Site icon

Menakar Dampak Kemenangan Taliban di Afganistan

WhatsApp Image 2021-09-02 at 20.05.15

Oleh : Widya

Kelompok Taliban berhasil menduduki pemerintahan Afganistan. Pakar terorisme dari Universitas Indonesia (UI) Ridlwan mengatakan bahwa kemenangan Taliban ini bisa memicu semangat kelompok radikal untuk mendirikan negara Islam.

Mulanya, bahwa kemenangan Taliban ini sekaligus menjadi kekalahan ISIS. Selain itu, Taliban sedari dulu memang menolak ISIS yang menciptakan daulah sendiri. Taliban tidak setuju dengan ISIS yang menciptakan daulah sendiri, karena itu mereka tidak akan mengijinkan ISIS tumbuh di Afganistan.

Kemenangan Taliban ini, menurut Ridlwan, tidak akan secara langsung membuat gerakan terorisme di Indonesia menjadi lebih kuat. Namun kemenangan Taliban bisa menginspirasi kelompok radikal untuk menciptakan negara Islam. “Secara langsung tidak, tapi spirit atau semangat untuk menciptakan negara Islam tentu bisa termotivasi. Tapi bisa menjadi semacam inspirasi atau penumbuh semangat bagi kelompok-kelompok yang ingin mengubah negara Pancasila menjadi negara Islam.

Seperti contoh pernyataan sikap kelompok Jama’ah Ansharu Syari’ah (JAS) yang didirikan oleh putra Abu Bakar Baasyir, Abdurahim Baasyir. JAS mensyukuri kemenangan Taliban dan mendukung Taliban menerapkan sistem negara Islam secara kaffah.

Dan Taliban menjanjikan pemerintahan yang berbeda tidak akan melakukan kekerasan. Sebelumnya, Taliban berjanji untuk tidak melakukan ‘balas dendam’ terhadap lawan-lawan mereka di Afganistan. Hal itu disampaikan dalam konferensi pers perdana yang mereka gelar.

Pengumuman Taliban disampaikan setelah kembalinya salah satu pendiri mereka, Mullah Abdul Ghani Baradar, ke Afganistan. Kelompok itu kembali berkuasa setelah digulingkan dalam invasi yang dipimpin AS hampir 20 tahun terakhir.

Puluhan ribu orang telah mencoba melarikan diri dari negara itu karena takut terhadap pemerintahan Islam garis keras yang diperkirakan bakal dilakukan Taliban. Mereka takut akan pembalasan langsung karena berpihak pada pemerintah yang didukung Barat yang berkuasa selama dua dekade terakhir.

Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengatakan rezim baru akan ‘berbeda secara positif’ dari masa kepemimpinan mereka pada 1996-2001, yang terkenal dengan kematian rajam dan melarang perempuan bekerja dengan laki-laki.

Seharusnya jika publik mengikuti dengan jeli pemberitaan serta berbagai analisis dari berbagai pengamat politik internasional, akan didapati bahwa Taliban saat ini bukanlah Taliban yang berjuang menerapkan Islam secara kaffah, melainkan Taliban yang siap diajak kompromi dan berunding lewat perjanjian. Terbukti dengan adanya Perjanjian Doha yang telah disepakati antara AS dan Taliban.

Taliban sendiri akhirnya terperangkap dengan perundingan bersama AS, hingga mudah bagi AS untuk memainkan aktornya (Taliban) sebagai alat kepentingan mereka. Hal ini merupakan operasi politik yang biasa digunakan AS.

Seharusnya, Taliban mencampakkan seluruh perundingan dengan AS dan memperjuangkan serta menerapkan sistem Islam secara kaffah. Bukan sebatas klaim dan teori jika dikatakan akan berdiri sebagai rezim Islam tetapi masih menjalankan nilai-nilai Barat.

Taliban juga tidak seharusnya jatuh ke dalam politik pragmatis, melainkan memerangi penindas dengan konsisten dan sabar, hingga tujuan utama dapat dicapai yaitu menerapkan Islam secara total di seluruh dunia—bukan hanya skala regional.

Kecil kemungkinan bahkan kecil harapan umat Islam atas Taliban untuk mengubah pemerintah ke arah Islam. Taliban tidak dapat dijadikan role model untuk gerakan Islam dalam memperjuangkan Islam kaffah. Sebab, Taliban bisa saja terjebak ke dalam berbagai negosiasi serta kesepakatan bersama dengan AS sang tuan imperialis.

Kalau saja taliban ingin menerapkan syariat Islam maka perjuangan harus ditempuh seperti yang dicontohkan oleh Rasululah SAW pada saat beliau hijrah di Madinah. Di sinilah awal Daulah Islam berdiri tidak dilakukan dengan kekerasan juga tidak dengan berdarah darah atau kudeta.

Walaupun di dalam Daulah ada orang yang non-Islam. Rasulullah SAW membuat perjanjian kepada orang non- Islam pada waktu itu untuk patuh dan tunduk terhadap peraturan Daulah Islam bukan sebaliknya. Justru terikat dengan perjanjian kesepakatan bersama musuh-musuh Islam. Di samping itu, sudah semestinya mempersiapkan umat untuk bersama menegakkan negara Islam.

Juga tidak kala penting untuk membangun dan pembentukan opini umum tentang pemerintahan Islam yang berasal dari kesadaran umum akan penting dan wajibnya menegakkan pemerintahan Islam secara kaffah ,melalui an-nushrah (dukungan/ pertolongan). Pada ahlul kuah maka Negara Islam yang akan ditegakkan tentu bukan secara regional, melainkan global dan menyeluruh. Maka, tidak seharusnya gerakan yang memperjuangkan tegaknya Islam berkompromi dengan musuh-musuh Islam.

Jika Taliban menginginkan Islam diterapkan sudah menjadi kewajiban bagi Taliban dan seluruh umat Islam untuk segerah membaiat seorang khalifah tentu saja dalam sistem khilafah karena hanya dalam hanya khilafahlah yang akan mengatur urusan umatnya sesuai dengan perintah dan larangan Allah SWT.

Wallahubissawab….

Exit mobile version