lewat Surat Keputusan Ketua Stikom Bandung nomor surat 481/ Skep-0/ E/ Stikom XII/ 2024 tentang Pembatalan Lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung Periode 2018-2023. (Dilansir dari Liputan 6, 16 Januari 2025).

Ketua Stikom Bandung Dedy Djamaluddin Malik membenarkan hal tersebut. Ia menyebutkan beberapa permasalahan itu ialah ditemukan perbedaan nilai di SIMAS dan didata dikti.

Kemudian, temuan lainnya yakni tidak seluruh Penomoran Ijazah Nasional (PIN) ditemukan di Stikom Bandung. Selain itu juga terkait urusan isi skripsi mahasiswa yang masuk radar tes plagiaris.

Kasus penarikan ijazah mahasiswa Stikom menambah panjang daftar buruknya sistem pendidikan di Indonesia. Terlepas dari siapa yang benar dan salah, yang pasti kasus seperti ini tidak akan terjadi jika sistem pendidikannya benar.

Jelas sekali kasus ini bukan kebetulan semata, bahkan kasus serupa bukan hanya terjadi di satu Perguruan tinggi saja, karena memang sudah menjadi permasalahan sistemik, yang akan terus berkelanjutan.

Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi kapitalisasi di sebuah instansi pendidikan,  kasus sogok- menyogok didunia pendidikan demi mendapatkan gelar dan ijazah hari ini bukan menjadi hal yang tabu lagi di masyarakat, bahkan sudah dinormalisasi.

Terlebih fakta yang banyak terjadi yakni di Perguruan tinggi swasta yang terkenal dengan biaya pendidikan yang tinggi, namun bukan berarti Perguruan tinggi negeri tidak seperti itu juga, Perguruan tinggi negeri pun banyak ditemukan kasus seperti ini.

Tidak heran karena Faktanya sistem pendidikan yang berlaku adalah sistem pendidikan sekuler yang merupakan salah satu subsistem dari sistem kapitalisme yang diterapkan hari ini.  Sistem ini tidak mengenal halal haram, asalkan kepuasan duniawi terpenuhi meskipun harus melanggar syari’at Allah, bahkan menzhalimi orang lain sekalipun.

Dalam sistem ini pendidikan rentan dikapitalisasi, dijadikan komoditas dan hanya berorientasi pada keuntungan materi, tanpa memerhatikan ouputnya yang berkualitas atau tidak. Sehingga hasil yang kelaur hanyalah orang-orang yang siap bekerja menjadi budak corporate bukan generasi yang berintelektual tinggi yang mampu memberikan kontribusi dan ke bermanfaatan untuk umat atau masyarakat luas.

Belum lagi biaya pendidikan hari ini yang kian mahal, membuat tekanan juga bagi mahasiswa untuk bisa secepat mungkin menghasilkan uang demi menebus dan menggantikan semua biaya pendidikannya yang sudah dikeluarkan. Sehingga yang dipikirkan bagaimana bisa langsung kerja dan menghasilkan uang demi memenuhi kebutuhan hidup yang juga kian mencekik.

Di pihak lain negara dalam sistem kapitalisme hanya berperan sebagai regulator yang mengatur berdasarkan prinsip kemaslahatan subjektif bukan berdasarkan kemaslahatan umum.

Dampaknya, muncul peluang penyelewengan di semua unsur dan level (negara, penyelenggara pendidikan, pelaku pendidikan dan objek pendidikan).

Keegoisme untuk kepentingan pribadi disistem hari ini dipupuk dengan sistemik sehingga munculah orang-orang yang memberikan dampak buruk bagi masyarakat luas.

Namun ini berbeda dengan sistem pendidikan Islam yang menjadikan Pendidikan sebagai kebutuhan dasar bagi masyarakat, Negara memberikan secara cuma cuma tanpa harus memberatkan masyarakat dengan biaya pendidikan yang mahal, sehingga semua rakyat dapat mengakses pendidikan dengan gratis, karena Negara Islam memiliki sumber dana yang beragam dan banyak.

Mulai dari Sumber daya alam yang dikelola secara mandiri dan hasilnya untuk kepentingan umat, ada juga dana mall negara yang siap memenuhi kebutuhan pokok yaitu salah satunya pendidikan. Serta pendidikan yang didapat diarahkan untuk memberikan kontribusi pada kemaslahatan umat bukan untuk kepuasan individu.

Islam menjadikan kehidupan berasas akidah Islam, termasuk dalam penyelenggaraan sistem Pendidikan.  Semua urusan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.  Oleh karena itu, semua sesuai dengan aturan Allah, sesuai standar halal dan haram.

Semua pihak yang terkait dalam penyelenggaraan pendidikan akan taat pada aturan Allah, termasuk dalam menjaga kualitas dan kredibilitas institusi Pendidikan.

Negara akan menjamin dan mengawasi agar semua berjalan sesuai dengan syariat Allah. Sehingga Ouputnya berkualitas dan mampu memberikan karya yang berlian demi kemaslahatan umat.

Dan sistem pendidikan Islam ini sudah terbukti dari sejarah pada masa Golden Age of Islam, masa pemerintahan Khilafah Abbasiyah yang banyak menelurkan ilmuwan ilmuwan hebat yang memberikan dampak luar biasa dari ilmu dan temuan mereka yang masih dipakai hingga saat ini.

Para ilmuwan ini seperti ibnu sina, dikenal sebagai bapak kedokteran modern.  Al Kindi, berkontribusi dalam bidang optik, kimia, dan matematika.  Kemudian ada Al Khawarizmi, mengembangkan konsep aljabar.

Ada Abbas Bin Firnas, ilmuwan Muslim pertama yang berhasil membuat konstruksi alat yang bisa terbang. Dan juga Al Battani, ahli astronomi dan matematikawan yang berpengaruh pada abad pertengahan.

Mereka ini salah satu orang-orang hebat yang keluar dari sistem pendidikan islam. Maka jika menginginkan ada kemajuan yang sangat luar biasa pada negara, hal yang pertama dibenahi adalah sistem pendidikannya, jika sistemnya sudah bobrok, sudah bisa dipastikan yang dihasilkan pun bobrok.

Sudah semestinya kita menginginkan ada suatu kemudahan dan memajuan pada sistem pendidikan, sistem pendidikan yang sudah menorehkan sejarah panjang dan diakui hanyalah sistem pendidikan islam, namun sistem pendidikan Islam hanya akan terealisasikan dengan tegaknya kembali daulah Islam yaitu khilafah.

Maka sudah seharusnya kita berjuang untuk kembali tegaknya daulah Islam. Sebagaimana bisyarahnya Rasulullah SAW. “Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya.

Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja diktator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, Beliau diam,” (HR. Imam Ahmad). Allahualam Bisowab.

Exit mobile version