Site icon

Membaca Hasil PISA 2025: Jangan Terjebak Angka, Saatnya Mengubah Cara Kita Mengajar dan Belajar

WhatsApp Image 2026-09-23 at 09.20.26

Oleh: Bayumi, AP., SE., M.Si. (Ketua Komunitas dan Praktisi Pendidikan)

Setiap kali hasil Programme for International Student Assessment (PISA) diumumkan, perhatian publik Indonesia hampir selalu tertuju pada satu pertanyaan: Indonesia berada di posisi berapa?
Pertanyaan itu penting, tetapi sesungguhnya bukan pertanyaan yang paling penting.
PISA seharusnya tidak dibaca sekadar sebagai kompetisi peringkat antarnegara. PISA adalah cermin yang membantu kita melihat apakah anak-anak usia 15 tahun telah memiliki kemampuan untuk memahami informasi, bernalar, memecahkan masalah, menggunakan pengetahuan dalam situasi baru, serta mengambil keputusan berdasarkan bukti.

Hasil PISA 2025 yang dirilis OECD pada 8 September 2026 memberikan gambaran yang jauh lebih kompleks daripada sekadar naik atau turun peringkat. Indonesia memperoleh skor 389 untuk sains, 365 untuk membaca, dan 364 untuk matematika. Dibandingkan PISA 2022, sains dan membaca masing-masing meningkat enam poin, sedangkan matematika turun dua poin.

Bagi saya sebagai praktisi pendidikan, angka tersebut harus dibaca dengan dua sikap sekaligus: mengapresiasi kemajuan, tetapi menolak untuk berpuas diri.
Ada Kemajuan, Tetapi Jangan Cepat Merayakannya

Kenaikan enam poin pada sains dan membaca merupakan sinyal positif. Terlebih PISA 2025 berlangsung ketika banyak negara OECD mengalami penurunan kinerja dalam matematika dan membaca. OECD bahkan mencatat rata-rata OECD pada matematika dan membaca mencapai titik terendah dalam sejarah PISA. Namun, membandingkan diri dengan negara yang sedang mengalami penurunan tidak boleh membuat kita kehilangan perspektif. Karena masalah mendasarnya masih sangat besar.

Menurut OECD, hanya sekitar 37 persen murid Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam sains, sekitar 27 persen dalam membaca, dan hanya sekitar 17 persen dalam matematika. Level 2 merupakan ambang kompetensi minimum yang menunjukkan bahwa murid mulai mampu menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi situasi yang relatif sederhana. Artinya, persoalan kita bukan semata-mata bagaimana menaikkan skor rata-rata.

Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana memastikan mayoritas anak Indonesia memiliki kompetensi minimum untuk hidup, belajar, bekerja, dan mengambil keputusan secara rasional. Di sinilah hasil PISA 2025 seharusnya menjadi alarm bagi dunia pendidikan.

Masalah Kita Bukan Sekadar “Anak Kurang Pintar”
Ada kecenderungan untuk membaca hasil PISA dengan cara sederhana: skor rendah berarti siswa kurang belajar, guru kurang mampu mengajar, atau kurikulum terlalu sulit.

Persoalannya jauh lebih kompleks.
PISA mengukur kemampuan menerapkan pengetahuan dalam konteks kehidupan nyata. Karena itu, rendahnya capaian tidak otomatis menunjukkan bahwa anak Indonesia tidak memiliki pengetahuan. Bisa jadi mereka mengetahui rumus, tetapi tidak mampu menentukan kapan rumus tersebut digunakan. Mereka mungkin mampu menghafalkan definisi pencemaran lingkungan, tetapi belum tentu mampu menganalisis data kualitas air sungai dan menyusun argumentasi berbasis bukti. Mereka mungkin mampu menghitung persentase dalam soal matematika rutin, tetapi mengalami kesulitan ketika persentase tersebut muncul dalam konteks diskon, inflasi, transaksi digital, risiko pinjaman, atau interpretasi grafik. Mereka mungkin mampu menjawab pertanyaan berdasarkan teks, tetapi belum tentu mampu membedakan fakta, opini, klaim, bukti, dan informasi yang menyesatkan. Inilah jurang antara “belajar untuk menjawab soal” dan “belajar untuk memahami kehidupan”.

