Oleh : Ummu Misyah
Krisis pangan yang melanda berbagai belahan dunia terjadi akibat sistem kapitalisme yang eksploitatif, merusak alam dan iklim demi kepentingan individu dan me ngenyangkan para pemilik modal yang inggin menguasai suatu tempat tanpa memikirkan nasib rakyatnya.
Kesenjangan ini semakin nyata ketika kita saksikan, hampir semiliar penduduk dunia kekurangan pangan ditambah adanya pandemi yang melanda seluruh dunia saat ini. Yang lebih buruknya lagi, kondisi umat Islam di wilayah konflik seperti halnya Suriah. Sudah 10 tahun lamanya mereka konflik yang tidak usai selesai, sedangkan segelintir negara kapitalis kelebihan pangan.
Dikutip dari REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Suriah mengalami krisis pangan yang belum terselesaikan hingga kini. Seorang pria dari Kota Zabadani mengatakan, keluarganya yang beranggotakan empat orang telah berhenti makan keju dan daging pada awal 2020. Kini dia hanya mengandalkan roti untuk makanan mereka.
Kondisi itu diperparah dengan kebijakan distribusi roti yang diskriminatif, yang mana ada pembatasan jumlah roti bersubsidi yang dapat dibeli warganya. Roti pun menjadi barang yang diperebutkan di Suriah, banyak orang yang melakukan perjalanan melalui pos pemeriksaan untuk sekadar mendapatkan roti.
“Jutaan orang kelaparan di Suriah, sebagian besar karena kegagalan pemerintah untuk mengatasi krisis roti yang ditimbulkannya,” ujar Sara Kayyali, peneliti Suriah di Human Rights Watch.
Berdasarkan studi yang diterbitkan Universitas Humboldt pada 2020, disebabkan konflik berkepanjangan, Suriah kehilangan 943 ribu hektar lahan pertanian antara tahun 2010 dan 2018. Depresiasi mata uang Suriah yang parah, juga memengaruhi daya beli warga di seluruh negeri. Hal ini membuat warga yang beralih menjadikan roti sebagai makanan utamanya pun bertambah.
Hingga Februari 2021, Program Pangan Dunia, setidaknya 12,4 juta warga dari 16 juta warga Suriah mengalami kerawanan pangan. Jumlah ini bertambah 3,1 juta dari tahun lalu. World Food Programme (WFP) juga memperkirakan 46 persen keluarga di Suriah telah mengurangi jatah makanan harian mereka, dan 38 persen orang dewasa telah mengurangi konsumsi pangan mereka, agar anak-anak mereka memiliki cukup makanan.
Umat yang mulia menjadi korban, kegagalan pemerintah kapitalisme dalam mensejahterakan rakyatnya Mereka mengambil dan merampok kekayaan bangsa Islam, sehingga muslim hidup dalam kemiskinan, kelaparan, kebutuhan, dan kekurangan, di tengah kekayaan negara kapitalis mereka dalam semua bentuknya.
Yang sangat mirisnya setiap negeri yang berkonflik umat mulia yang menjadi korbannya, hal ini dapat kita lihat seperti di suriah banyak kaum Muslim yang kelaparan baik dari kalangan, dewasa sampai anak-anak.
Para perempuan dan anak-anak di Suriah dan di negara-negara muslim secara keseluruhan sangat membutuhkan sistem politik yang mengatur urusan mereka dengan perekonomian yang dapat mensejahterakan yaitu dengan sistem Islam.
Dimana Ekonomi Islam menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Di dalam negeri, khilafah menjalankan politik ekonomi yang bertujuan menjamin pemenuhan kebutuhan pokok setiap warga negara. Khilafah juga mendorong warga dapat memenuhi kebutuhan sekunder dan tersiernya dalam batas-batas kemampuan yang mereka miliki.
Di luar negeri, khilafah menjalankan politik dakwah dan jihad. Dalam kerangka dakwah dan kemanusiaan, khilafah dapat menggunakan kekuatan ekonominya untuk menolong bangsa lain yang sedang ditimpa bencana. Sejarah mencatat, pada abad ke 18 Khilafah Turki Utsmani pernah mengirimkan bantuan pangan kepada Amerika paska perang melawan Inggris. Khilafah juga pernah mengirimkan bantuan uang dan pangan untuk penduduk Irlandia yang terkena bencana kelaparan besar yang menewaskan lebih dari 1 juta orang. Apa yang dilakukan Khilafah Islamiyah di masa lalu justru bertolak belakang dengan apa yang dilakukan oleh Amerika saat ini.
Sudah saatnya kita bangkit dari kezholiman sistem yang melanda hidup manusia saat ini menuju sistem yang Allah ridhoi yaitu khilafah yang pernah berjaya selama 1300 tahun yang dapat memanusiakan manusia sesuai dengan fitrahnya.
Wallahubissawab….