Matematika Adalah Alarm yang Tidak Boleh Diabaikan
Penurunan matematika dari 366 pada 2022 menjadi 364 pada 2025 tampak kecil. Namun persoalannya menjadi jauh lebih serius ketika kita melihat tingkat kompetensi.

Hanya sekitar 17 persen murid Indonesia mencapai Level 2 atau lebih dalam matematika. OECD menjelaskan bahwa pada tingkat minimum ini, siswa setidaknya mampu mengenali atau merepresentasikan situasi sederhana secara matematis tanpa instruksi langsung.
Pertanyaan pentingnya bukan: “Mengapa nilai matematika turun dua poin?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Mengapa sebagian besar anak usia 15 tahun belum mampu menggunakan matematika untuk membaca dan memecahkan persoalan sederhana dalam kehidupan?”

Ini harus menjadi perhatian serius. Sebab dunia yang mereka masuki justru semakin numerik.
Mereka akan berhadapan dengan cicilan, bunga, inflasi, pajak, data statistik, grafik, algoritma, peluang, risiko investasi, transaksi digital, keamanan siber, bahkan informasi berbasis kecerdasan artifisial.
Dengan kata lain, numerasi bukan lagi sekadar kemampuan akademik. Numerasi adalah kemampuan bertahan hidup di masyarakat modern.

Literasi Tidak Boleh Berhenti pada Kemampuan Membaca
Kenaikan skor membaca menjadi 365 merupakan perkembangan positif. Tetapi literasi abad ke-21 menuntut lebih dari sekadar membaca teks.

Seorang anak harus mampu bertanya: Siapa yang membuat informasi ini? Apa buktinya? Apakah sumbernya dapat dipercaya? Apakah data tersebut lengkap? Apakah ada bias? Apa perbedaan antara fakta dan opini?

Kemampuan seperti ini semakin penting ketika anak-anak hidup dalam ekosistem media sosial, video pendek, clickbait, deepfake, dan konten yang dihasilkan AI.

OECD mencatat bahwa PISA 2025 juga memasukkan kemampuan pemecahan masalah komputasional serta aspek pembelajaran dalam dunia digital. Data Indonesia menunjukkan adanya modal yang menarik pada kemampuan tersebut, termasuk keterlibatan siswa dalam menilai kredibilitas konten yang dihasilkan AI.

Ini menunjukkan sesuatu yang penting: Anak Indonesia bukan tidak memiliki potensi. Tantangannya adalah bagaimana sistem pendidikan mengubah potensi tersebut menjadi kompetensi yang konsisten.

Jangan Menyalahkan Guru, tetapi Guru Harus Berubah
Membaca hasil PISA tidak boleh berakhir pada menyalahkan guru. Guru bekerja di tengah berbagai tuntutan: administrasi, keberagaman kemampuan siswa, keterbatasan waktu, tuntutan kurikulum, perubahan teknologi, dan ekspektasi masyarakat.

Namun pada saat yang sama, hasil PISA juga mengingatkan bahwa praktik pembelajaran di kelas harus terus berubah.
Jika pembelajaran masih didominasi: guru menjelaskan, siswa mencatat, siswa menghafal, guru memberikan soal, siswa mencari satu jawaban benar, maka kita tidak boleh berharap secara otomatis lahir generasi yang mampu bernalar kompleks. PISA justru menuntut kemampuan yang berbeda: memahami → menghubungkan → menganalisis → mengevaluasi → memecahkan masalah → mengambil keputusan. Karena itu, pembelajaran mendalam tidak boleh hanya menjadi istilah dalam dokumen sekolah, ia harus terlihat nyata di kelas.

Dari “Apa Jawabannya?” Menjadi “Mengapa Kamu Berpikir Begitu?”
Menurut saya, perubahan paling penting yang dapat dilakukan guru adalah mengubah jenis pertanyaan. Misalnya dari pertanyaan, apa yang dimaksud globalisasia menjadi Bagaimana globalisasi memengaruhi kehidupan remaja di lingkunganmu yang dapat kamu buktikan?, atau dari pertanyaan apa penyebab pencemaran sungai? Menjadi sebuah kasus analisis yang bisa dijelaskan seperti Data menunjukkan volume sampah plastik meningkat dalam tiga bulan terakhir. Apa kemungkinan penyebabnya? Bukti apa yang kamu perlukan untuk membuktikan dugaan tersebut? atau dari pertanyaan apa fungsi uang? Menjadi, Seorang siswa memiliki uang Rp100.000 dan ingin membeli barang seharga Rp85.000 melalui dompet digital. Ia memperoleh tawaran diskon 20 persen tetapi dikenakan biaya layanan. Apakah transaksi tersebut benar-benar lebih murah? Jelaskan perhitungan dan alasanmu.

Inilah pembelajaran yang mendekati karakter soal PISA: Konteks nyata + data + masalah + penalaran + argumentasi + keputusan.

Sekolah Harus Menjadi Laboratorium Kehidupan
Ada satu kesalahan yang perlu kita tinggalkan: menganggap literasi dan numerasi hanya tanggung jawab guru Bahasa Indonesia dan Matematika. Padahal itu Tidak. Ketika siswa membaca grafik pertumbuhan penduduk, itu literasi dan numerasi dalam IPS. Ketika siswa menganalisis pencemaran sungai berdasarkan data, itu literasi, numerasi, dan sains. Ketika siswa menghitung penggunaan energi listrik sekolah, itu numerasi dan sains. Ketika siswa mengevaluasi informasi di media sosial, itu literasi digital dan berpikir kritis. Ketika siswa menganalisis risiko transaksi e-wallet, mobile banking, atau aset digital, itu literasi finansial sekaligus literasi digital.

Dengan demikian, PISA seharusnya mendorong perubahan budaya belajar seluruh sekolah, bukan hanya program tambahan menjelang asesmen.

Lima Agenda Perubahan yang Menurut Saya Mendesak
1. Jadikan penalaran sebagai ‘jiwa’ pembelajaran: Setiap mata pelajaran perlu memiliki ruang bagi siswa untuk menjelaskan alasan, membandingkan bukti, menemukan hubungan, memecahkan masalah, dan mempertahankan pendapat berdasarkan data.
2. Kurangi budaya soal rutin: Latihan soal tetap diperlukan, tetapi jangan sampai siswa hanya dilatih mengenali pola soal. Siswa perlu menghadapi masalah yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
3. Bangun budaya membaca lintas mata pelajaran: Setiap hari siswa perlu berhadapan dengan teks, tabel, grafik, infografis, data, berita, atau informasi digital. Bukan sekadar membaca, mereka harus menganalisis dan mempertanyakan apa yang dibaca.
4. Integrasikan numerasi ke kehidupan nyata: Numerasi harus hadir dalam IPS, IPA, Bahasa Indonesia, Informatika, Prakarya, bahkan kegiatan kesiswaan. Gunakan data sekolah sebagai bahan belajar: kehadiran, penggunaan listrik, sampah, kantin, dan lingkungan.
5. Jadikan asesmen sebagai alat diagnosis: Asesmen tidak seharusnya hanya menghasilkan angka. Guru harus dapat mendiagnosis konsep apa yang belum dikuasai dan jenis penalaran apa yang belum berkembang.

PISA Harus Bertemu dengan Realitas Sekolah
Kemendikdasmen telah menyampaikan empat pilar tindak lanjut PISA 2025: penguatan kompetensi guru, peningkatan kualitas pembelajaran, harmonisasi asesmen dengan kompetensi bernalar, serta penguatan peran keluarga.

Menurut saya, tantangan terbesar berikutnya adalah memastikan empat pilar tersebut tidak berhenti pada level kebijakan. Ia harus turun menjadi praktik yang dapat dilihat di ruang kelas.

Guru membutuhkan pelatihan yang berbasis praktik, bukan hanya seminar. Sekolah membutuhkan pendampingan, bukan sekadar instruksi. Guru membutuhkan contoh bagaimana mengubah Tujuan Pembelajaran menjadi pertanyaan bernalar. Guru membutuhkan bank konteks lokal, bukan sekadar bank soal.

Dan siswa membutuhkan pengalaman belajar yang membuat mereka berpikir: “Saya belajar ini karena saya membutuhkannya untuk memahami kehidupan.”

Indonesia Memiliki Modal yang Tidak Kecil
PISA 2025 juga memberikan pesan positif yang tidak boleh kita abaikan.

Indonesia berhasil meningkatkan cakupan siswa usia 15 tahun yang berada dalam sistem pendidikan formal secara signifikan. OECD mencatat sekitar 90 persen populasi usia 15 tahun terwakili dalam sistem pendidikan pada PISA 2025, jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar 46 persen pada 2003.

Ini berarti tantangan pendidikan Indonesia sekarang semakin bergeser. Dulu pertanyaannya: “Bagaimana membawa anak ke sekolah?” Sekarang pertanyaan berikutnya harus: “Bagaimana memastikan setiap anak yang berada di sekolah benar-benar belajar secara bermakna?”

Jangan Mengejar PISA, Kejarlah Kompetensi
Ada bahaya jika sekolah menjadikan PISA sebagai target baru. Sekolah bisa saja mulai membuat “latihan PISA”, mengumpulkan soal PISA, atau mengadakan simulasi PISA secara rutin. Jika itu dilakukan tanpa perubahan pembelajaran, kita hanya akan menghasilkan “drilling PISA”.

Padahal tujuan pendidikan bukan membuat siswa pandai menjawab soal PISA. Tujuan pendidikan adalah membuat siswa mampu menghadapi kehidupan. Karena itu, jangan mengejar PISA. Kejarlah kompetensi yang diukur PISA.

Dari Angka Menuju Aksi
PISA 2025 memberikan kita tiga pesan besar:
Ada kemajuan yang patut diapresiasi (sains dan membaca naik 6 poin).
Pekerjaan rumah masih sangat besar (proporsi kompetensi minimum masih rendah).
Perubahan tidak boleh berhenti pada kebijakan, melainkan harus terjadi di ruang kelas.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya berapa tinggi skor PISA. Ukuran yang lebih penting adalah apakah seorang anak yang lulus SMP mampu membaca dunia dengan kritis, menggunakan angka dengan masuk akal, memahami persoalan lingkungannya, membedakan informasi yang benar dan menyesatkan, bekerja sama dengan orang lain, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

PISA 2025 bukan rapor merah. Bukan pula rapor hijau. Ia adalah cermin.
Sudah waktunya pendidikan Indonesia berhenti terlalu sibuk mengajarkan anak menemukan jawaban, dan mulai lebih serius mengajarkan mereka bagaimana berpikir. Sebab masa depan bangsa tidak dibangun oleh anak-anak yang paling banyak menghafal. Masa depan dibangun oleh anak-anak yang mampu memahami persoalan, menguji bukti, berpikir jernih, dan bertindak dengan alasan.

Masa depan pendidikan Indonesia tidak ditentukan oleh angka PISA semata, tetapi oleh apa yang terjadi setiap hari ketika seorang guru bertanya kepada muridnya: “Mengapa kamu berpikir demikian? ***

Exit mobile version